Kamboja Kaji Ulang Wisata Malam di Angkor

Nurul H. · 7 min baca · 1 jam lalu · 4 dibaca
Bisik.id
Kamboja Kaji Ulang Wisata Malam di Angkor

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Kamboja saat ini sedang meninjau kembali rencana untuk membuka kawasan Taman Arkeologi Angkor sebagai destinasi wisata malam. Rencana ini memicu diskusi hangat di kalangan pelaku industri pariwisata, yang mengingatkan agar upaya pelestarian candi-candi kuno tidak dikorbankan demi mengejar jumlah kunjungan wisatawan.

Gagasan untuk menawarkan tur malam di kompleks Angkor sebenarnya bukanlah hal yang baru. Pemerintah Kamboja sebelumnya pernah menguji coba program serupa pada tahun 2009. Namun, program tersebut akhirnya dihentikan karena muncul kekhawatiran serius terkait keselamatan wisatawan dan dampak negatifnya terhadap kelestarian candi yang telah berusia lebih dari seribu tahun.

Meskipun sempat gagal, wacana ini kembali mencuat. Pada 16 Juni lalu, Pemerintah Kamboja membentuk kelompok kerja lintas kementerian untuk mengkaji ulang rencana tersebut. Tim ini dipimpin langsung oleh Menteri Pariwisata Kamboja, Huot Hak. Tugas utama kelompok kerja ini adalah mengoordinasikan pengembangan wisata berbasis film dan kunjungan malam ke kompleks Angkor sebagai bagian dari upaya menciptakan produk wisata baru yang diharapkan bisa menjadi daya tarik tambahan bagi turis.

Pelaku industri pariwisata melihat peluang ini masih layak untuk dikembangkan. Tur malam dinilai dapat memperkaya pilihan atraksi wisata di Kamboja dan mendorong wisatawan untuk menghabiskan waktu lebih lama di Siem Reap, terutama saat musim sepi kunjungan pada musim hujan. Namun, mereka juga mengingatkan agar pelaksanaannya tidak justru mengancam kondisi bangunan bersejarah yang telah berdiri selama lebih dari seribu tahun.

You Khemara, seorang pemandu wisata berbahasa Prancis, menyatakan bahwa tur malam berpotensi menjadi pengalaman baru yang menarik bagi wisatawan sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian. Namun, ia tidak setuju jika program ini digelar sepanjang tahun. "Jika ini hanya diterapkan pada musim sepi wisatawan, manfaatnya akan terasa. Tetapi jika berlangsung sepanjang tahun, termasuk saat musim ramai, saya rasa itu bukan ide yang baik," kata Khemara.

Khemara juga menyoroti masalah teknis yang mungkin timbul. Menurutnya, penggunaan lampu berkekuatan tinggi dapat menimbulkan panas dan menarik serangga ke area candi. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi struktur batu bangunan kuno. "Pada musim panas, cahaya lampu yang kuat di malam hari bisa menarik banyak serangga ke struktur batu candi. Kombinasi panas pada siang hari dan aktivitas serangga pada malam hari tidak baik bagi monumen kuno ini," ujar dia.

Sea Sophal, mantan pemandu wisata yang kini menjabat sebagai Presiden NGO2 Bamboo Shoot Foundation, juga menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, wisata malam akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila melibatkan masyarakat di sekitar kawasan Angkor, bukan sekadar membuka akses berkunjung ke candi setelah matahari terbenam.

"Proyek ini bisa meningkatkan pendapatan pariwisata secara signifikan jika masyarakat lokal diberi kesempatan untuk terlibat. Selain mengunjungi candi, wisatawan dapat menikmati cerita sejarah dari warga, pertunjukan budaya berskala kecil, pasar kerajinan tangan, hingga kuliner tradisional Kamboja di desa-desa sekitar," ujar Sophal.

Ia menilai konsep tersebut juga dapat membuat wisatawan memperpanjang masa tinggal mereka di Siem Reap. Selama ini, kota tersebut lebih dikenal dengan Pub Street dan kawasan Old Market sebagai tujuan wisata malam. Dengan adanya tur malam di Angkor, wisatawan memiliki alternatif atraksi yang lebih beragam.

Di sisi lain, Sophal meminta Pemerintah Kamboja tidak terburu-buru merealisasikan rencana itu. Ia menekankan bahwa dampak pencahayaan buatan terhadap struktur batu pasir candi harus dikaji secara ilmiah dengan melibatkan para ahli konservasi dan teknis. Selain itu, aspek keamanan pengunjung, pengendalian kebisingan, kebersihan, hingga pengaturan jumlah wisatawan juga perlu dipersiapkan dengan matang.

"Secara keseluruhan saya optimistis, jika kemegahan candi kuno dipadukan dengan tradisi masyarakat setempat, Kamboja dapat menghadirkan produk wisata baru yang tidak hanya menarik wisatawan. Tetapi juga benar-benar meningkatkan kesejahteraan warga," katanya.

Direktur Jenderal Angkor Enterprise, Ly Se, mengatakan bahwa kelompok kerja yang baru dibentuk masih melakukan kajian awal. Oleh karena itu, belum ada keputusan terkait pembukaan tur malam. Ia memperkirakan Pemerintah Kamboja tidak akan langsung membuka seluruh kompleks candi, melainkan akan memilih satu candi sebagai proyek percontohan untuk mengukur minat wisatawan dan kelayakan program.

Menurut Ly Se, seluruh aspek, mulai dari keamanan, keselamatan pengunjung, konservasi, hingga permintaan pasar, harus dievaluasi secara menyeluruh sebelum kebijakan tersebut diterapkan. Pemerintah tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan tanpa kajian yang matang.

Wacana pembukaan wisata malam di Angkor sebenarnya sudah pernah dikaji sebelumnya. Pemerintah Kamboja sempat melakukan uji coba pada tahun 2009. Namun, program itu akhirnya dihentikan karena muncul kekhawatiran terkait keselamatan wisatawan serta dampaknya terhadap kelestarian candi.

You Khemara, seorang pemandu wisata berbahasa Prancis, mengatakan bahwa tur malam berpotensi menjadi pengalaman baru yang menarik bagi wisatawan sekaligus memberi dampak positif bagi perekonomian. Meski demikian, ia tidak setuju jika program itu digelar sepanjang tahun. "Jika ini hanya diterapkan pada musim sepi wisatawan, manfaatnya akan terasa. Tetapi jika berlangsung sepanjang tahun, termasuk saat musim ramai, saya rasa itu bukan ide yang baik," kata Khemara.

Khemara juga menyoroti masalah teknis yang mungkin timbul. Menurutnya, penggunaan lampu berkekuatan tinggi dapat menimbulkan panas dan menarik serangga ke area candi. Kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi struktur batu bangunan kuno. "Pada musim panas, cahaya lampu yang kuat di malam hari bisa menarik banyak serangga ke struktur batu candi. Kombinasi panas pada siang hari dan aktivitas serangga pada malam hari tidak baik bagi monumen kuno ini," ujar dia.

Sea Sophal juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat lokal dalam proyek ini. Menurutnya, wisata malam akan memberi manfaat yang lebih besar apabila masyarakat di sekitar kawasan Angkor dilibatkan, bukan sekadar membuka akses berkunjung ke candi setelah matahari terbenam. "Proyek ini bisa meningkatkan pendapatan pariwisata secara signifikan jika masyarakat lokal diberi kesempatan untuk terlibat. Selain mengunjungi candi, wisatawan dapat menikmati cerita sejarah dari warga, pertunjukan budaya berskala kecil, pasar kerajinan tangan, hingga kuliner tradisional Kamboja di desa-desa sekitar," ujar Sophal.

Ia menilai konsep tersebut juga dapat membuat wisatawan memperpanjang masa tinggal mereka di Siem Reap. Selama ini, kota tersebut lebih dikenal dengan Pub Street dan kawasan Old Market sebagai tujuan wisata malam. Dengan adanya tur malam di Angkor, wisatawan memiliki lebih banyak pilihan atraksi.

Sophal juga meminta Pemerintah Kamboja tidak terburu-buru merealisasikan rencana itu. Ia menilai dampak pencahayaan buatan terhadap struktur batu pasir candi harus dikaji secara ilmiah dengan melibatkan para ahli konservasi dan teknis. Aspek keamanan pengunjung, pengendalian kebisingan, kebersihan, hingga pengaturan jumlah wisatawan juga perlu dipersiapkan dengan matang.

Sementara itu, Direktur Jenderal Angkor Enterprise, Ly Se, mengatakan bahwa kelompok kerja yang baru dibentuk masih melakukan kajian awal. Sehingga belum ada keputusan terkait pembukaan tur malam. Ia memperkirakan Pemerintah Kamboja tidak akan langsung membuka seluruh kompleks candi, melainkan memilih satu candi sebagai proyek percontohan untuk mengukur minat wisatawan dan kelayakan program. Menurutnya, seluruh aspek, mulai dari keamanan, keselamatan pengunjung, konservasi, hingga permintaan pasar, harus dievaluasi secara menyeluruh sebelum kebijakan tersebut diterapkan.

Wacana ini muncul sebagai upaya untuk menciptakan daya tarik baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Kamboja. Dengan adanya tur malam, diharapkan wisatawan dapat menghabiskan waktu lebih lama di Siem Reap, terutama saat musim sepi kunjungan pada musim hujan. Namun, kekhawatiran terhadap dampak negatif pada struktur candi yang telah berdiri selama lebih dari seribu tahun tetap menjadi pertimbangan utama.

Pemerintah Kamboja membentuk kelompok kerja lintas kementerian pada 16 Juni lalu untuk mengkaji rencana ini. Tim yang dipimpin Menteri Pariwisata Kamboja, Huot Hak, bertugas mengoordinasikan pengembangan wisata berbasis film dan kunjungan malam ke kompleks Angkor sebagai bagian dari upaya menciptakan produk wisata baru.

Pelaku pariwisata menilai peluang ini masih layak dikembangkan. Tur malam dinilai dapat memperkaya pilihan atraksi wisata di Kamboja sekaligus mendorong wisatawan menghabiskan waktu lebih lama di Siem Reap, terutama saat musim sepi kunjungan pada musim hujan. Namun, mereka mengingatkan agar pelaksanaannya tidak justru mengancam kondisi bangunan bersejarah.

You Khemara mengatakan tur malam berpotensi menjadi pengalaman baru yang menarik bagi wisatawan sekaligus memberi dampak positif bagi perekonomian. Namun, ia tidak setuju jika program itu digelar sepanjang tahun. "Jika ini hanya diterapkan pada musim sepi wisatawan, manfaatnya akan terasa. Tetapi jika berlangsung sepanjang tahun, termasuk saat musim ramai, saya rasa itu bukan ide yang baik," kata Khemara.

Menurut Khemara, penggunaan lampu berkekuatan tinggi dapat menimbulkan panas dan menarik serangga ke area candi. Kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi struktur batu bangunan kuno. "Pada musim panas, cahaya lampu yang kuat di malam hari bisa menarik banyak serangga ke struktur batu candi. Kombinasi panas pada siang hari dan aktivitas serangga pada malam hari tidak baik bagi monumen kuno ini," ujar dia.

Sea Sophal, mantan pemandu wisata yang kini menjabat Presiden NGO2 Bamboo Shoot Foundation, juga menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, wisata malam akan memberi manfaat lebih besar apabila melibatkan masyarakat di sekitar kawasan Angkor, bukan sekadar membuka akses berkunjung ke candi setelah matahari terbenam.

"Proyek ini bisa meningkatkan pendapatan pariwisata secara signifikan jika masyarakat lokal diberi kesempatan untuk terlibat. Selain mengunjungi candi, wisatawan dapat menikmati cerita sejarah dari warga, pertunjukan budaya berskala kecil, pasar kerajinan tangan, hingga kuliner tradisional Kamboja di desa-desa sekitar," ujar Sophal.

Ia menilai konsep tersebut juga dapat membuat wisatawan memperpanjang masa tinggal mereka di Siem Reap. Selama ini, kota tersebut lebih dikenal dengan Pub Street dan kawasan Old Market sebagai tujuan wisata malam. Dengan adanya tur malam di Angkor, wisatawan memiliki alternatif atraksi yang lebih beragam dan bernilai budaya.

Di sisi lain, Sophal meminta Pemerintah Kamboja tidak terburu-buru merealisasikan rencana itu. Ia menilai dampak pencahayaan buatan terhadap struktur batu pasir candi harus dikaji secara ilmiah dengan melibatkan para ahli konservasi dan teknis. Selain itu, aspek keamanan pengunjung, pengendalian kebisingan, kebersihan, hingga pengaturan jumlah wisatawan juga perlu dipersiapkan dengan matang.

"Secara keseluruhan saya optimistis, jika kemegahan candi kuno dipadukan dengan tradisi masyarakat setempat, Kamboja dapat menghadirkan produk wisata baru yang tidak hanya menarik wisatawan. Tetapi juga benar-benar meningkatkan kesejahteraan warga," katanya.

Ly Se memperkirakan Pemerintah Kamboja tidak akan langsung membuka seluruh kompleks candi. Sebagai gantinya, mereka akan memilih satu candi sebagai proyek percontohan untuk mengukur minat wisatawan dan kelayakan program. Menurutnya, seluruh aspek, mulai dari keamanan, keselamatan pengunjung, konservasi, hingga permintaan pasar, harus dievaluasi secara menyeluruh sebelum kebijakan tersebut diterapkan.

Rencana pembukaan wisata malam di Angkor ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kamboja terus berupaya mencari cara untuk meningkatkan sektor pariwisata. Namun, keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan pelestarian warisan budaya tetap menjadi tantangan utama yang harus dihadapi. Kekhawatiran terhadap dampak pencahayaan buatan, keamanan pengunjung, dan kelestarian candi menjadi isu-isu krusial yang harus dipertimbangkan dengan matang sebelum keputusan akhir diambil.

wisata malam Angkorpelestarian canditur malamKambojapariwisatakonservasimasyarakat lokal

Komentar

Memuat komentar...