Penjual Makanan Tutup Warung Dua Bulan, Masak Gratis Setiap Hari
Gambar atau konten salah?
Seorang penjual makanan di Singapura memilih menutup warungnya selama dua bulan. Bukan karena sepi pembeli. Alasannya: ia harus merawat orang tuanya. Tapi di balik itu, ada cerita lain yang lebih menarik.
Hani-Isnine Racine punya warung bernama Traditional Malay Muslime Cuisine di Kukoh 21 Hawker Centre. Selama tutup, ia tidak tinggal diam. Ia tetap memasak. Mie goreng dan nasi lemak ia buat, lalu diletakkan di luar gerai. Gratis. Siapa pun yang lewat bisa mengambilnya. Ini ia lakukan setiap hari, selama dua bulan penuh.
Ia khawatir. Bukan soal kehilangan uang. Tapi soal pelanggan setianya. Sebagian besar dari mereka adalah warga lanjut usia yang tinggal di flat sewaan di sekitar Kukoh. Mereka sudah bergantung pada warung Hani selama bertahun-tahun. "Saya lebih khawatir mereka tidak akan punya makanan. Saya sudah mengenal mereka selama bertahun-tahun," kata Hani kepada Berita Harian (BH), seperti dilaporkan mothership.sg pada 8 Juli 2024.
Warung itu akhirnya buka kembali pada 6 Juli 2024. Hani tidak bisa membayangkan jika harus tutup permanen. Baginya, warung ini bukan sekadar tempat jualan.
Yang membuat warung Hani istimewa adalah harganya. Sejak November 2023, ia menstandarkan semua menu menjadi S$2,50 atau sekitar Rp 34.996. Padahal sebelumnya, harga hidangan Melayu seperti nasi lemak, nasi rawon, mee rebus, mee soto, nasi ayam, dan lontong berkisar antara S$3 (Rp 41.964) hingga S$4,50 (Rp 62.946). Harga S$2,50 itu bertahan sampai sekarang, meski biaya bahan baku dan operasional terus naik.
Kenapa ia tidak menaikkan harga? "Saya membuka kios ini untuk masyarakat. Saya hanya ingin berkontribusi semampu saya dan melakukan apa yang saya bisa untuk orang-orang di sini," ujar Hani kepada BH.
Ada alasan lain. Hani ingin menjaga martabat pelanggannya. Menurutnya, dengan S$10 (Rp 139.989), pelanggan bisa mendapat empat hidangan tanpa merasa seperti meminta sedekah. Harga murah bukan soal tidak menghargai makanan. Tapi soal membuat semua orang bisa makan dengan layak.
Konsekuensinya? Pendapatan Hani menurun drastis. Banyak hari ia tidak mendapat penghasilan sama sekali. Situasi makin berat setelah pajak barang dan jasa (GST) naik menjadi 9 persen pada Januari 2024. Ditambah kenaikan harga bahan baku, utilitas, dan biaya operasional lainnya.
Sekarang, Hani menghabiskan sekitar S$500 per hari untuk membeli daging, sayuran, dan kebutuhan memasak. Belum lagi beras. Ia harus membeli 50 kilogram beras setiap empat hari sekali. Masalahnya, ruang penyimpanan terbatas. Ia tidak bisa membeli dalam jumlah besar. Jadi hampir setiap hari ia harus belanja.
Banyak orang bertanya: apakah harga S$2,50 realistis? Hani menjawab, apa yang dianggap murah oleh orang lain, mungkin masih terlalu mahal bagi sebagian pelanggannya. Ia tidak mau mereka kehilangan akses ke makanan.
Setelah hampir enam tahun menjalankan kios ini, Hani mengaku pelanggannya sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tujuannya bukan sekadar menjual makanan. "Karena itulah, jika suatu hari saya tidak dapat melanjutkannya lagi, saya merasa akan kehilangan tujuan hidup saya," jelasnya.
Cerita Hani menunjukkan bagaimana seorang penjual kecil bisa punya dampak besar. Bukan karena omzetnya. Tapi karena ia memilih untuk melayani, bukan sekadar mencari untung. Di tengah tekanan ekonomi, ia tetap bertahan dengan prinsip yang sederhana: makanan harus terjangkau, dan tidak ada yang boleh kelaparan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Penjual Makanan Tutup Warung Dua Bulan, Masak Gratis Setiap Hari
Tumpahan Batubara Pangandaran: Logam Berbahaya Mengendap di Dasar Laut
Yaris Cross Hybrid Teruji Hanya 7,1 Liter dari Jakarta ke Bandung
Persija Rekrut Bek Bosnia Kerim Memija
Headphone Sony Kini Bisa Lacak Gerakan Kepala di Game PC
Prabowo Umumkan Temuan Cadangan Emas Baru di Papua
Laba BTN Melonjak 54%, Didorong Danantara