Menteri Keuangan: Prediksi Harga Minyak US$ 200 Tak Realistis
Gambar atau konten salah?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan tanggapan tegas terhadap prediksi beberapa ekonom yang menyatakan bahwa harga minyak dunia bisa mencapai US$ 200 per barel. Ia menganggap proyeksi tersebut tidak realistis dan menilai bahwa pernyataan tersebut berasal dari ekonom yang kurang memahami kondisi pasar.
Purbaya mengungkapkan bahwa meskipun harga minyak dapat meningkat secara signifikan, biasanya tidak akan bertahan lama di level yang sangat tinggi. Ia menyebutkan contoh dari periode 2013-2014 ketika harga minyak diprediksi akan mencapai US$ 200, tetapi kenyataannya hanya meningkat hingga sekitar US$ 150 sebelum akhirnya turun kembali.
Menurutnya, harga minyak yang melambung tinggi justru berpotensi memicu resesi global. Dalam situasi seperti itu, permintaan akan turun drastis, dan harga minyak akan mengalami penurunan yang tajam. "Kalau harga mencapai US$ 200, mungkin hanya bertahan sesaat, lalu jatuh lagi," ujarnya.
Purbaya juga menjelaskan bahwa ekonomi global tidak akan mampu bertahan jika harga minyak mencapai tingkat tersebut. Penurunan permintaan akan mengakibatkan harga minyak kembali jatuh ke level yang lebih rendah. Ia juga mengingatkan bahwa dalam kondisi tertentu, harga minyak pernah menyentuh level yang sangat rendah, bahkan mendekati US$ 15 per barel, dan sempat negatif di pasar forward.
Dengan demikian, Purbaya menilai prediksi harga minyak mencapai US$ 200 tidak memperhitungkan siklus pasar dan data historis. "Orang harus memahami siklus minyak," tegasnya.
Pemerintah tetap akan menyesuaikan kebijakan sesuai dengan perkembangan global, tetapi Purbaya memastikan bahwa kemungkinan lonjakan harga hingga US$ 200 sangat kecil.
Dalam konteks ini, penting bagi para pelaku pasar dan masyarakat untuk memahami dinamika harga minyak serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Purbaya menekankan bahwa analisis yang mendalam dan berbasis data historis sangat diperlukan agar tidak terjebak dalam prediksi yang tidak realistis.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pajak 0% 50 Tahun untuk Investor PFII
Indonesia Kejar Rp 51.000 Triliun Dana Family Office Global
PFII Ditarget Beroperasi Tahun Ini, PP Masih Digodok
Pemerintah: Belum Ada Rencana Revisi Anggaran Pertahanan
Anggaran MBG Dipangkas, BGN Klaim Tak Lagi Rp 268 T
PHK Naik 32.389, Menkeu: Itu Siklus Wajar
