Meninggal Sapardi Djoko Damono, Penulis 'Hujan Bulan Juni'
Gambar atau konten salah?
Musim kemarau di Indonesia biasanya menandai bulan Juni. Namun, bagi banyak orang, bulan ini juga membawa kenangan akan Hujan Bulan Juni, sebuah puisi yang tetap hidup di hati.
Pada 20 Maret 1940, Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta. Sejak kecil, ia tumbuh di tengah peperangan kemerdekaan, menyaksikan pesawat menurunkan bom. Pengalaman‑pengalaman itu menjadi bahan bakar bagi karya-karyanya yang sederhana namun penuh makna.
Puisi Hujan Bulan Juni pertama kali ditulis pada 1989 dan kemudian diterbitkan dalam kumpulan puisi 1994 oleh Grasindo. Buku tersebut kembali muncul pada 2015 melalui Gramedia Pustaka Utama sebagai bagian pertama trilogi novel yang menafsirkan puisinya. Dua lanjutan trilogi berjudul Pingkan Melipat Jarak (2017) dan Yang Fana Adalah Waktu (2018) menambah kedalaman narasi Sapardi.
Berikut adalah bait-bait puisi yang sering diingat:
Hujan Bulan Juni, 1989
Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindu yang kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak‑jejak kaki yang ragu‑ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
Setiap baris mengekspresikan ketabahan, kebijaksanaan, dan keahlian yang tak terhingga. Hujan di bulan Juni, meski langka, menjadi simbol ketabahan seseorang menunggu jodoh atau kekasih.
Menurut Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya Teori Pengkajian Fiksi, puisi adalah karya sastra padat yang menggunakan bahasa estetis dan penuh makna, memperhatikan bunyi, irama, dan bentuk. Herman J. Waluyo di buku Teori dan Apresiasi Puisi menambahkan bahwa puisi mengutarakan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif, disusun dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan batinnya. Keduanya menegaskan pentingnya pemaknaan bagi pembaca.
Analisis semantik dari Uswatun P. K. dalam jurnal Lingua Franca menafsirkan puisi ini sebagai metafora ketabahan menunggu. Bait pertama menekankan bahwa hujan tidak turun di bulan Juni, hanya rintik‑rintik. Bait kedua menggambarkan perasaan senang dan tidak menentu ketika melihat orang yang disukai. Bait ketiga menandakan kedatangan hujan singkat yang mengobati rasa rindu lama.
Selama hidupnya, Sapardi menulis lebih dari 18 buku puisi, termasuk Duka‑Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), dan Perahu Kertas (1984). Ia juga menulis fiksi, non‑fiksi, dan menerjemahkan karya sastra dunia ke dalam Bahasa Indonesia.
Berikut beberapa karya utama Sapardi:
- Duka‑Mu Abadi (1969)
- Mata Pisau (1974)
- Akuarium (1974)
- Perahu Kertas (1984)
- Hujan Bulan Juni (1994)
- Sihir Hujan
- Ayat‑ayat Api
- Mata Jendela
Puisi Hujan Bulan Juni sendiri mengumpulkan 102 karya tulis, termasuk puisi, sajak, dan cerpen, yang ditulis antara 1964 dan 1994. Kumpulan ini dianggap sebagai kompilasi syair paling populer Sapardi.
Kepergian Sapardi pada 19 Juli 2020 meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sastra Indonesia. Meskipun ia tiada, kata-kata indahnya tetap hidup dalam hati.
Puisi ini tetap relevan karena menyentuh tema universal: ketabahan, kebijaksanaan, dan harapan. Setiap kali hujan turun di bulan Juni, banyak orang mengingat bait‑bait sederhana yang mengajarkan bahwa bahkan hujan singkat sekalipun dapat menenangkan hati yang menunggu.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BPJS Kesehatan Buka Pendaftaran PATT 2026, 10-23 Juni
USK Perpanjang Pendaftaran SMMPTN 12 Juni 2026 Wilayah Barat
Beasiswa Garuda II: Pendaftaran Terbuka Hingga 25 Juni 2026
Batam Potong TPP Pegawai Struktural, Jaga Belanja Pegawai 30%
PDAM Medan Selesaikan Perbaikan Mesin & Pipa, Air Tersedia Lagi
11 Juni: Hari Bermain, Kanker Prostat, dan Keindahan
Berita Terbaru
Kalla dan Prabowo Bicarakan 2.000 MW Energi Terbarukan
Said Iqbal Usulkan Batas Outsourcing, Presiden Ingin Hapus
Seleksi 30.000 KDMP dan 5.000 KNMP Diumumkan, Gaji Rahasia
India Jadi Produsen Mobil Penumpang Peringkat Tiga Dunia, 5,4 Juta
BPJS Kesehatan Buka Pendaftaran PATT 2026, 10-23 Juni
Meninggal Sapardi Djoko Damono, Penulis 'Hujan Bulan Juni'
