Pensiunan Protes, Gembok Bank Digantungi Kerupuk

Vera T. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pensiunan Protes, Gembok Bank Digantungi Kerupuk

Gambar atau konten salah?

Ratusan pensiunan yang menjadi korban dugaan penipuan oleh mantan karyawan Bank Mandiri Taspen Purwokerto, N alias Dika (36), akhirnya membubarkan diri setelah berjam-jam melakukan aksi protes. Mereka mengakhiri demonstrasi pada Kamis, 09 Juli 2026, sekitar pukul 14.00 WIB dengan cara yang tidak biasa.

Sebelum pulang, para pengunjuk rasa sempat makan bersama di selasar kantor bank yang sudah dalam kondisi tertutup. Pintu rolling door bank sudah digembok oleh manajemen sejak pukul 12.00 WIB. Massa kemudian memasang spanduk berisi tuntutan mereka, dan meninggalkan beberapa benda simbolis di halaman pintu masuk. Ada keranda, boneka pocong, dan yang paling menarik perhatian adalah kerupuk yang dililitkan di pengait pintu masuk.

Djoko Susanto, kuasa hukum para korban, menjelaskan bahwa kerupuk itu bukan sekadar hiasan. Ini adalah simbol kekecewaan terhadap sikap manajemen bank yang dinilai tidak bertanggung jawab. "Banknya kan tutup, itu simbol mentalnya kerupuk tidak menyelesaikan kasus ini, malah pada kabur. Itu pesan moral dari kami, jadi pintunya dijirat digantungi kerupuk," kata Djoko kepada wartawan di lokasi.

Menurut Djoko, para korban sudah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka sudah melapor ke kantor pusat Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Kita sudah upayakan baik melalui secara legalitas sudah kita lakukan upaya pelaporan melalui Otoritas Jasa Keuangan melalui penyidik OJK. Tuntutan kita satu adalah pemberhentian atau pembatalan kredit para nasabah yang bermasalah ini," terangnya.

Selain itu, Djoko juga meminta penyidik untuk menyelesaikan kasus ini dengan cepat. Ia bahkan meminta agar kantor Bank Mandiri Taspen Purwokerto tidak beroperasi selama proses penyidikan berlangsung. "Saya juga meminta kepada penyidik untuk segera dalam waktu tidak terlalu lama agar kantor ini dibekukan Mandiri Taspen Purwokerto untuk dicabut izin operasionalnya sampai dengan batas waktu penyelesaian terhadap kredit yang dinilai bermasalah," jelasnya.

Aksi ini sebenarnya merupakan lanjutan dari demonstrasi yang digelar pada akhir Juni lalu. Para pensiunan yang menjadi korban dugaan penipuan oleh N alias Dika kembali turun ke jalan karena tuntutan mereka belum juga dipenuhi. Mereka mulai berdatangan sejak pukul 08.55 WIB, berorasi di depan kantor sambil membawa berbagai atribut aksi.

Salah satu yang menarik perhatian adalah sebuah keranda yang ditutup kain hitam. Di kain itu tertulis tuntutan agar harta para pensiunan tidak dirampas. Massa juga membawa boneka pocong yang dipasangi tulisan berisi tuntutan serupa. "Ini kan aksi lanjutan karena belum ada kepastian yang jelas. Kita hanya minta pembatalan kredit. Kalau tidak mampu, ya kita akan tutup bank ini, kita akan segel sampai ada penyelesaian masalah dan proses hukum. Permintaan kami masih tetap, batalkan kredit," kata Djoko.

Djoko mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menemui penyidik dari OJK pusat untuk menyerahkan sejumlah data. Data-data itu dianggap sebagai bukti adanya dugaan kesalahan dari pihak Bank Mandiri Taspen. "Kemarin saya selaku kuasa hukum sudah ketemu dengan OJK pusat, mengambil data-data dan wawancara dengan kita. Terus kita menyerahkan data-data kesalahan yang ada dari pihak Mandiri. Sekarang sudah masuk ke proses, kita juga sudah bertemu dengan penyidik OJK pusat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Bank Mandiri Taspen Purwokerto, Puguh Setiaris, meminta massa untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan di kepolisian. Pihaknya mengklaim sudah membuka posko pengaduan untuk masyarakat yang menjadi korban. "Kita sepakat hormati hukum, kita semua ada prosedurnya, jadi kalau kita mau menyampaikan aspirasi terkait pembatalan kredit. Bisa kita buat ruang ngobrol, karena kita ada posko pengaduan. Kita sudah melakukan sesuai prosedur," kata Puguh di hadapan massa.

Kasus ini bermula dari dugaan penipuan yang dilakukan oleh N alias Dika, mantan karyawan Bank Mandiri Taspen Purwokerto. Para korban adalah pensiunan yang mengaku dirugikan secara finansial. Mereka menuntut pembatalan kredit yang dibebankan kepada mereka. Aksi protes dengan simbol-simbol unik seperti kerupuk dan boneka pocong ini menunjukkan tingkat frustrasi yang tinggi karena tuntutan mereka belum juga mendapatkan kepastian dari pihak bank maupun otoritas terkait.

pensiunanpenipuanBank Mandiri Taspenproteskerupuksimbol kekecewaanpembatalan kredit

Komentar

Memuat komentar...