Mustofa Ismail, 67, Berjalan Kaki 34 km Pulang Pasca Haji

Sigit W. · 3 min baca · 34 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Mustofa Ismail, 67, Berjalan Kaki 34 km Pulang Pasca Haji

Gambar atau konten salah?

Mustofa Ismail, seorang jemaah haji berusia 67 tahun asal Kabupaten Semarang, kembali ke rumahnya di Suruh, Kabupaten Semarang dengan berjalan kaki pada 11 Juni 2026. Ia melaksanakan nazar yang ia ucapkan sebelum berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

“Punya keniatan (nazar),” kata Mustofa saat ditanya alasan pulang jalan kaki ditemui di wilayah Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Kamis (11/6/2026). Dari pantauan, Mustofa tampak mengenakan baju batik seragam haji dan celana panjang warna putih. Dia juga memakai topi caping yang sudah ia pakai sejak berangkat hingga pulang.

Perjalanan berjalan kaki dimulai dari depan Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali, dan berakhir di rumahnya di Krajan Kedung Ringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Jarak yang ditempuh mencapai 34 kilometer. Selama perjalanan, Mustofa didampingi adik perempuannya, Njohriah, yang terus menggandeng tangan kakaknya. Anak laki-lakinya, Ahmad Muntaha, mengendarai sepeda motor dan mengawal. Istri Mustofa, yang ikut jemput ke Asrama Haji Donohudan, kembali pulang naik mobil.

Mustofa, yang sehariannya bekerja sebagai petani, berangkat menunaikan ibadah haji sendirian. Ia tergabung dalam Kloter 23 asal Kabupaten Semarang. Pesawat Garuda Indonesia yang membawa jemaah Kloter 23 ini mendarat di bandara Adi Soemarmo Boyolali pada pukul 06.46 WIB. Kemudian masuk Asrama Haji Donohudan sekitar pukul 07.30 WIB dan dipulangkan ke daerah asalnya sekitar pukul 08.45 WIB.

Petugas PPIH sempat merayu Mustofa agar ikut rombongan bus penjemput dan tidak berjalan kaki. Namun karena sudah menjadi niatnya, dia berkukuh melaksanakan nadzarnya.

“Nazarnya mensyukuri kenikmatan yang Kuasa, saya masih diberi kesehatan untuk ibadah. Dengan berjalan kaki sampai rumah,” jelas dia.

Dia memilih jalan kaki agar menyehatkan. “Biar sehat, terus banyak berzikir dan baca selawat,” imbuhnya. Mustofa mengaku bernazar saat sebelum berangkat ibadah haji ke Tanah Suci. Saat manasik haji juga sudah berjalan kaki, sehingga ia niatkan untuk jalan kaki sepulang haji dari AHD sampai rumahnya, sembari terus berdzikif dan baca selawat.

Mustofa menambahkan, senang bisa melaksanakan ibadah haji. Dia mengaku tidak ada gangguan apapun selama menunaikan rukun haji dan semua berjalan lancar. “Pengalamannya ya senang sekali, terus saya ya lancar semuanya. Enggak ada gangguan mau apa-apa itu lancar,” ucap dia.

Setiap hari, Mustofa bekerja sebagai petani dan memelihara 6 ekor sapi. Sementara itu anak Mustofa, Ahmad Muntaha, yang ikut mengawal, mengatakan bahwa ayahnya tersebut memang sudah nazar untuk jalan sepulang dari ibadah haji. Sehingga sebagai anak, dia menurutinya dan kondisi ayahnya juga sehat. “Kita nuruti orang tua, maunya begitu. Intinya sebagai anak ya biar orang tua senang. Kesenangannya begitu ya kita kawal, kita turuti,” kata Ahmad Muntaha. Menurut dia, jalan kaki yang ditempuh ayahnya tersebut dari Donohudan, Ngemplak, Boyolali sampai rumahnya di Krajan, Suruh, Kabupaten Semarang sejauh sekitar 34 kilometer. “Sudah nazar. Itu saat mau berangkat (ibadah haji) juga jalan kaki dari rumah ke kecamatan sekitar 5 - 7 kilometer,” tambah Ahmad Muntaha.

Ketua PPIH Embarkasi Solo, Fitriyanto, mengatakan pihaknya sudah menyarankan kepada Mustofa untuk melaksanakan nazar jalan kakinya dari Kecamatan sampai rumahnya. Karena kondisi jemaah sudah lelah usai menunaikan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci. “Sebenarnya kita sarankan, karena kondisi jemaah itu kan dari sana (Arab Saudi) sudah capek. Kita sarankan nanti sampai kecamatan saja untuk jalan kaki sampai rumah. Tapi kalau jemaahnya bersikukuh karena sudah bernazar, ya tentu kita tidak bisa menghalangi nazar beliau,” kata Fitriyanto kepada para wartawan. “Karena di Asrama Haji ini kan tugas kami sudah selesai. Selanjutnya kami serahkan kepada petugas haji daerah dari Kabupaten Semarang, nanti yang akan membawa sampai ke Kabupaten,” tandasnya.

Peristiwa ini menegaskan bahwa beberapa jemaah haji memilih untuk menunaikan nazar dengan berjalan kaki, meski fasilitas transportasi tersedia. Keputusan tersebut didorong oleh keyakinan pribadi dan keinginan untuk merasakan kedekatan spiritual serta menjaga kesehatan. Meskipun perjalanan memakan waktu dan tenaga, Mustofa dan keluarga tetap melakukannya dengan penuh semangat dan keyakinan.

Komentar

Memuat komentar...