Tinggalkan Gaji Rp1 M Demi Selamatkan Bisnis Keluarga
Gambar atau konten salah?
Seorang perempuan asal Singapura memilih meninggalkan pekerjaan bergaji miliaran rupiah demi menyelamatkan bisnis kuliner keluarga yang sedang terpuruk. Keputusan besar ini diambil oleh Joey Low, 30 tahun, yang sebelumnya menjabat sebagai product manager di perusahaan bursa aset kripto OKX. Gajinya saat itu mencapai ratusan ribu dolar Singapura—jumlah yang setara dengan miliaran rupiah.
Pada tahun 2024, Joey memutuskan untuk fokus menyelamatkan usaha makanan keluarganya, Hup Cheong Roasted Food. Begitu tiba di sana, ia menemukan kenyataan pahit. Bisnis daging panggang yang dirintis keluarganya ternyata memiliki utang macet lebih dari SGD 500.000, atau sekitar Rp7 miliar.
Sebagian besar utang itu berasal dari pelanggan yang belum melunasi pembayaran. Salah satu pelanggan terbesar adalah sebuah bisnis bakmi pangsit yang masih menunggak hampir SGD 260.000, setara dengan Rp3,6 miliar. Ayah Joey, Tommy Low, mengaku terkejut. Sebelumnya ia mengira total piutang macet hanya sekitar SGD 200.000 atau Rp2,8 miliar.
"Saya benar-benar terkejut. Awalnya saya pikir jumlah piutang yang belum tertagih sekitar SGD 200.000," ujar Tommy Low.
Hup Cheong Roasted Food sendiri bukan bisnis sembarangan. Kios makanan ini sudah legendaris di Singapura sejak 1985. Awalnya hanya berupa kios kecil yang menjual char siu, roasted pork, bebek panggang, dan ayam panggang. Seiring waktu, bisnis berkembang. Kini mereka memiliki pabrik, layanan grosir, dan beberapa gerai.
Tapi pandemi COVID-19 menghantam keras. Penjualan di gerai pasar turun lebih dari 50%. Di sisi lain, biaya operasional dan tenaga kerja terus naik. Masalah bertambah karena masa sewa pabrik akan berakhir pada 2027.
Joey tidak tinggal diam. Ia mulai membenahi kondisi keuangan dengan cara yang sistematis. Ia membuat daftar mingguan pelanggan yang masih memiliki tunggakan. Ia menghubungi mereka satu per satu secara langsung. Ia juga menerapkan sistem pembayaran yang lebih ketat. Hasilnya? Upaya itu berhasil mengembalikan sekitar SGD 50.000.
Tapi Joey tidak berhenti di situ. Ia meluncurkan merek baru bernama Charrou. Merek ini menawarkan aneka daging panggang beku dan makanan siap santap. Konsepnya lebih modern, menyasar konsumen muda. Berbeda dengan bisnis utama, Charrou menerapkan sistem pembayaran di muka. Tujuannya jelas: menjaga arus kas tetap sehat.
"Saya harus memilih antara mengejar karier di dunia korporat atau membantu ayah menjalankan usaha keluarga. Akhirnya saya memilih yang kedua," kata Joey.
Sekarang, Joey dan ayahnya membagi waktu. Mereka mengelola Hup Cheong pada hari kerja. Setiap akhir pekan, mereka mengembangkan merek Charrou. Dalam setahun, merek baru itu telah mencatatkan pendapatan hingga enam digit. Charrou menjadi harapan baru bagi kelangsungan bisnis kuliner milik keluarga Joey.
Kisah ini menunjukkan bagaimana seorang anak memilih keluarga di atas karier gemilang. Bukan keputusan yang mudah, apalagi dengan gaji enam digit yang ditinggalkan. Tapi Joey membuktikan bahwa bisnis keluarga yang hampir runtuh masih bisa diselamatkan—dengan kerja keras, perubahan sistem, dan sedikit keberanian untuk memulai dari awal lagi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
