Langkah Keluar dari Hubungan Toksik Menurut Psikiater
Gambar atau konten salah?
Tidak semua orang beruntung bisa menjalani hubungan yang sehat. Banyak yang justru terperangkap dalam hubungan beracun, penuh dengan manipulasi dan kekerasan. Kondisi ini jelas membahayakan kesehatan mental dan keselamatan diri. Ironisnya, banyak korban justru merasa sangat sulit untuk keluar dari hubungan semacam itu.
Menurut dr. Erickson Arthur S, SpKJ, seorang spesialis kedokteran jiwa, langkah pertama yang krusial adalah mengenali siapa saja yang bisa dijadikan tempat berlindung. Ia menekankan pentingnya memiliki support system yang bisa dihubungi saat situasi terasa genting. Orang-orang terdekat, seperti keluarga, adalah pilihan pertama yang paling logis.
"Kalau kekerasan terjadi antara pasangan, entah suami istri atau pacaran seperti itu, siapa sih yang bisa saya hubungi? Orang terdekat dulu nih. Misalnya, ayah saya atau ibu saya atau siapa pun keluarga saya yang sekiranya bisa memberikan perhatian yang positif seperti itu, yang kepada mereka kita bisa bercerita lebih lanjut," jelas dr. Erick dalam sebuah program, Jumat, 03 Juli 2026.
Namun, jika dukungan dari orang terdekat dirasa belum cukup—misalnya pasangan sudah mulai melakukan ancaman fisik atau kekerasan—tidak ada salahnya untuk segera menghubungi polisi. Langkah ini penting untuk memastikan keselamatan. Pada kondisi yang lebih parah, seperti ketika korban mengalami cedera, menghubungi ambulans adalah tindakan yang tepat agar penanganan medis bisa segera didapatkan.
"Yang pasti, langkah utamanya adalah kita perlu mendapatkan rumah aman. Istilahnya adalah rumah aman," ungkap dr. Erick. Ia menambahkan bahwa jika kekerasan terus berlanjut dan tidak bisa dihindari, menjaga jarak fisik dengan pasangan menjadi sebuah keharusan. "Kita harus menjauh dulu secara fisik," tegasnya.
Pada intinya, keluar dari hubungan toksik bukanlah proses yang instan. Dibutuhkan keberanian untuk mengakui masalah dan langkah strategis untuk mencari perlindungan, mulai dari keluarga, aparat, hingga tenaga medis. Prioritas utama tetaplah keselamatan dan kesehatan mental korban, bukan mempertahankan hubungan yang sudah rusak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Ojol Laut di Donggala: Rp5.000 PP, Penghubung Hidup Warga Pulau
Norwegia Yakin Kalahkan Brasil di 16 Besar
SAP Tunjuk Verena Siow Pimpin Asia Pasifik
Gubernur Jambi Terima Gelar Adat Depati
Trump Klaim Hancurkan Iran dan Venezuela
Wabup Gowa Buka TPN XIII, Dorong Inovasi Pendidikan
Tinggalkan Gaji Rp1 M Demi Selamatkan Bisnis Keluarga
Qodari Bela Penunjukan Komisaris BUMN dari Luar