Persembahan atau Pemborosan? Refleksi Renungan Tiga Titik

Ika P. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 53 dibaca
Bisik.id
Persembahan atau Pemborosan? Refleksi Renungan Tiga Titik

Gambar atau konten salah?

30 Maret 2026 – Hari ini umat Katolik mengkaji tema Persembahan atau Pemborosan? Tema ini diambil dari buku Renungan Tiga Titik karya Twiggy. Refleksi ini mengajak kita melihat nilai persembahan bukan dari besarnya, melainkan dari ketulusan hati.

Renungan harian Katolik berfungsi sebagai panduan rohani. Melalui bacaan Kitab Suci, refleksi, dan doa, umat dapat mendalami firman Tuhan dalam kehidupan sehari‑hari. Setiap hari, bacaan yang dipilih menuntun kita menelusuri makna iman dalam situasi nyata.

Bacaan I: Yesaya 42:1‑7 mengungkapkan “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan‑Ku, yang kepadanya Aku berkenan.” Tuhan menempatkan Roh-Nya pada hamba itu agar ia menyampaikan hukum kepada bangsa‑bangsa. Hamba itu tidak akan berteriak atau menyesatkan, melainkan akan setia menyatakan hukum. Ia tidak akan pudar atau patah, melainkan akan menegakkan hukum di bumi, sehingga semua pulau menantikan pengajarannya.

Ayat ini menegaskan bahwa panggilan Tuhan bagi setiap orang adalah untuk menjadi pengajar dan pembawa kebenaran. Meskipun tidak ada janji tentang kekayaan atau kekuasaan, ada janji tentang kehadiran Roh dan tugas yang mulia.

Mazmur Tanggapan: Mazmur 27:1,2,3,13‑14 memulai dengan “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” Mazmur ini menegaskan kepercayaan pada Tuhan sebagai benteng hidup. Ia menegaskan bahwa ketika musuh menyerang, ia tetap tidak takut, karena ia percaya akan melihat kebaikan Tuhan. Mazmur ini mengajak kita menunggu dan memperkuat hati.

Dengan kata lain, iman yang kuat tidak tergoyahkan oleh ancaman atau peperangan. Ia tetap percaya pada janji Tuhan, menunggu kebaikan yang akan datang.

Bacaan Injil: Yohanes 12:1‑11 menceritakan peristiwa enam hari sebelum Paskah ketika Yesus datang ke Betania. Maria mengambil setengah liter minyak narwastu murni, mengurapi kaki Yesus, dan menutupnya dengan rambutnya. Bau minyak semerbak memenuhi rumah. Yudas Iskariot, salah satu murid, menanyakan, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang‑orang miskin?” Ia menganggap tindakan Maria sebagai pemborosan.

Yesus menanggapi Yudas dengan mengatakan, “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang‑orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.” Ia menegaskan bahwa tindakan Maria adalah persembahan yang berharga, bukan pemborosan.

Peristiwa ini menyoroti dua perspektif: Maria melihat tindakan itu sebagai pengabdian penuh kasih, sementara Yudas melihatnya sebagai pemborosan. Yesus memihak pada Maria, menegaskan bahwa persembahan sejati berasal dari hati.

Dalam refleksi pribadi, saya pernah menjadi mantan sekretaris bank swasta. Meskipun sudah tidak lagi memimpin, saya masih mengirimkan hadiah pada ulang tahun mantan atasan saya sebagai bentuk penghormatan. Mungkin bagi orang lain ini tampak pemborosan, namun bagi saya itu adalah rasa hormat dan kenangan atas pelajaran hidup yang diberikan. Saya bertanya pada diri sendiri: Apakah tindakan saya seperti Maria, ataukah saya seperti Yudas yang mengorbankan dana?

Setiap orang dihadapkan pada pilihan: memberi dengan sepenuh hati atau menilai kembali nilai persembahan. Pertanyaannya adalah, apakah kita sudah menempatkan hati dalam setiap persembahan? Apakah kita menilai tindakan orang lain dengan adil, atau hanya menilai dari sudut pandang material?

Doa Penutup: “Terima kasih Tuhan untuk firman‑Mu hari ini, memberikan penguatan kepada kami untuk bertindak benar dan selalu bersyukur atas semua yang telah Kau berikan pada kami. Ajarilah kami berlaku jujur dan mampu memahami kebaikan yang telah orang lain berikan kepada kami. Semua karena atas kehendak‑Mu. Demi Kristus pengantara kami.”

Hari ini, kita diingatkan bahwa persembahan tidak harus besar atau mahal. Yang penting adalah niat dan ketulusan. Tindakan kecil, seperti mengurapi kaki Yesus atau memberi hadiah kepada mantan atasan, bisa menjadi bentuk pengabdian yang berarti.

Kesimpulannya, refleksi ini menegaskan bahwa persembahan sejati berasal dari hati yang tulus. Kita diundang untuk menilai kembali apa yang kita anggap pemborosan dan mencari cara untuk memberi dengan penuh kasih, mengikuti contoh Maria dan menghindari sikap Yudas. Dengan demikian, setiap tindakan kita dapat menjadi persembahan yang bermakna bagi Tuhan dan sesama.

PersembahanPemborosanKatolikMariaYudas IskariotKetulusan HatiPengabdian

Komentar

Memuat komentar...