Kenapa Makanan Pedas Membuat Kita Ketagihan: Sains Rasa

Yuli S. · 2 min baca · 9 hari lalu · 14 dibaca
Bisik.id
Kenapa Makanan Pedas Membuat Kita Ketagihan: Sains Rasa

Gambar atau konten salah?

Di Indonesia, hampir semua orang menikmati makanan pedas. Pada 21 Mei 2026, sebuah artikel membahas alasan ilmiah di balik kenikmatan rasa pedas yang membuat banyak orang terus mencarinya.

Rasa pedas tidak termasuk salah satu rasa dasar seperti manis, asin, atau asam. Capsaicin, senyawa aktif dalam cabai, merangsang reseptor TRPV1 yang terletak di mulut. Reseptor ini biasanya merespons rasa sakit dan panas, sehingga tubuh menganggap cabai seperti luka bakar ringan.

Ketika TRPV1 diaktifkan, tubuh memproduksi reaksi fisik: keringat, wajah memerah, mata berair, dan hidung meler. Meskipun terasa menyiksa, banyak orang menikmati sensasi tersebut karena tubuh secara otomatis berusaha “melawan” panas yang dirasakan.

Namun, yang membuat rasa pedas terasa memuaskan adalah efek hormon yang dilepaskan setelah tubuh menahan rasa sakit. Endorfin dan dopamin diproduksi, memberi sinyal kebahagiaan dan kepuasan. Sensasi ini mirip dengan rasa puas setelah berolahraga atau menaklukkan wahana ekstrem.

Menurut Astrid Enricka, seorang Praktisi Makanan Indonesia, tubuh mengenali cabai sebagai rasa sakit, namun otak merespons dengan melepaskan hormon kebahagiaan. “Ketika otak melawan rasa pedas, ada sensasi seperti melepas rasa bahagia yang bikin banyak orang ketagihan,” ujarnya.

Seiring waktu, tubuh manusia dapat beradaptasi terhadap capsaicin. Sensasi pedas yang dulu terasa ekstrem menjadi biasa, dan orang mulai mencari tingkat pedas yang lebih tinggi untuk mendapatkan sensasi ketagihan yang lebih besar. Pola psikologis ini membuat banyak pencinta pedas merasa kurang jika tidak menambahkan sambal atau cabai ke dalam makanan.

Kesimpulannya, rasa pedas memicu reaksi tubuh dan otak yang menghasilkan hormon kebahagiaan, menjadikan makanan pedas tidak hanya menyenangkan secara rasa tetapi juga memuaskan secara emosional. Fenomena ini menjelaskan mengapa makanan pedas tetap menjadi favorit di Indonesia, bahkan ketika suasana hati tidak begitu baik.

capsaicinTRPV1endorfindopaminsensasi pedasketagihanadaptasimakanan pedas

Komentar

Memuat komentar...