Nasaruddin Umar Dapat Dukungan Besar Menjelang Muktamar NU

Ayu W. · 2 min baca · 3 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Nasaruddin Umar Dapat Dukungan Besar Menjelang Muktamar NU

Gambar atau konten salah?

Prof. KH. Nasaruddin Umar sudah menjadi topik hangat menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Gus Ipul, sekretaris jenderal PBNU, menyatakan bahwa Nasaruddin memiliki peluang besar meraih dukungan. Ia menilai latar belakang organisasi Nasaruddin di lingkungan NU menjadi faktor penting.

Gus Ipul mengungkapkan pendapatnya saat menjawab pertanyaan wartawan tentang calon Ketua Umum PBNU di muktamar yang akan datang. Ia menyoroti sejarah kepemimpinan NU, di mana posisi Katib Aam sering menjadi jalur bagi tokoh menuju pucuk organisasi.

"Prof Nasaruddin Umar pernah menjadi Katib Aam pada era KH Hasyim Muzadi. Kalau melihat statistik dan pengalaman yang ada selama ini, beliau sangat berpotensi,"

kata Gus Ipul setelah meninjau persiapan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri, pada Selasa, 16 Juni 2026.

Walaupun begitu, Gus Ipul menegaskan bahwa ia tidak sedang mengkampanyekan nama tertentu. Ia hanya mengakui bahwa Nasaruddin sering disebut di berbagai forum dan pertemuan NU di beberapa daerah.

"Kalau saya berkeliling ke beberapa daerah, memang nama Prof Nasar cukup banyak disebut. Itu yang saya dengar dari berbagai kalangan. Selebihnya tentu akan ditentukan oleh dinamika yang berkembang menjelang muktamar," ujarnya.

Gus Ipul menambahkan bahwa beberapa Ketua Umum PBNU sebelumnya memiliki latar belakang serupa. Mulai dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Hasyim Muzadi, hingga KH Yahya Cholil Staquf pernah menjabat Katib Aam sebelum terpilih memimpin PBNU.

"Kalau ditarik dalam sekitar 40 tahun terakhir, tiga Ketua Umum PBNU sebelumnya pernah menjadi Katib Aam. Itu menunjukkan posisi tersebut memiliki rekam jejak yang cukup kuat dalam melahirkan pemimpin NU," ujarnya.

Selain Katib Aam, Gus Ipul menyoroti jabatan Sekjen PBNU dan Ketua PWNU Jawa Timur sebagai posisi strategis yang sering melahirkan tokoh sentral di tubuh NU. Ia memberikan contoh KH Idham Chalid yang pernah menjabat Sekjen PBNU sebelum menjadi Ketua Umum PBNU, serta KH Hasyim Muzadi yang memimpin PWNU Jawa Timur sebelum memimpin NU secara nasional.

"Kalau melihat statistik, yang pernah menjadi Sekjen punya peluang, yang pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Timur punya peluang, dan yang pernah menjadi Katib Aam juga punya peluang," katanya.

Meski demikian, Gus Ipul menegaskan bahwa pembahasan calon Ketua Umum PBNU belum menjadi agenda resmi dalam Munas Alim Ulama dan Konbes NU yang akan digelar di Pesantren Al Falah Ploso pada 20-22 Juni 2026. Ia menilai forum tersebut lebih difokuskan pada isu strategis keumatan, keagamaan, serta rekomendasi organisasi menjelang Muktamar NU.

Gus Ipul juga menepis spekulasi yang mengaitkan dirinya dengan bursa calon Ketua Umum PBNU. Meskipun ia menjabat sebagai Sekjen PBNU, ia memastikan tidak akan ikut dalam kontestasi kepemimpinan organisasi.

"Saya sudah menyatakan dengan tegas, saya tidak mencalonkan diri dan tidak mau dicalonkan. Dua-duanya," tandas Gus Ipul.

Dalam konteks ini, dinamika politik internal NU tampak menyoroti peran posisi-posisi kunci seperti Katib Aam, Sekjen PBNU, dan Ketua PWNU Jawa Timur sebagai jalur potensial bagi calon pemimpin. Keputusan akhir akan bergantung pada proses demokratis yang akan berlangsung di muktamar, di mana berbagai aspirasi dan dukungan akan dipertimbangkan secara terbuka.

Prof. Nasaruddin UmarMuktamar NUPBNUKatib AamSekjen PBNUPWNU Jawa TimurGus Ipul

Komentar

Memuat komentar...