Lahan Transmigrasi 1980‑90 Jadi Fasilitas Peternakan Unsoed

Surya B. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 78 dibaca
Bisik.id
Lahan Transmigrasi 1980‑90 Jadi Fasilitas Peternakan Unsoed

Gambar atau konten salah?

Netizen sering menyebut kampung mati di kawasan Gunung Tugel, Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas. Sekilas di depan gerbangnya, rumput ilalang tinggi menambah kesan terasing.

Lokasi ini berada di tepi jalan alternatif yang menghubungkan Purwokerto dengan Banyumas. Sekitar area tersebut hampir tidak terlihat permukiman warga.

Namun di balik tampilan terbengkalai, lahan kini dikelola oleh Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Lahan itu dimanfaatkan untuk pendidikan dan bisnis peternakan.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat Unsoed, Waluyo Handoko, mengingatkan sejarah panjang kawasan ini sejak era program transmigrasi pemerintah pada 1980‑an. "Awalnya lahan itu milik Kementerian Transmigrasi. Sekitar tahun 80‑an dipakai untuk pelatihan calon transmigran yang akan berangkat ke luar Jawa," kata Waluyo pada 09 Maret 2026.

Para calon transmigran dilatih berbagai keterampilan dasar sebelum diberangkatkan. Mulai dari cara bercocok tanam hingga simulasi kehidupan di permukiman transmigrasi. "Di sana dulu ada simulasi rumahnya juga. Jadi calon transmigran dilatih bagaimana bercocok tanam dan seperti apa nanti bentuk kehidupan mereka di lokasi transmigrasi," jelasnya.

Pelatihan tersebut dilakukan dengan menggandeng akademisi dari Unsoed. Kerja sama berlangsung sekitar tahun 1986 hingga menjelang 1990. "Dari sekitar 1986 sampai sebelum tahun 90‑an itu digunakan untuk pelatihan transmigrasi oleh kementerian. Programnya bekerja sama dengan dosen‑dosen Unsoed," ujarnya.

Setelah program transmigrasi tidak lagi berjalan seperti sebelumnya, lahan tersebut akhirnya diserahkan kepada Unsoed. "Begitu program transmigrasi tidak ada lagi, lahannya kemudian diserahkan ke Unsoed. Sertifikatnya juga atas nama Unsoed," kata Waluyo.

Awalnya kawasan seluas sekitar 26 hektare tidak langsung dimanfaatkan secara optimal. Sebagian lahan hanya ditanami tanaman tertentu dan sebagian lainnya digunakan untuk kegiatan terbatas.

Seiring waktu, luas lahan mengalami perubahan. Sebagian area dipakai untuk pelebaran jalan dan ada sekitar 5 hektare yang dipinjamkan kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk tempat pembuangan akhir (TPA). "Totalnya dulu sekitar 26 hektare, tapi karena ada pelebaran jalan sekarang tinggal sekitar 23 hektare," pungkasnya.

Perubahan ini menunjukkan bagaimana lahan yang dulu menjadi pusat pelatihan transmigrasi kini bertransformasi menjadi fasilitas pendidikan dan bisnis, sekaligus menyesuaikan kebutuhan infrastruktur dan lingkungan.

kampung matiGunung TugelUniversitas Jenderal SoedirmantransmigrasipelatihanTPAPelebaran jalan

Komentar

Memuat komentar...