Mustofa 67 Tahun, Jalan 34 Km Kembali Dari Tanah Suci
Gambar atau konten salah?
Mustofa (67) memulai langkah kaki dari Asrama Donohudan Boyolali menuju rumahnya di Dusun Krajan, Desa Kedungringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang setelah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Perjalanan panjangnya mencapai 34 kilometer dan memakan waktu 14 jam.
Menurut Ahmad Muntaha (31), putra Mustofa, sebelum berangkat haji ayahnya juga berjalan kaki menuju titik keberangkatan kelompok hajinya di Gedung IPHI Suruh. Perjalanan tersebut memakan waktu tiga jam dan jarak tempuhnya sekitar tujuh kilo.
“Itu sekitar tiga jam (perjalanan), sekitar tujuh kilo jarak tempuhnya ke IPHI Kecamatan Suruh. (Tanggal) 27 April,” kata Ahmad saat dihubungi Senin (15 Juni 2026).
Ahmad menjelaskan bahwa Mustofa awalnya mengungkapkan memiliki nazar untuk berjalan kaki menuju Gedung IPHI. Setelah pulang, Mustofa baru menyadari bahwa nazar tersebut dilakukan sebagai ungkapan syukur atas kesehatan yang diberikan.
“Kan pertama itu saya tanya kan nggak ngaku kalau punya nazar, kan ada kakak-kakak yang lain kan. Setelah saya tanya berdua, itu baru ngaku kalau itu nazar. Pulangnya ini saya tanya lagi, dalam mensyukuri kesehatan bapak dia jalan kaki,” ujar Ahmad.
Setelah kembali dari Tanah Suci, Ahmad menanyakan lagi rute Mustofa. Ia menempuh rute yang lebih jauh, yakni dari Asrama Haji Donohudan Boyolali dengan jarak 34 kilometer pada Kamis (11 Juni 2026). Menurut Ahmad, perjalanan dimulai jam 07.45 WIB di Donohudan, berjalan kaki sekitar jam 09.00 WIB pagi, sampai rumah jam 23.30 WIB malam. Totalnya lebih dari 14 jam.
“Masuk ke Donohudan jam 07.45 WIB, jalan kaki dari Donohudan jam sekitar jam 09.00 WIB pagi, sampai rumah jam 23.30 WIB malam, sekitar 14 jam lebih,” terang Ahmad.
Selama perjalanan, Mustofa tidak berjalan sendiri. Ia bersama adiknya, Njohriah, dan dikawal oleh Ahmad dengan sepeda motor. Beberapa petugas kesehatan dan aparat keamanan turut mengawal, termasuk Kapolsek Simo, Banser, dan Hansip. Di perbatasan Klego, petugas dari Puskesmas turut hadir.
“Sampai di Kecamatan Simo itu ada Kapolsek Simo ikut ngawal sampai perbatasan Klego, sampai perbatasan Klego itu ada Banser, ada Hansip yang ngawal. Tapi udah jaraknya itu posisinya udah separonya, kalau dari sana ya saya sama itu petugas dari Puskesmas,” ungkap Ahmad.
Perjalanan Mustofa tidak hanya dilalui sendiri. Banyak warga di sepanjang rute memberikan dukungan. Ahmad mencatat bahwa warga sering memberi buah dan makanan.
“(Masyarakat) Banyak yang tahu. Ya ada di perjalanan ada yang ngasih buah, ada yang ngasih makan,” tutur Ahmad.
Sesampainya di rumah, suasana hangat menanti Mustofa. Meskipun tiba pada tengah malam, keluarga dan tetangga sangat antusias menunggu. Warga dusun sebelah bahkan sudah menunggu sejak jam 19.00 WIB.
“Alhamdulillah, sampai dusun sebelah itu keluarga sangat antusias menyambutnya. Ramai banget itu, warga dusun sebelah pun sampai nungguin itu dari jam 19.00 WIB sudah pada di luar rumah,” ujar Ahmad.
Mustofa telah menunggu selama 14 tahun untuk dapat berangkat ke Tanah Suci. Sehari-hari, ia bekerja mencari rumput, melihara sapi, dan mencangkul di sawah.
“14 tahun (waktu tunggu hajinya). Kerjaannya nyari rumput, kan melihara sapi, sama ke sawah itu paling nyangkul,” terang Ahmad.
Selama di Tanah Suci, Mustofa mengaku tidak merasakan panas, meskipun suhu di sana mencapai 48 derajat. Ia juga sering menyalami orang-orang di sana.
“Kalau panasnya menurut bapak ya biasa aja, nggak berasa panas di sana. Padahal suhu kan sampai waktu itu saya cek kan sampai 48 (derajat) kan. Nah, tak tanya kepanasan nggak? Ternyata biasa aja,” tutur Mustofa.
Di sana, Mustofa mengalami tradisi salaman yang meluas. Ia menyebut bahwa hampir semua orang di Madinah dan Mekkah salaman ketika bertemu.
“Di sana ya hampir semua sudah salaman gitu. Sudah salaman hampir semua yang di sana itu disalamin semua katanya. Lagi di Madinah lagi di Mekkahnya, kalau ketemu orang salaman,” imbuhnya.
Setelah pulang, Mustofa masih dalam kondisi sehat. Ia sempat dibawa ke dokter untuk mendapatkan vitamin, dan sekarang masih di rumah sambil menerima tamu pasca pulang haji.
“Alhamdulillah masih sehat. Kemarin sempat dibawa ke dokter lah biar kasih vitamin. Sekarang masih di rumah, kan masih ada tamu datang,” pungkasnya.
Perjalanan Mustofa menyoroti keteguhan dan rasa syukur yang mendalam. Ia menempuh jarak jauh, menunggu bertahun-tahun, dan tetap menjaga kesehatan. Komunitas di sepanjang rute menunjukkan solidaritas yang kuat, memberi makan dan menunggu dengan antusias. Setelah kembali, Mustofa tetap aktif menampung tamu, menandai akhir dari perjalanan panjang yang penuh makna.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Amalan Malam 1 Muharam 2026: Panduan Praktis & Tips
Kerbau Bule Terlibat Pertempuran di Alun‑Alun Solo Semalam
Jembatan Banyumas Ditutup, Perahu Penyeberangan Alternatif
Jokowi Kunjungi Lampung 26‑28 Juni 2026: Persiapan 80% Siap
Doa Akhir Tahun 1447 Hijriah: Penutup dan Awal Baru
Mahasiswa Unissula Gelar Demo di Semarang soal Kenaikan BBM
Berita Terbaru
Mustofa 67 Tahun, Jalan 34 Km Kembali Dari Tanah Suci
Amalan Malam 1 Muharam 2026: Panduan Praktis & Tips
Ayam Ingkung, Hidangan di Malam Satu Suro Meningkatkan
DJBC Catat 11.542 Penindakan, Amankan Rp 7,71 Triliun
Jepang dan Belanda Imbang 2-2 sama di Piala Dunia 2026
Spanyol Melawan Cape Verde di Piala Dunia 2026, Tantangan