Polisi Perketat Pengamanan Semifinal Inggris vs Argentina di Atlanta

Hari W. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Polisi Perketat Pengamanan Semifinal Inggris vs Argentina di Atlanta

Gambar atau konten salah?

Kota Atlanta bersiap. Kepolisian Atlanta (APD) memperketat pengamanan di seluruh penjuru kota. Ini bukan tanpa alasan. Sebuah pertandingan besar akan digelar: semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina. Laga ini dinilai berisiko tinggi.

Kenapa? Sejarah kedua negara punya luka lama. Perang Falkland tahun 1982 masih membekas. Belum lagi, akhir pekan lalu, video bentrokan antara suporter Inggris dan Argentina beredar luas di internet. Kericuhan itu terjadi di Miami, tempat berlangsungnya laga perempat final antara Norwegia dan Inggris.

APD tidak mau mengambil risiko. Pertandingan di Atlanta Stadium akan digelar pada Kamis, 16 Juli 2026 pukul 02.00 WIB. Mereka memutuskan untuk mempertebal lapisan pengamanan. Fanatisme suporter kedua tim sudah bukan rahasia lagi.

"Seiring persiapan Atlanta menjadi tuan rumah semifinal Piala Dunia dan menyambut peningkatan jumlah penduduk dan pengunjung, APD meningkatkan postur keamanan dan keselamatan publik di seluruh kota," demikian pernyataan resmi APD kepada The Athletic.

Mereka menambahkan, "Personel dan sumber daya tambahan telah dikerahkan dan akan terus ditugaskan secara strategis di dalam dan sekitar tempat acara, distrik hiburan, dan area ramai lainnya untuk membantu memastikan pengalaman yang aman dan menyenangkan bagi semua orang."

"Langkah-langkah proaktif ini dirancang untuk melindungi masyarakat, mencegah aktivitas kriminal, dan memastikan penduduk dan pengunjung dapat menikmati acara bersejarah ini dengan aman."

Ada satu hal yang menarik. Berbeda dengan kebanyakan kompetisi di Eropa atau Amerika Latin, suporter kedua tim yang bertanding di Piala Dunia tidak dipisah. Mereka bisa duduk berdampingan. Ini sudah menjadi pemandangan biasa selama turnamen berlangsung.

Meski sempat ada kericuhan di Miami, secara keseluruhan sikap suporter Inggris selama Piala Dunia di Amerika Serikat tergolong tertib. Ironisnya, kasus pelanggaran hukum justru banyak terjadi di dalam negeri sendiri.

Angkanya cukup mengejutkan. Lebih dari 500 kasus terjadi di Inggris pada pertandingan melawan Norwegia. Dari jumlah itu, 100 di antaranya berujung pada penangkapan. Pertandingan yang digelar pada malam atau dini hari waktu setempat menjadi salah satu pemicunya. Alkohol juga ikut ambil bagian.

"Sebagian besar insiden ini terkait dengan alkohol, dan seiring dengan perpanjangan jam operasional tempat hiburan, kami melihat peningkatan panggilan ke tempat-tempat dengan layar besar yang menarik banyak fan. Perilaku ini sungguh mengecewakan. Di dalam negeri, turnamen ini adalah yang terburuk yang kami lihat dalam jumlah insiden dan penangkapan," ujar Mark Roberts, kepala kepolisian UKFPU yang menangani pengamanan terkait sepak bola di Inggris.

Roberts lalu membandingkan. "Jika kita bisa memiliki 40.000 penggemar bersama di Miami tanpa masalah, mengapa penggemar tidak bisa mengikuti perilaku teladan mereka dan melakukan hal yang sama di dalam negeri?"

Ia kemudian menyampaikan pesan tegas. "Menjelang duel hari Rabu (melawan Argentina), saya mendesak para fan di dalam negeri untuk mengikuti teladan mereka di AS - nikmati pertandingan dan suasananya, keluar dan bersenang-senanglah, tetapi lakukan itu tanpa menimbulkan masalah bagi diri sendiri dan orang lain."

Situasi ini menunjukkan kontras yang menarik. Suporter Inggris di luar negeri bisa tertib, tapi di rumah sendiri justru bermasalah. Alkohol dan jam tayang larut malam menjadi faktor pemicu utama. Pihak kepolisian berharap para penggemar bisa meniru perilaku baik rekan-rekan mereka yang berada di Amerika Serikat. Pertandingan melawan Argentina jelas bukan laga biasa. Beban sejarah dan rivalitas membuatnya sangat sensitif. Atlanta pun bersiap, bukan hanya untuk menyambut para pemain, tapi juga untuk mengendalikan ribuan pasang mata yang datang dengan emosi masing-masing.

Piala Dunia 2026Atlantapengamanan ketatsuporterInggrisArgentinakericuhan

Komentar

Memuat komentar...