Presiden Bahas Krisis 2008 dengan Tokoh Ekonomi

Yanto K. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 90 dibaca
Bisik.id
Presiden Bahas Krisis 2008 dengan Tokoh Ekonomi

Gambar atau konten salah?

22 Mei 2026 – Di Istana Kepresidenan Jakarta, Presiden Prabowo Subianto mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh ekonomi nasional. Fokus utama diskusi adalah pengalaman penanganan krisis pada masa lalu dan langkah-langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga komoditas.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa pertemuan tersebut melibatkan mantan menteri dan Gubernur Bank Indonesia. Ia mengatakan:

"Tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau Gubernur Bank Indonesia. Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008," ujar Airlangga Hartarto dalam keterangan pers usai pertemuan tersebut, dikutip dari keterangan tertulis Kementerian Koordinator Perekonomian.

Airlangga menambahkan bahwa para tokoh tersebut menyampaikan catatan penting tentang tekanan ekonomi global, termasuk lonjakan harga minyak, tekanan inflasi, dan perubahan nilai tukar. Ia menegaskan bahwa pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting untuk memperkuat langkah antisipasi pemerintah.

"Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat. Depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya," terang Airlangga.

Selama pertemuan, Presiden meminta jajaran terkait untuk terus memonitor regulasi guna memperkuat sistem keuangan nasional dan menjaga prinsip kehati-hatian perbankan. Pemerintah menilai perlu dilakukan penguatan permodalan perbankan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan.

Selain stabilitas ekonomi, pemerintah juga menekankan implementasi kebijakan devisa hasil ekspor dan tata kelola ekspor sumber daya alam melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat tata kelola ekspor nasional, meningkatkan penerimaan negara, serta memastikan devisa hasil ekspor memberikan manfaat optimal bagi perekonomian.

Airlangga menyatakan:

"Kami laporkan terkait kemarin pertemuan dengan para asosiasi pengusaha baik dalam maupun luar negeri, sosialisasi dari devisa hasil ekspor dan sosialisasi daripada ekspor melalui badan usaha milik negara," jelas Airlangga.

Dengan meninjau kembali pelajaran krisis 2008 dan menilai kondisi makro saat ini lebih kuat, pemerintah menegaskan komitmen untuk memperkuat regulasi, kapitalisasi bank, dan kebijakan ekspor guna menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan nasional.

Prabowo Subiantokrisis 2008stabilitas ekonomiBank Indonesiadepresiasi rupiahkebijakan devisa eksporPT Danantara Sumberdaya Indonesia

Komentar

Memuat komentar...