Prabowo Resmi Luncurkan B50, Indonesia Tak Lagi Impor Solar

Rudi H. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Prabowo Resmi Luncurkan B50, Indonesia Tak Lagi Impor Solar

Gambar atau konten salah?

Pemerintah resmi meluncurkan program Biosolar B50. Bahan bakar ini mencampurkan 50% minyak sawit ke dalam solar. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil dan impor solar dari luar negeri.

Peluncuran dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Acara berlangsung di Rest Area Km 57, Karawang, Jawa Barat, pada Kamis, 08 Juli 2026. Dalam sambutannya, Prabowo menyebut Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menjalankan program ini.

"Dengan diluncurkan program ini Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50," kata Prabowo di lokasi acara.

Menurut Prabowo, program ini bukan soal teknologi semata. Lebih dari itu, ini menunjukkan kemampuan Indonesia mengelola sumber daya alamnya sendiri. "Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alam sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri. Ini adalah tonggak yang sangat penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi," ujarnya.

Prabowo mendapat laporan bahwa dengan B50, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor solar. Ia mengaku sudah mendorong kemandirian energi sejak sebelum dilantik sebagai presiden. Campuran 50% minyak sawit dalam solar adalah hasil dari dorongan itu. Bahkan, ia sempat mendorong penggunaan bahan bakar yang seluruhnya dari olahan kelapa sawit.

"Dari sejak saya belum dilantik sampai saya dilantik saya teruskan dorong dan menuntut tim saya kemandirian energi. B40 itu tidak cukup, bahkan pada saat itu saya mendorong ke arah B100," ujar Prabowo.

Namun, para menteri meyakinkannya bahwa B50 sudah cukup baik. Dengan campuran 50% olahan sawit, impor solar dari luar negeri sudah tidak diperlukan lagi. "Tapi menteri saya yakinkan saya dengan adanya B50 saja kita tak impor solar lagi dari luar negeri. Jadi ini adalah suatu prestasi bangsa luar biasa," lanjut Prabowo.

Presiden juga berterima kasih kepada para ilmuwan dari berbagai kampus. Mereka terus mengkaji dan meneliti sehingga program B50 bisa terwujud. Prabowo berencana memberikan tanda kehormatan kepada mereka yang berjasa.

Ia meminta semua pihak untuk terus berinovasi. "Terima kasih para ilmuwan dari kampus-kampus, teruskan pengkajian ini. Terima kasih Pertamina dan semua jajaranmu ya, teruskan jangan berhenti di B50 kalau bisa B60. Bulan apa B60?" kata Prabowo.

Prabowo kemudian meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktur Utama Pertamina, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Rosan, dan pejabat lainnya untuk mengumpulkan nama-nama yang berjasa. "Saya minta nama-nama ya Menteri ESDM, Dirut Pertamina, Menko Ekon, Pak Rosan, dan pejabat lain saya minta mereka-mereka yang berjasa dalam proses mencapai B50, saya minta nama-namanya ya," ujarnya.

"Saya ingin memberi tanda kehormatan bintang penghargaan kepada mereka. Yang dapat bintang semuanya pangkatnya sudah tinggi, bukan soal pangkat, soal pekerjaan, jasa, hasil untuk bangsa dan negara. B50 ini hasil besar untuk bangsa dan negara dan rakyat," tambahnya.

Program B50 mewajibkan pencampuran biodiesel sebesar 50% ke dalam solar. Kebijakan ini menjadi agenda strategis pemerintah. Tujuannya menekan impor bahan bakar minyak, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, dan memperkuat ketahanan energi serta ekonomi.

Pemerintah menilai implementasi B50 bukan sekadar menambah porsi biodiesel. Program ini juga langkah untuk memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional.

Pelaksanaan program ini mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati. Juga Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 tentang kewajiban pencampuran biodiesel 50% ke dalam solar.

Masa transisi diberikan kepada badan usaha penyedia BBM. Mereka diberi waktu hingga 30 September 2026 untuk menghabiskan stok biodiesel dengan spesifikasi B40. Setelah itu, mereka harus beralih sepenuhnya ke B50.

Pemerintah memastikan implementasi B50 sudah dipersiapkan dari sisi teknis, pasokan, distribusi, dan regulasi. Pengujian dilakukan untuk memastikan kinerja, keamanan, dan kompatibilitas B50 pada berbagai jenis mesin diesel.

Program B50 menjadi langkah nyata mengurangi impor solar. Dengan campuran 50% minyak sawit, Indonesia memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah. Ini juga menjadi dasar untuk pengembangan bahan bakar nabati di masa depan, seperti yang disinggung Prabowo tentang kemungkinan B60.

Biosolar B50Prabowo Subiantokemandirian energiminyak sawitbiodieselimpor solarbahan bakar fosil

Komentar

Memuat komentar...