Mustofa Ismail Jalan Kaki 34 km Pulang Haji, Wujud Nazar

Dwi H. · 3 min baca · 4 jam lalu · 11 dibaca
Bisik.id
Mustofa Ismail Jalan Kaki 34 km Pulang Haji, Wujud Nazar

Gambar atau konten salah?

Mustofa Ismail, seorang jemaah haji berusia 67 tahun dari Kabupaten Semarang, pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki pagi ini. Ia melakukan perjalanan ini untuk menunaikan nazar yang ia ucapkan sebelum berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

“Punya keniatan (nazar),” ujarnya ketika ditanya alasan pulang jalan kaki. Ia ditemui di wilayah Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, pada 11 Juni 2026. Saat itu, Mustofa mengenakan baju batik seragam haji dan celana panjang putih, serta topi caping yang ia pakai sejak berangkat hingga pulang.

Perjalanan berjalan kaki dimulai dari depan Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali, menuju rumahnya di Krajan Kedung Ringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Jaraknya sekitar 34 kilometer. Selama perjalanan, Mustofa didampingi adik perempuannya, Njohriah, yang terus menggandeng tangan kakaknya. Anak laki-lakinya, Ahmad Muntaha, mengendarai sepeda motor untuk mengawasi. Istri Mustofa, yang ikut jemput ke Asrama Haji Donohudan, kembali pulang menggunakan mobil.

Mustofa, yang sehariannya bekerja sebagai petani, berangkat menunaikan haji sendirian. Ia tergabung dalam Kloter 23 asal Kabupaten Semarang. Pesawat Garuda Indonesia yang membawa jemaah Kloter 23 ini mendarat di Bandara Adi Soemarmo Boyolali pukul 06.46 WIB. Setelah itu, Mustofa masuk Asrama Haji Donohudan sekitar pukul 07.30 WIB dan dipulangkan ke daerah asalnya sekitar pukul 08.45 WIB.

Petugas PPIH sempat merayu Mustofa agar ikut rombongan bus penjemput dan tidak berjalan kaki. Namun karena sudah menjadi niatnya, ia tetap berkukuh melaksanakan nadzarnya. “Nazarnya mensyukuri kenikmatan yang Kuasa, saya masih diberi kesehatan untuk ibadah. Dengan berjalan kaki sampai rumah,” jelasnya. Ia memilih berjalan kaki agar menyehatkan tubuh, sekaligus mengisi perjalanan dengan berzikir. “Biar sehat, terus banyak berzikir dan baca selawat,” tambahnya.

Mustofa mengaku bernazar sebelum berangkat haji. Selama manasik haji, ia sudah berjalan kaki, sehingga ia niatkan untuk jalan kaki sepulang haji dari Asrama Haji Donohudan sampai rumah, sambil terus berdzikif dan membaca selawat. Ia menambahkan, senang bisa melaksanakan ibadah haji. “Pengalamannya ya senang sekali, terus saya ya lancar semuanya. Enggak ada gangguan mau apa-apa itu lancar,” ucapnya.

Setiap hari, Mustofa bekerja sebagai petani dan memelihara enam ekor sapi. Anak laki-lakinya, Ahmad Muntaha, yang ikut mengawal, mengatakan bahwa ayahnya memang sudah nazar untuk jalan sepulang dari ibadah haji. Sebagai anak, ia menuruti dan memastikan kondisi ayahnya sehat. “Kita nuruti orang tua, maunya begitu. Intinya sebagai anak ya biar orang tua senang. Kesenangannya begitu ya kita kawal, kita turuti,” kata Ahmad Muntaha.

Menurutnya, jalan kaki yang ditempuh ayahnya dari Donohudan, Ngemplak, Boyolali sampai rumah di Krajan, Suruh, Kabupaten Semarang sejauh sekitar 34 kilometer. Ia menambahkan, “Sudah nazar. Itu saat mau berangkat (ibadah haji) juga jalan kaki dari rumah ke kecamatan sekitar 5 - 7 kilometer.”

Ketua PPIH Embarkasi Solo, Fitriyanto, mengatakan pihaknya sudah menyarankan Mustofa untuk melaksanakan nazar jalan kakinya dari kecamatan sampai rumah. Karena kondisi jemaah sudah lelah setelah menunaikan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci, PPIH menyarankan agar hanya sampai kecamatan. Namun, jika jemaah bersikukuh karena sudah bernazar, pihaknya tidak dapat menghalangi. “Sebenarnya kita sarankan, karena kondisi jemaah itu kan dari sana (Arab Saudi) sudah capek. Kita sarankan nanti sampai kecamatan saja untuk jalan kaki sampai rumah. Tapi kalau jemaahnya bersikukuh karena sudah bernazar, ya tentu kita tidak bisa menghalangi nazar beliau,” kata Fitriyanto kepada wartawan.

Fitriyanto menambahkan, “Karena di Asrama Haji ini kan tugas kami sudah selesai. Selanjutnya kami serahkan kepada petugas haji daerah dari Kabupaten Semarang, nanti yang akan membawa sampai ke Kabupaten.”

Perjalanan Mustofa menegaskan kembali betapa pentingnya niat dan keyakinan dalam menjalankan ibadah. Ia menunjukkan bahwa meski lelah, tekad untuk menunaikan nazar tetap kuat, dan keluarga serta petugas haji berusaha mendukungnya sesuai kebijakan dan kondisi yang ada.

Mustofa Ismailnazarberjalan kakiAsrama Haji DonohudanPPIHKloter 23petani

Komentar

Memuat komentar...