Lalu lintas udara China‑Jepang turun drastis, wisata 56%

Guntur P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 78 dibaca
Bisik.id
Lalu lintas udara China‑Jepang turun drastis, wisata 56%

Gambar atau konten salah?

Di tengah musim sakura yang biasanya menjadi puncak kunjungan wisata, lalu lintas udara antara China dan Jepang mengalami penurunan drastis. Data dari Flight Master, perusahaan data penerbangan sipil China, mengungkapkan bahwa pada 01 Maret 2026 semua rute terjadwal—jumlahnya 53—ditutup, menandai periode paling sibuk bagi perjalanan dua negara ini.

Secara keseluruhan, 2.691 penerbangan antara daratan China dan Jepang dibatalkan pada bulan tersebut, setara dengan tingkat pembatalan 49,6%. Angka ini naik 1,1 poin persentase dibandingkan bulan Februari, menandai tren penurunan yang terus berlanjut.

Rute-rute yang dulu sering ditempuh kini tidak beroperasi sama sekali. Misalnya, penerbangan dari Bandara Internasional Beijing Daxing ke Bandara Internasional Kansai di Osaka, yang diperkirakan 125 keberangkatan pada 01 Maret 2026, tidak ada satu pun yang terbang. Rute Shanghai Pudong–Sapporo juga dibatalkan. Selain itu, rute dari Shenyang ke Osaka serta Dalian ke Fukuoka mencatat tingkat pembatalan 100%, menandakan penutupan total pada beberapa jalur utama.

Penurunan ini berlanjut hingga 19 April 2026. Menurut VariFlight, hanya beberapa kota di China—Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan beberapa pusat regional—yang masih menawarkan penerbangan langsung ke Jepang. Bandara Internasional Wuhan Tianhe di provinsi Hubei bahkan tidak lagi menyediakan rute penumpang langsung ke Jepang. Rute Wuhan–Tokyo dan Wuhan–Osaka yang sebelumnya beroperasi telah dihentikan sejak 15 Februari 2026, memaksa penumpang menempuh transit melalui Beijing atau Shanghai, sehingga waktu perjalanan meningkat secara signifikan.

Untuk menanggapi situasi ini, maskapai penerbangan besar di China—Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines—memperpanjang kebijakan fleksibilitas tiket. Pada Januari, mereka mengumumkan bahwa penumpang yang memiliki tiket rute ke Jepang dapat memesan ulang atau membatalkan secara gratis untuk penerbangan yang dijadwalkan antara 29 Maret 2026 dan 24 Oktober 2026, memperpanjang kebijakan sebelumnya yang mencakup keberangkatan hingga akhir Maret.

Data pariwisata menunjukkan penurunan permintaan yang tajam. Jepang menerima 291.600 pengunjung dari China daratan pada 01 Maret 2026, turun 55,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi bulan keempat berturut-turut, menandai tren berkurangnya minat wisatawan China.

Maskapai penerbangan dan platform perjalanan melaporkan bahwa muatan penumpang pada rute China-Jepang yang masih beroperasi menurun menjadi sekitar 40%–48%. Angka ini jauh di bawah titik impas industri, yang biasanya berada di sekitar 70%, membuat banyak rute tidak lagi layak secara komersial.

Kontraksi tajam ini muncul setelah pernyataan kontroversial Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengenai Taiwan. Sejak saat itu, permintaan perjalanan dari China daratan terus melemah, dan maskapai penerbangan China secara bertahap mengurangi kapasitas pada rute Jepang, terutama yang terkait dengan perjalanan wisata.

Dengan penurunan jumlah penerbangan, penurunan jumlah pengunjung, serta penurunan muatan penumpang, industri penerbangan dan pariwisata kedua negara menghadapi tantangan besar. Kebijakan fleksibilitas tiket dan penyesuaian kapasitas menjadi upaya penting untuk mengurangi kerugian dan menyesuaikan diri dengan kondisi pasar yang berubah.

Secara keseluruhan, situasi ini mencerminkan dampak politik dan sosial yang memengaruhi hubungan ekonomi dan perjalanan antar negara. Penurunan tajam dalam lalu lintas udara menandai periode sulit bagi industri penerbangan dan pariwisata, sekaligus menunjukkan perlunya kebijakan yang lebih adaptif guna mengatasi ketidakpastian global.

penerbangan China-Jepangpenurunan lalu lintas udarakebijakan fleksibilitas tiketAir Chinapengunjung Chinapenutupan ruteSanae Takaichi

Komentar

Memuat komentar...