Penambang Pasir di Lumajang Terluka 80 Persen Akibat Letusan Sekunder Semeru
Gambar atau konten salah?
Seorang penambang pasir bernama Very Irawan (33) mengalami luka bakar parah hingga 80 persen di tubuhnya. Peristiwa ini terjadi setelah ia tertimbun material vulkanik sisa erupsi Gunung Semeru. Korban saat ini tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Dokter Haryoto, Kabupaten Lumajang.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menyayangkan masih adanya aktivitas penambangan pasir di zona rawan bencana. Ia menekankan bahwa kegiatan ini seharusnya tidak dilakukan, terutama di luar jam operasional yang sudah ditetapkan. Menurut Indah, bahaya tidak hanya datang dari erupsi atau awan panas guguran Gunung Semeru. Material vulkanik yang tersebar di sepanjang aliran sungai juga menyimpan suhu panas yang sangat tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan risiko sekunder.
"Saya sudah menghimbau agar tidak melakukan aktifitas penambangan di sektor tenggara besuk kobokan sejauh 13 kilometer," ujar Indah pada Sabtu, 19 Juni 2026.
Korban, yang merupakan warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, tertimbun material panas saat tengah menambang di sekitar Jembatan Besuk Kobokan. Insiden ini terjadi pada hari yang sama dengan erupsi Gunung Semeru, Sabtu 19 Juni 2026. Saat itu, erupsi disertai guguran awan panas yang membawa dampak langsung.
Kakak korban, Aris Susanto, menjelaskan kronologi kejadian. Petaka bermula ketika material vulkanik sisa erupsi Semeru yang masih menyimpan suhu panas tinggi tiba-tiba longsor. Longsoran ini terjadi saat material panas tersebut bersentuhan langsung dengan aliran air sungai. Kontak antara panas dan air itu seketika memicu letusan sekunder yang menyembur ke arah korban.
"Awalnya korban menambang, kemudian tiba-tiba longsor dan terkena air sehingga terjadi letusan sekunder dan menimpa korban," kata Aris kepada awak media pada Sabtu, 19 Juni 2026.
Kejadian ini menjadi pengingat akan bahaya laten yang mengintai di kawasan sekitar Gunung Semeru. Material vulkanik yang tampak padat dan dingin di permukaan ternyata masih menyimpan energi panas yang dahsyat di dalamnya. Kontak dengan air sungai dapat memicu reaksi eksplosif yang tidak terduga, seperti yang dialami oleh Very Irawan. Peristiwa ini menegaskan bahwa area di sekitar aliran sungai yang terkena dampak erupsi tetap berbahaya, bahkan setelah letusan utama mereda.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gus Yahya Pastikan Kyai Ma'ruf Amin Hadir di Munas NU Kediri
Frisian Flag Gelar Acara Edukatif di Surabaya, Sambut Antusiasme Keluarga
Pemuda 21 Tahun Ditemukan Tewas Tenggelam di Sungai Kalimas Surabaya
Suroboyo Bus Keluarkan Asap Hitam, Penumpang Berhamburan
Anggota DPR: Kritik MBG Jangan Berubah Jadi Ujaran Kebencian
Kapolri Ziarahi Makam Bung Karno di HUT Bhayangkara ke-80
Berita Terbaru
Transmart Diskon Mesin Cuci Sharp Rp 4 Juta, Hemat Rp 2 Juta
Dokter Bantah Mitos: Wortel Tak Bisa Sembuhkan Mata Minus
Qatar Gagal Lagi di Piala Dunia 2026, Masih Nihil Kemenangan
Turis China Dirampok Bersenjata di Mexico City
Cedera Hamstring Raphinha, Brasil Khawatir di Piala Dunia
Dokter Bantah Mitos Mata Kedutan, Sebut Penyebabnya Karena Lelah
Richards: Bicara Juara Piala Dunia 2026 Tak Berlebihan
Kemdiktisaintek Buka Beasiswa Doktor untuk Dosen 2026