PBSI Evaluasi Usai Junior Nihil Gelar di Asia

Dedi S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
PBSI Evaluasi Usai Junior Nihil Gelar di Asia

Gambar atau konten salah?

Tim bulutangkis junior Indonesia pulang tanpa gelar dari Kejuaraan Asia Junior 2026. Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) langsung menjadikan hasil ini sebagai bahan evaluasi. Targetnya? Persiapan matang menuju Kejuaraan Dunia Junior 2026.

Kejuaraan Asia Junior 2026 digelar di Yatsushiro City General Gymnasium, Jepang. Ajang ini berlangsung dari 26 Juni 2026 hingga 05 Juli 2026. Di nomor beregu, langkah Indonesia terhenti di peringkat 5-8. China keluar sebagai juara. Sementara di nomor perorangan, hasil terbaik datang dari tunggal putra Fardhan Joe. Ia berhasil membawa pulang medali perak.

Manajer Tim Indonesia, Eskar Denatara, terus terang. Hasil ini belum sesuai target yang dibidik. "Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia karena belum berhasil meraih gelar juara di AJC 2026. Hasil ini tentu menjadi tanggung jawab kami," kata Eskar dalam keterangan resmi.

Eskar menilai para atlet sebenarnya sudah menunjukkan kemampuan teknik, fisik, dan mental yang cukup baik. Tapi masih ada beberapa aspek yang perlu dibenahi. Terutama dari sisi taktikal, ketenangan saat bertanding, dan pengalaman di level internasional. "Beberapa atlet bahkan baru menjalani debut internasional di AJC. Pengalaman menghadapi tekanan di pertandingan besar menjadi hal yang harus terus dibangun agar mereka semakin matang," ujarnya.

Menurut Eskar, sektor putri masih perlu meningkatkan kekuatan fisik. Khususnya strength dan power endurance. Tujuannya agar mampu bersaing secara konsisten di level Asia. Sementara itu, sektor ganda putra masih harus memperbaiki kemampuan mengelola tekanan dan mengambil keputusan pada poin-poin krusial.

"Sektor ganda putri menunjukkan perkembangan dengan meloloskan dua pasangan ke perempat final. Di sektor ganda campuran, pasangan-pasangan non-pelatnas juga mampu memberikan perlawanan yang cukup baik. Namun secara keseluruhan masih banyak detail yang harus kami benahi agar hasilnya lebih maksimal," jelasnya.

Ia juga menyoroti semakin meratanya kekuatan bulutangkis junior di Asia. Bukan hanya China, Jepang, dan Korea Selatan yang terus berkembang. Hong Kong China, Thailand, dan Taiwan juga menunjukkan peningkatan. "Karena itu kami tidak bisa hanya melihat hasil akhir. Kami harus terus meningkatkan kualitas pembinaan agar mampu mengikuti perkembangan persaingan yang semakin ketat," katanya.

Meski gagal memenuhi target, Eskar menilai Kejuaraan Asia Junior 2026 memberikan banyak pelajaran berharga. Pelajaran ini penting untuk menghadapi World Junior Championships (WJC) 2026. Ia menilai format beregu dengan sistem game 55 poin menuntut kemampuan memanfaatkan momentum dan ketenangan dalam situasi tertekan. "Secara kualitas kami mampu bersaing, tetapi lawan tampil lebih tenang karena memiliki pengalaman internasional yang lebih banyak," ujarnya.

"Ke depan kami akan menjadikan seluruh catatan dari AJC sebagai bahan pembenahan, baik dari sisi taktikal, peningkatan fisik, maupun penambahan jam terbang internasional. Kami berharap para atlet dapat menunjukkan penampilan yang lebih baik pada World Junior Championships nanti," pungkas Eskar.

Kegagalan di Kejuaraan Asia Junior 2026 menjadi alarm bagi PBSI. Persaingan di level junior Asia semakin ketat. Banyak negara berkembang pesat. Indonesia harus bekerja lebih keras. Fokusnya bukan hanya pada hasil akhir, tapi juga pada proses pembinaan. Pengalaman bertanding di level internasional menjadi kunci. Tanpa itu, sulit bagi atlet muda Indonesia untuk bersaing dengan lawan-lawan yang lebih tenang dan berpengalaman.

evaluasi PBSIKejuaraan Asia Junior 2026bulutangkis juniorpersiapan WJC 2026pembinaan atletpengalaman internasionalFardhan Joe

Komentar

Memuat komentar...