KAI Alokasikan Rp 9,18 Triliun PMN untuk KRL Jabodetabek

Ningsih R. · 2 min baca · 1 jam lalu · 29 dibaca
Bisik.id
KAI Alokasikan Rp 9,18 Triliun PMN untuk KRL Jabodetabek

Gambar atau konten salah?

JakartaPT Kereta Api Indonesia (Persero), atau biasa dipanggil KAI, baru saja mengungkapkan rincian penggunaan Penyertaan Modal Negara (PMN) yang diterima pada tahun 2024 dan 2025. Menurut Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, dana tersebut sudah dan sedang dialokasikan untuk pengadaan sarana Kereta Rel Listrik (KRL) di wilayah Jabodetabek.

Bobby menjelaskan bahwa PMN tahun 2024 sebesar Rp 2 triliun diterima KAI pada 05 Januari 2025. Dana tersebut kemudian diteruskan ke PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) pada 25 Maret 2025. Semua uang tersebut terserap 100 % untuk proyek pengadaan KRL. “Kami menerima ini di 31 Desember 2025 senilai Rp 1,8 triliun dan kami telah meneruskan ke PT KCI tertanggal 20 Mei 2026, di mana telah ter-spending yaitu Rp 744,46 miliar itu kepada PT INKA,” ujar Bobby di Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (08 Juni 2026).

Menurutnya, dana tersebut sudah dibayarkan kepada PT INKA untuk mendukung penyelesaian proyek pengadaan sarana KRL. Sisa dana sekitar Rp 1,055 triliun akan dicairkan secara bertahap mengikuti progres pengerjaan kereta. “Sehingga sisa saldo yang ada untuk PMN 2025 ini senilai Rp 1,055 triliun yang proyeksinya akan kita spending sesuai dengan progress dari penyelesaian 9 trainset yang sudah ada di PT INKA sesuai dengan recovery schedule-nya yaitu diharapkan penyelesaiannya itu di bulan September tahun 2026,” tuturnya.

Pengadaan sarana KRL Jabodetabek dianggap penting karena jumlah penumpang naik 4 % tiap tahun dan diproyeksikan mencapai 437 juta pengguna pada 2030. Saat ini, sebagian besar armada KRL beroperasi masih berupa kereta bekas impor dari Jepang yang berusia lebih dari tiga dekade. KAI mencatat terdapat 780 unit KRL eks JR 205 dan 128 unit eks Tokyo Metro yang berusia antara 34 hingga 41 tahun.

Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang sekaligus mengganti armada yang memasuki masa konservasi, KAI bersama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menjalankan proyek pengadaan sarana KRL senilai Rp 9,18 triliun. “Proyek pengadaan sarana KRL Jabodetabek ini, total nilai proyek itu Rp 9,18 triliun, di mana terdiri, pembiayannya terdiri dari dukungan pemerintah melalui PMN Rp 5,3 triliun 58%, kemudian pengadaan dengan kas internal PT KCI sekitar Rp 0,19 triliun dan kredit sindikasi pinjaman perbankan sebanyak Rp 3,69 triliun,” ujarnya.

Proyek tersebut mencakup pengadaan KRL baru dari dalam negeri dan impor hingga program retrofit atau peremajaan armada. Rinciannya: Rp 3,8 triliun untuk pengadaan KRL baru dengan INKA, Rp 2,45 triliun pengadaan KRL baru impor dan pengadaan KRL retrofit dari CRRC, serta Rp 2,05 triliun untuk pengadaan KRL baru dari INKA.

“Rp 9,18 triliun ini ada 5 step, 5 stagingnya, satu adalah pengadaan KRL baru sebanyak 16 trainset, ini dengan PT INKA senilai Rp 3,8 triliun, kita telah melakukan adendum terhadap kontraknya di Desember 2025. Kemudian ada 2 pengadaan dengan CRRC Tiongkok, itu senilai Rp 0,83 triliun plus dengan Rp 2,2 triliun 11 trainset,” tutup Bobby.

Dengan alokasi dana yang jelas dan rencana pengadaan yang terstruktur, KAI berusaha memastikan jaringan KRL Jabodetabek dapat menampung pertumbuhan penumpang yang terus meningkat. Proyek ini menandai langkah konkret pemerintah dan sektor swasta dalam memperkuat infrastruktur transportasi publik di wilayah metropolitan Jakarta.

Penyertaan Modal NegaraKAIKRLPT INKAPT KCIJabodetabek

Komentar

Memuat komentar...