Ojol Laut di Donggala: Rp5.000 PP, Penghubung Hidup Warga Pulau
Gambar atau konten salah?
Di Desa Pulau Pangalasiang, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, perahu motor bukan sekadar alat transportasi. Ini adalah urat nadi kehidupan sehari-hari. Warga setempat menggunakannya untuk menyeberang ke daratan utama. Tarifnya? Hanya Rp 5.000. Itu sudah untuk pulang pergi, atau untuk dua orang dalam satu perjalanan.
Suasana di dermaga kecil dekat Kantor Desa Pangalasiang cukup hidup. Perahu-perahu motor lalu-lalang, mengangkut penumpang. Bukan nelayan atau pedagang yang biasa terlihat, melainkan warga pulau biasa yang hendak ke daratan utama. Seorang warga yang sedang bersantai di tepi pantai berkata, "Ongkosnya murah, Rp 5.000 pulang balik." Ucapan itu disampaikan pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Dermaganya sendiri sederhana. Tidak megah. Tidak ada bangunan permanen atau jembatan penyeberangan. Hanya pesisir pantai yang teduh, dengan pohon-pohon rindang dan beberapa warung kecil di sekitarnya. Perahu-perahu motor berjajar begitu saja di bibir pantai. Tidak ada yang istimewa, tapi justru di situlah letak kesehariannya.
Rasa penasaran mendorong seseorang untuk mencoba menyeberang menggunakan perahu itu. Seorang ibu yang sebelumnya berbincang dengan awak media meyakinkan dengan ramah. "Tidak apa, ikut saja," katanya sambil mendorong perahu. Dia lalu memanggil pengemudi perahu. Warga setempat menyebutnya "ojek laut". Dengan suara lantang menggunakan bahasa daerah, dia memberi tahu bahwa ada penumpang tambahan. Tak lama, sang pengemudi mempersilakan dengan ramah. "Ayo-ayo," ujarnya singkat.
Mesin perahu dinyalakan. Suara "tek... tek... tek..." terdengar saat perahu mulai bergerak. Empat penumpang dibawa melintasi perairan yang tenang. Perjalanan singkat itu menyuguhkan pemandangan senja yang memukau. Langit jingga berpadu dengan siluet kapal-kapal besar yang bersandar di kejauhan. Pemandangan yang menenangkan.
Perjalanan hanya berlangsung beberapa menit. Tak sampai dua menit, perahu tiba di seberang Pulau Pangalasiang. Penumpang lain turun. Sementara itu, seseorang tetap berada di atas perahu untuk kembali ke daratan utama. Di sepanjang perjalanan, suasana hangat terasa dari interaksi singkat dengan penumpang lain. Mereka tampak penasaran dengan "turis dadakan" yang sibuk bertanya dan mengabadikan momen.
Setibanya kembali di daratan utama, perjalanan singkat itu berakhir. Ongkos penyeberangan dibayar. Ucapan terima kasih disampaikan kepada pengemudi perahu yang dengan ramah melayani perjalanan pulang pergi di sore hari itu.
Transportasi sederhana ini menunjukkan bagaimana warga pulau menjalani kehidupan mereka. Dengan biaya murah dan pelayanan ramah, perahu motor menjadi penghubung utama antara Pulau Pangalasiang dan daratan. Tidak ada kemewahan, hanya kebutuhan dasar yang terpenuhi dengan cara yang apa adanya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
