Pemerintah Larang AI untuk Siswa, Koding dan PR Tulis Tangan Diteruskan

Ningsih R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 54 dibaca
Bisik.id
Pemerintah Larang AI untuk Siswa, Koding dan PR Tulis Tangan Diteruskan

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 7 menteri telah memutuskan untuk melarang penggunaan generatif Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT untuk siswa di tingkat SD hingga SMA. Walaupun demikian, pelajaran tentang koding dan AI akan tetap diajarkan di sekolah-sekolah yang siap melaksanakan program ini. Pelajaran tersebut akan dimulai dari kelas 5 SD dan diteruskan di SMP, SMA, dan SMK.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyatakan bahwa materi pelajaran koding dan AI dirancang untuk aman dan mendukung proses belajar murid, terutama yang berusia di bawah 16 tahun. Ia menegaskan bahwa tujuan dari pelajaran ini adalah agar siswa memiliki kemampuan dalam menggunakan teknologi, khususnya AI.

Selain untuk siswa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga akan memberikan pelatihan bagi guru yang mengajar pelajaran koding dan AI. Materi pembelajaran akan disediakan secara terpusat oleh kementerian. "Dengan adanya materi dari kami, kami bisa menjamin bahwa apa yang diajarkan adalah penggunaan koding dan AI yang aman dan mendukung kegiatan pembelajaran," ungkap Menteri Mu'ti.

Di tengah pelaksanaan pelajaran koding dan AI, Menteri Mu'ti juga memperkenalkan inisiatif baru. Ke depan, tugas dan pekerjaan rumah (PR) diimbau untuk kembali menggunakan metode konvensional, yaitu ditulis dengan tangan. Menurutnya, menulis tangan memberikan banyak manfaat dalam mengembangkan kemampuan berpikir anak.

"Kita akan menggabungkan penggunaan teknologi dengan metode pembelajaran tradisional yang menekankan kemampuan otentik anak dalam berpikir, mengembalikan gagasan, dan menulis," kata Mu'ti. Dalam proses menulis, kemampuan motorik anak juga akan terlatih, sehingga mereka tetap aktif saat mengerjakan tugas, berbeda dengan saat menggunakan ponsel.

Menteri Mu'ti menjelaskan bahwa tugas yang ditulis tangan akan membuat penugasan bagi siswa lebih beragam di masa depan. Tidak hanya mengerjakan soal di lembar kerja siswa (LKS), tetapi juga bisa mencakup membaca atau menulis resume secara manual. Ia mencatat bahwa PR yang berbentuk mengerjakan soal di LKS sering kali tidak dikerjakan oleh siswa, dan terkadang dikerjakan oleh orang tua atau guru privat.

Salah satu contoh variasi tugas yang menggabungkan teknologi dengan pembelajaran konvensional adalah penggunaan IFP (interactive flat panel/smartboard). Dengan alat ini, siswa bisa menonton film atau video pembelajaran, namun mereka diharuskan untuk membuat resume dari tayangan tersebut dengan menulis tangan. Dengan cara ini, Mu'ti yakin bahwa PR atau tugas tersebut akan dikerjakan oleh siswa sendiri, memastikan mereka benar-benar mempelajari materi dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka.

Keputusan ini mencerminkan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan mengedepankan metode yang lebih efektif dan aman bagi siswa.

pemerintahArtificial IntelligenceChatGPTkodingmata pelajarantulis tanganMendikdasmentugas rumah

Komentar

Memuat komentar...