Dokter: Minum Milk Tea Lebih Berbahaya dari Makan Dua Porsi Nasi
Gambar atau konten salah?
Banyak orang berusaha keras mengurangi porsi nasi demi menjaga berat badan. Tapi di saat yang sama, mereka tetap santai menenggak minuman manis kekinian setiap hari. Padahal, dari sudut pandang medis, kalori dalam bentuk cairan jauh lebih berbahaya. Kalori cair ini bisa mengelabui sistem tubuh manusia, bahkan lebih parah dibandingkan kalori dari makanan padat dalam porsi besar sekalipun.
Dr Christopher Andrian, seorang Spesialis Gizi Klinik dengan gelar MGizi SpGK, menjelaskan bahwa minuman manis yang berbentuk cair membuat sistem tubuh gagal mendeteksi sinyal kepuasan saat makan. Akibatnya, seseorang bisa mengonsumsi kalori berlebihan tanpa sadar. "Minum milk tea bisa bikin lebih gemuk, karena kan dia liquid jadi alarm lapar-kenyangnya itu nggak berasa. Beda sama makan dua porsi nasi, dia pasti merasa kenyang," kata dr Christopher saat ditemui di Jakarta Selatan pada Rabu, 08 Juli 2026.
Tren minuman seperti milk tea, es kopi susu gula aren, hingga matcha latte sudah menjadi bagian dari gaya hidup perkotaan. Sayangnya, segelas minuman ini sering menyimpan bom waktu. Kandungan gulanya terlalu tinggi. Jika dikonsumsi rutin, gula itu langsung merusak sistem pengelolaan energi tubuh.
Bandingkan dengan makan dua porsi nasi. Saat kita makan nasi, lambung akan meregang. Peregangan ini mengirim sinyal kuat ke otak bahwa kapasitas penuh sudah tercapai. Sinyal itu memaksa kita berhenti makan karena merasa begah. Nasi juga butuh waktu lama untuk dicerna. Energi dari nasi dilepaskan secara bertahap ke tubuh.
Sebaliknya, milk tea atau kopi susu gula aren mengalir begitu saja melewati lambung. Minuman ini tidak memicu "alarm" peregangan mekanis di lambung. Otak tetap berpikir bahwa tubuh belum mengonsumsi apa pun. Sementara itu, aliran darah sudah langsung dibanjiri lonjakan gula instan. "Minuman seperti milk tea, kopi susu gula aren, matcha latte itu kan juga kebanyakan tinggi gula ya. Tidak sadar bisa tiba-tiba obesitas, diabetes," lanjut dr Christopher.
Akibatnya, tubuh mendapat pasokan kalori yang setara dengan makanan berat. Namun sensasi lapar tetap menuntut untuk dipenuhi. Kondisi ini bisa memicu obesitas dan diabetes di usia muda. Intinya, tubuh tidak bisa membedakan kalori dari minuman manis sebagai asupan yang sudah cukup. Sistem kenyang kita dirancang untuk makanan padat, bukan cairan bergula.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Dokter: Minum Milk Tea Lebih Berbahaya dari Makan Dua Porsi Nasi
MLFF Tol Tanpa Berhenti: Uji Coba Masih Tunggu Kesiapan Teknis
Prancis ke Semifinal Piala Dunia 2026, Kalahkan Maroko 2-0
10 Juli: Kemerdekaan Bahama, Energi Global, Matariki
Polisi Pastikan Kecelakaan Andra ST Murni Ban Selip
KPK Tangkap Bupati Sukoharjo Etik Suryani
KPK Tangkap Bupati Sukoharjo, Bawa 7 Koper
Bupati Sukoharjo Dibawa ke Jakarta Usai OTT KPK
Proses Produksi Air Minum Kemasan: Tak Sesederhana yang Dibayangkan
Bill Gates dan Paula Hurd Hadiri Konferensi Miliarder Sun Valley