Prabowo Resmi Luncurkan B50, Indonesia Tak Lagi Impor Solar

Hendra M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Prabowo Resmi Luncurkan B50, Indonesia Tak Lagi Impor Solar

Gambar atau konten salah?

Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan program mandatori biodiesel B50. Dengan campuran minyak sawit sebesar 50 persen dalam bahan bakar solar, Indonesia disebut tidak akan lagi mengimpor solar dari luar negeri.

Peluncuran berlangsung di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Jawa Barat, pada Kamis, 09 Juli 2026. Prabowo mengaku sudah lama mendorong kemandirian energi. Sejak sebelum dilantik hingga setelah menjabat, ia terus menekan timnya untuk mewujudkan hal itu.

"Dari sejak saya belum dilantik sampai saya dilantik saya teruskan dorong dan menuntut tim saya kemandirian energi. B40 itu tidak cukup, bahkan pada saat itu saya mendorong ke arah B100," kata Prabowo dalam sambutannya.

B100 adalah bahan bakar yang seluruhnya berasal dari olahan kelapa sawit. Namun, para menteri melaporkan bahwa B50 saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan campuran minyak sawit 50 persen, Indonesia tidak perlu lagi membeli solar dari luar.

"Tapi menteri saya yakinkan saya dengan adanya B50 saja kita tak impor solar lagi dari luar negeri. Jadi ini adalah suatu prestasi bangsa luar biasa," ujar Prabowo.

Ia menegaskan bahwa Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel dengan campuran FAME kelapa sawit sebesar 50 persen. "Saudara sekalian dengan diluncurkannya program ini Indonesia resmi jadi negara pertama di dunia yang terapkan mandatori biodiesel B50," kata Prabowo.

Menurutnya, ini bukan sekadar pencapaian teknologi. Ini bukti bahwa Indonesia mampu menggunakan kekayaan alam untuk kepentingan rakyat sendiri. Ia menyebut ini sebagai tonggak penting untuk menunjang kemandirian energi.

PT Pertamina Patra Niaga sudah mulai menyalurkan B50. Pada tahap awal, sebanyak 37,92 juta liter B50 dikirim ke berbagai wilayah. Penyaluran dilakukan melalui 29 dari total 126 terminal Pertamina.

Perusahaan juga menyiapkan infrastruktur pendukung. Mulai dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) hingga lembaga penyalur seperti SPBU dan Agen Premium Minyak Solar (APMS).

Dampak ekonomi dari program ini cukup besar. Pada 2025, program B40 berhasil menghemat devisa sebesar Rp 133,3 triliun. Dengan B50 pada 2026, angka itu diperkirakan naik menjadi sekitar Rp 170 triliun.

Nilai tambah dari crude palm oil (CPO) juga meningkat. Dari Rp 20,92 triliun menjadi sekitar Rp 23,49 triliun. Program ini diperkirakan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja. Emisi gas rumah kaca juga turun hingga sekitar 44,46 juta ton CO₂ pada 2026.

Prabowo mengatakan, ini bukan sekadar pencapaian teknologi. Ini bukti bahwa Indonesia mampu menggunakan kekayaan alam untuk kepentingan rakyat sendiri. Ia menyebutnya sebagai tonggak penting untuk menunjang kemandirian energi.

Sebelumnya, program B40 sudah berjalan. Namun, Prabowo mendorong lebih jauh. "B40 itu tidak cukup, bahkan pada saat itu saya mendorong ke arah B100," ujarnya.

Para menteri meyakinkan Prabowo bahwa B50 sudah sangat baik. Dengan campuran olahan sawit 50 persen, Indonesia tidak lagi mengimpor solar. "Jadi ini adalah suatu prestasi bangsa luar biasa," kata Prabowo.

Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel dengan campuran FAME kelapa sawit sebesar 50 persen. "Saudara sekalian dengan diluncurkannya program ini Indonesia resmi jadi negara pertama di dunia yang terapkan mandatori biodiesel B50," ujar Prabowo.

PT Pertamina Patra Niaga sudah menyalurkan 37,92 juta liter B50 untuk tahap awal. B50 disalurkan melalui 29 dari 126 terminal Pertamina ke berbagai wilayah di Indonesia. Infrastruktur penyaluran juga sudah disiapkan, mulai dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) hingga SPBU dan Agen Premium Minyak Solar (APMS).

Program ini membawa dampak ekonomi dan lingkungan. Pada 2025, program B40 menghemat devisa sebesar Rp 133,3 triliun. Dengan B50 pada 2026, penghematan diperkirakan naik menjadi sekitar Rp 170 triliun. Nilai tambah CPO juga meningkat dari Rp 20,92 triliun menjadi sekitar Rp 23,49 triliun. Program ini menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja dan menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 44,46 juta ton CO₂ pada 2026.

Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50. Ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan juga soal bagaimana kekayaan alam digunakan untuk kepentingan rakyat sendiri.

B50mandatori biodieselkelapa sawitkemandirian energiimpor solarPrabowo SubiantoPertaminadevisa

Komentar

Memuat komentar...