PLN dan Batu Bara Perkenalkan Elektrifikasi Tambang
Gambar atau konten salah?
PT PLN (Persero) telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) dan Memorandum of Understanding (MoU) Integrated Business Solution. Kesepakatan ini bertujuan mempercepat elektrifikasi operasional tambang di Indonesia.
Dalam PJBTL, PLN berkolaborasi dengan beberapa produsen batu bara. PT Trubaindo Coal Mining berkapasitas 30 MVA, PT Sembada Makmur Sejahtera 55 MVA, PT Marga Bara Jaya 35 MVA, PT Maruwai Coal 71 MVA, PT Makmur Sejahtera Wisesa 106 MVA, dan PT Berau Coal 29 MVA menjadi mitra utama. Kesepakatan ini menegaskan komitmen PLN untuk menyediakan pasokan listrik yang stabil bagi industri pertambangan.
Untuk skema Integrated Business Solution, anak usaha PLN bekerja sama dengan beberapa perusahaan. PT Masmindo Dwi Area bertanggung jawab atas pembangunan instalasi dan gardu pelanggan. PT Maruwai Coal turut mendukung pembangunan instalasi milik pelanggan. Sementara itu, PT Sembada Makmur Sejahtera menangani pekerjaan engineering design dan pembangunan instalasi tegangan tinggi. Kolaborasi ini menandai langkah konkret menuju infrastruktur kelistrikan yang lebih terintegrasi.
Koordinator Konservasi dan Mineral Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ari Hendrawanto menilai elektrifikasi alat berat sebagai kunci utama menekan emisi di wilayah operasional tambang. Ia menegaskan, “Elektrifikasi alat berat menjadi salah satu solusi utama, mengingat konsumsi energi terbesar berada pada kegiatan pengangkutan dan pemindahan material,” dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (15 April 2026).
Ari menambahkan, transisi ini memberikan keuntungan finansial nyata bagi pelaku industri. Ia menyebutkan, “Setidaknya, pelaku industri bisa menghemat Rp 2 miliar per tahun untuk setiap unit alat berat yang menggunakan diesel.”
Ia juga menekankan potensi efisiensi yang besar jika elektrifikasi diterapkan secara luas. “Jika diterapkan secara luas, efisiensi yang dihasilkan akan sangat besar,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, menegaskan urgensi transisi energi. Ia menyatakan, “Pengembangan green mining di sektor pertambangan menjadi salah satu solusi strategis untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus memastikan keberlanjutan industri batu bara ke depan.”
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) juga menyambut baik kolaborasi ini. Ketua Umum APBI, Priyadi, berkata, “Nah ini adalah kesempatan yang baik, baik bagi kita produsen batu bara maupun PLN sebagai penyedia strumnya. Supaya ini terjadi simbiosis mutualisme yang paling menguntungkan.”
Division Head Project Expansion PT Borneo Indobara, Adi Supriyatna, menegaskan bahwa elektrifikasi adalah langkah strategis menuju pertambangan hijau. Ia menjelaskan, “Elektrifikasi PT Borneo Indobara merupakan langkah strategis menuju pertambangan hijau untuk merespons ancaman perubahan iklim dan tren kenaikan harga bahan bakar. Transisi ini didukung oleh pembangunan infrastruktur kelistrikan secara masif bersama PLN guna mengoperasikan berbagai alat berat listrik serta stasiun pengisian daya bagi 700 unit truk listrik.”
Keseluruhan inisiatif ini mencerminkan sinergi antara PLN, produsen batu bara, dan lembaga pemerintah. Elektrifikasi di sektor pertambangan tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga menawarkan penghematan biaya operasional bagi industri. Dengan dukungan infrastruktur yang kuat, langkah ini dapat memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus menanggapi tantangan iklim.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
