Pemerintah Yakin Ekonomi 2026 Tumbuh 5,4-5,5%

Ika P. · 2 min baca · 2 jam lalu · 19 dibaca
Bisik.id
Pemerintah Yakin Ekonomi 2026 Tumbuh 5,4-5,5%

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Indonesia masih percaya diri dengan prospek ekonomi nasional. Meskipun tekanan global meningkat, konflik geopolitik memanas, dan kebijakan moneter dunia semakin ketat, target pertumbuhan ekonomi 2026 tetap di angka 5,4% hingga 5,5%.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan hal ini dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Selasa 3 November 2026. Menurutnya, ada dua pilar utama yang menopang optimisme ini: permintaan domestik yang kuat dan ekspor yang terus positif.

"Ekonomi Indonesia di tahun 2026 diperkirakan tumbuh di sekitar 5,4%-5,5% year-on-year," kata Suahasil.

Konsumsi rumah tangga, jelasnya, masih menjadi motor penggerak. Pemerintah terus mengucurkan berbagai stimulus fiskal. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berfungsi sebagai peredam guncangan. Caranya? Melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan, dan program penciptaan lapangan kerja.

Investasi juga diprediksi menguat. Proyek hilirisasi dan pembangunan infrastruktur yang masuk program prioritas pemerintah menjadi pendorong utamanya.

Dari sisi eksternal, kinerja ekspor nonmigas meningkat. Pemerintah mendorong pemanfaatan momentum kenaikan harga dan permintaan komoditas ekspor.

"Di sisi eksternal, kinerja ekspor nonmigas meningkat dan semakin didorong untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga dan permintaan komoditas ekspor," terang Suahasil.

Optimisme ini bukan tanpa dasar. Beberapa indikator riil di dalam negeri menunjukkan tren positif. Penjualan kendaraan bermotor melonjak. Pada September, penjualan mobil tumbuh 28,1% year-on-year. Penjualan sepeda motor juga naik 15,4% year-on-year.

Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga menunjukkan ekspansi. Angkanya naik dari 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026. Ini menandakan sektor manufaktur terus berkembang.

"Kinerja positif perekonomian juga didukung oleh beberapa indikator ekonomi, antara lain penjualan mobil dan motor yang tumbuh tinggi masing-masing 28,1% year-on-year dan 15,4% di bulan September, dan PMI manufaktur yang melanjutkan ekspansi dari 52 di bulan September menjadi 54 di bulan Oktober ini," papar Suahasil.

Untuk menjaga momentum ini, pemerintah tidak bekerja sendiri. Anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya turut terlibat. Ada Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Danantara selaku pengelola BUMN. Mereka berkomitmen memperkuat bauran kebijakan.

"Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, penguatan sinergi kebijakan pemerintah dan BI, serta kolaborasi pemerintah dan danantara melalui pendekatan whole-of-the-state terus diperkuat untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan bernilai tambah tinggi," pungkas Suahasil.

Angka-angka ini menunjukkan keyakinan pemerintah pada fundamental ekonomi domestik. Meskipun dunia tidak menentu, konsumsi rumah tangga dan investasi masih diandalkan sebagai penopang utama. Data penjualan kendaraan dan PMI manufaktur menjadi bukti bahwa sektor riil masih bergerak. Namun, tekanan eksternal tetap menjadi variabel yang perlu diwaspadai. Kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan.

pertumbuhan ekonomioptimisme pemerintahkonsumsi rumah tanggaekspor nonmigasPMI manufakturhilirisasikebijakan fiskal

Komentar

Memuat komentar...