Usaha Rumah Tangga Cangcomak Jadi UMKM Populer Berkat BRI
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Makanan ringan ini cocok dijadikan teman saat bersantai, apalagi dikemas secara praktis dan kekinian. Siapapun yang mencoba camilan ini hati‑hati ketagihan. Kudapan ini bernama Cangcomak alias Kacang Coklat Emak. Berbeda dengan kacang coklat pada umumnya, camilan satu ini memiliki tekstur yang kering dan renyah. Tak heran, produk ini sukses jadi salah satu favorit konsumen.
Itulah keunggulan utama yang ditawarkan Cangcomak, produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) binaan Rumah BUMN BRI. Bisnis ini diproduksi dan dikembangkan oleh seorang ibu rumah tangga bernama Salmi Sufraini (43) sejak tahun 2019.
Di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, Sabtu, 07 Juni 2026, Salmi berbagi kisah inspiratifnya dalam membangun usaha rumahan ini dari nol hingga berhasil naik kelas, bahkan sempat menembus jaringan ritel modern.
Menurutnya, Cangcomak bukanlah produk yang tercipta secara instan. Camilan ini memiliki sejarah panjang yang berakar dari resep rahasia keluarga sejak tahun 1965. Kudapan ini awalnya merupakan kue wajib yang dibuat keluarganya setahun sekali, tepatnya untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Ibu Salmi mendapatkan resep tersebut saat masih duduk di bangku sekolah pada tahun 1965.
“Ini idenya dari rumah. Kan resep orang tua, makanya dinamakan Cangcomak (Kacang Coklat Emak). Jadi memang resep turun‑temurun, baru turun satu generasi dari Emak,”
kisah Salmi sembari tersenyum. Lantas, apa yang membuat Cangcomak begitu istimewa? Rahasianya terletak pada proses produksinya yang menggunakan bahan dasar kacang pilihan yang dimasak dengan cara dipanggang bukan digoreng.
“Kacang di‑coating (dibalut) coklat lalu dipanggang. Jadinya tidak lengket, tidak berminyak karena tidak digoreng, dan tidak lumer. Biasanya kan coklat kalau kena panas lumer, nah ini malah crunchy,”
jelas Salmi. Ia menuturkan metode pembuatannya juga dilakukan secara tradisional demi menjaga kualitas rasa. Ia sengaja tidak memproses bahan baku dalam jumlah besar sekaligus, melainkan dibuat secara manual per satu kilogram.
“Bikinnya itu autentik banget. Jadi 1 kg resep dibuat dan dipanggang, bukan yang langsung dalam bentuk bulky berat 10 kg sekaligus, nggak. Kualitasnya dijaga di situ,”
terangnya.
Berikut tiga varian rasa Cangcomak (Kacang Coklat Emak) yang kini tersedia: choco peanut, choco cashews, dan almond. Harga mulai Rp 10.000 hingga Rp 75.000 per item.
Selama ini, Salmi memulai usaha ini di akhir tahun 2019 dengan modal Rp 750 ribu. Dari modal tersebut lahirlah produk pertama Cangcomak berupa kacang tanah berlapis cokelat dengan tekstur renyah, yang laris manis dibeli oleh saudara dan teman dekatnya.
Seiring berjalannya waktu, resep warisan ibunya mulai dikembangkan mengikuti selera konsumen. Tingkat kemanisan dikurangi, cokelat biasa diganti dark chocolate, hingga muncul dua varian baru, seperti mete dan almond.
Namun, Salmi mengakui bahwa membangun usaha makanan ternyata tak semudah yang dibayangkannya. Ia mengaku sempat benar-benar buta soal legalitas produk pangan yang wajib dipenuhinya sebelum memperluas skala penjualannya.
“Demi memahami cara menjual produk makanan secara resmi, ia proaktif mendatangi kantor kelurahan, kecamatan, hingga mengikuti pelatihan keamanan pangan demi memahami cara menjual produk makanan secara resmi. Perlahan tapi pasti, izin PIRT (pangan industri rumah tangga), sertifikasi halal, hingga HAKI untuk merek usahanya berhasil ia kantongi.”
“Jadi benar-benar belajar dari nol. Karena kalau mau usahanya berkembang harus kita siapkan legalitasnya,”
Di tahun 2020, Salmi memutuskan bergabung menjadi pelaku usaha binaan Rumah BUMN BRI. Di sinilah mentalitasnya diuji, dari yang semula seorang ibu rumah tangga yang sekadar berdagang, bertransformasi menjadi seorang pemilik bisnis berjiwa entrepreneur.
“Yaudah jadi dipaksa suruh belajar. Belajar di dunia digital. Dari yang kita tidak tahu tentang cara mengelola usaha biar tidak salah arah, di situ kita diarahkan dan difokuskan,”
cerita Salmi. Pada awal ia bergabung, jumlah anggota binaan belum sebanyak sekarang. Hal ini membawa keuntungan tersendiri bagi Salmi karena ia bisa mendapatkan pendampingan yang sangat intensif, bahkan bisa mengenal dekat para mentor dan pihak BRI.
Untuk Salmi, posisi Cangcomak saat masuk ke Rumah BUMN BRI sudah dalam kondisi “setengah matang” karena kualitas produk dan legalitas dasar yang sudah ia persiapkan sendiri dari nol. Melalui berbagai pelatihan di Rumah BUMN, ia tinggal mematangkan strategi bisnisnya agar lebih melesat.
“Balik lagi ke personal owner‑nya, mau belajar apa enggak? Kalau punya mindset bisnis owner, kita enggak boleh cuma mikirin jualan doang, tapi bagaimana mengembangkan usaha ini,”
tegasnya. Komitmen Salmi untuk terus belajar pun berbuah manis. Melalui jaringan BRI, Cangcomak menerima berbagai manfaat dan fasilitas berharga yang sangat membantu memangkas biaya operasional usaha rumahannya.
“Dulu dari BRI banyak banget aku dapat fasilitasnya. Pelatihan sudah pasti. Terus dapat kemasan gratis, hingga sertifikasi halal gratis,”
ungkapan Salmi. Salah satu momen yang paling berkesan bagi Salmi adalah saat mendapatkan fasilitas cetak kemasan gratis. Saat itu, Kementerian BUMN melalui BRI memiliki konsep untuk membantu meringankan beban investasi kemasan bagi UMKM melalui sistem cetak massal.
“Cangcomak yang memiliki tiga varian produk langsung mendapatkan kuota cetak gratis sebanyak 3.000 pieces kemasan dengan desain modern.”
“Saya sampai kaget, ini bagaimana jualannya segini banyak?”
kenang Salmi sambil tertawa mengingat masa‑masa awal ia menerima ribuan kemasan siap pakai tersebut. Berkat kemasan baru dan dukungan BRI, permintaan Cangcomak kala itu terus melonjak. Dalam satu kali produksi, Salmi bisa mengolah hingga 10 kilogram bahan baku yang menghasilkan 100 hingga 200 pack Cangcomak. Jika pesanan sedang ramai, proses produksi ini bahkan bisa dilakukan setiap dua hari sekali.
Perjalanan Cangcomak bersama BRI juga membawa Salmi melangkah ke ranah digital melalui sistem scoring di platform Link UMKM. Saat ini, Cangcomak berada di Kelas 2, yang berarti telah sukses melewati tahap Go Online dan kini berada di tahap Go Digital.
“Digitalisasinya sudah dapat semua. Belajar Shopee, Instagram, sampai TikTok. Semuanya dicoba, termasuk e‑commerce lain,”
jelasnya. Tak hanya digitalisasi, Salmi juga sering dilibatkan dalam berbagai pameran eksklusif dengan kurasi yang sangat ketat, termasuk berpartisipasi dalam ajang bergengsi BRIlianpreneur pada masa peralihan pascapandemi tahun 2022‑2023.
Berkat produknya yang terus berkembang, Cangcomak sempat masuk jaringan ritel modern pada masa Pandemi COVID‑19. Namun, sistem konsinyasi yang diterapkan membuat arus kas usahanya terganggu sehingga kerja sama tersebut tak bertahan lama.
“Kini, di tengah kondisi ekonomi yang dinilainya sedang lesu, Salmi memilih fokus bertahan sambil terus berinovasi. Menurutnya, daya beli masyarakat mulai menunjukkan menurun sejak akhir 2025 sehingga omzet ikut terdampak.”
Sejak awal, produk Cangcomak hanya melayani pesanan orang‑orang terdekat. Kini jangkauannya telah meluas ke berbagai wilayah di Indonesia berkat pemasaran digital melalui e‑Commerce.
Di masa depan, Salmi berharap Cangcomak bisa terus bertahan dan semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sebagai camilan premium yang autentik. Ia juga bermimpi bisa memperluas kapasitas produksinya dan menelurkan berbagai inovasi produk baru.
Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana, mengatakan Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah bagi para pelaku usaha lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan secara gratis untuk membantu menemani UMKM dari awal hingga naik kelas seperti Cangcomak.
“Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program‑program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam‑macam, jadi program‑program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut,”
Jajang mengungkapkan UMKM saat pertama kali bergabung Rumah BUMN BRI akan diarahkan untuk mengisi scoring di Link UMKM. Hasilnya akan menjadi semacam rapor awal berbentuk sertifikat yang memetakan 3 aspek terunggul dan 3 aspek terendah dari usaha tersebut.
“Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya,”
terangnya. Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan.
Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi,”
menjelaskan Jajang. Dengan dukungan BRI, Cangcomak kini dapat memanfaatkan fasilitas cetak kemasan gratis, pelatihan digital, serta akses ke jaringan ritel dan e‑commerce. Kombinasi ini membantu usaha kecil ini tetap bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Di tengah tantangan ekonomi, inovasi dan komitmen terhadap kualitas tetap menjadi kunci keberlanjutan Cangcomak di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
DPRD Nganjuk Sampaikan Raperda APBD 2025, WTP Ke-9 Terbukti
Daihatsu Xenia 2009 Dijual Lelang Mulai Rp30 Juta Di Jakarta
Kemenperin: Rupiah Murah, Manufaktur Pesaing Memperkuat LCS
Operasi Patuh Musi 2026 Ditunda Hingga 1 Juli, Polda Sumsel
BRIN-Umi Perkuat Riset Strategis di Konferensi Makassar 2026
Menteri Kesehatan: Tingkatkan Karier Dokter Puskesmas
Sentul Menayangkan Lima Rute Trekking Terbaik di Kemarau
PKH Tahap Kedua 2026 Akhir Triwulan Kedua, Batas Juni
Persija Jakarta Kenakan Shin Tae-yong Sebagai Pelatih Baru
XLSmart Gelar Bravo 500 Summit 2026, Digital di Indonesia
