Konflik Global, Harga Minyak Tembus US$100 Per Barel

Dani L. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Konflik Global, Harga Minyak Tembus US$100 Per Barel

Gambar atau konten salah?

Konflik yang semakin memanas di Timur Tengah membuat jalur perdagangan energi dunia kacau balau. Kapal-kapal tanker minyak menjadi sasaran empuk di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb di Laut Merah. Akibatnya, harga energi global naik turun tak menentu.

Serangan terhadap kapal tanker ini bukan tanpa tujuan. Semua ini bagian dari perang ekonomi untuk mempersempit gerak lawan dan menguras sumber daya mereka. Ambil contoh Iran. Sepanjang bulan ini, mereka meningkatkan serangan terhadap kapal tanker di dalam dan sekitar Selat Hormuz. Tujuannya jelas: mengambil alih kendali atas jalur yang sangat penting itu.

Sementara itu, sekutu Iran, kelompok Houthi di Yaman, juga tak tinggal diam. Mereka menembaki dua kapal tanker milik Arab Saudi di Laut Merah. Tindakan ini dilakukan setelah Houthi menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi.

Data dari Organisasi Maritim Internasional (IMO) menunjukkan angka yang mencengangkan. Sejak 1 Maret, sebanyak 61 kapal dagang telah diserang di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Akibatnya, 17 pelaut tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

"Iran dan Houthi bersama-sama kini memberikan pukulan yang sangat signifikan terhadap kepentingan nasional Amerika, perusahaan minyak Amerika, dan tentu saja Arab Saudi. Namun mereka tidak berhasil sepenuhnya menekan ekspor," kata Dimitris Maniatis, CEO dari layanan risiko maritim Marisks, dikutip dari CNBC pada Sabtu (25 Juli 2026).

Belum cukup dengan kekacauan di Timur Tengah. Konflik antara Rusia dan Ukraina juga ikut memperparah peta perdagangan energi dunia. Ukraina mengaku telah menyerang lebih dari 150 kapal tanker, kapal kargo, dan kapal lainnya yang terkait dengan armada bayangan Rusia di Laut Azov dan Laut Hitam.

"Pasar minyak saat ini sedang menghadapi perang di berbagai lini," kata Helima Croft, kepala strategi komoditas global.

Akibat semua ini, harga minyak mentah Brent yang jadi patokan global sempat naik ke level US$ 100 per barel pada perdagangan Kamis (23 Juli) kemarin. Angka ini menunjukkan betapa rapuhnya rantai pasok energi dunia di tengah konflik bersenjata di berbagai wilayah.

"Rusia kini telah memberlakukan larangan ekspor produk dan kilang-kilang mereka telah terpukul sangat parah oleh Ukraina. Rusia adalah salah satu pengekspor produk terbesar, salah satu pengekspor diesel terbesar. Hal ini benar-benar memperketat pasar produk serta pasar minyak mentah," kata Croft.

Semua konflik ini terjadi bersamaan. Jalur perdagangan energi dunia seperti dikepung dari berbagai arah. Selat Hormuz, Laut Merah, Laut Hitam, dan Laut Azov semuanya menjadi medan perang. Kapal tanker yang seharusnya mengangkut minyak dengan aman kini harus berhadapan dengan rudal dan serangan militer. Harga minyak yang sempat menyentuh US$ 100 per barel menjadi bukti nyata bahwa rantai pasok energi global sedang berada dalam tekanan yang sangat berat.

konflik Timur Tengahjalur perdagangan energiharga energiSelat Hormuzserangan kapal tankerIranrantai pasok energi

Komentar

Memuat komentar...