Presiden Undang Mantan Gubernur Bank Indonesia Krisis
Gambar atau konten salah?
Presiden Prabowo Subianto mengundang mantan Gubernur Bank Indonesia, termasuk Burhanuddin Abdullah dan Soedradjad Djiwandono, pada hari Jumat, 22 Mei 2026 di Istana Kepresidenan Jakarta Pusat. Pertemuan ini dihadiri juga oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Airlangga menjelaskan bahwa para mantan gubernur tersebut berbagi pengalaman menghadapi krisis selama masa jabatan mereka, yang sebagian besar berlangsung antara 2004 hingga 2014. Ia mengutip:
“Tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisi di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata periodenya antara 2004 sampai 2014 dan dalam pertemuan tersebut menyampaikan beberapa catatan yang terjadi,” ujar Airlangga di Istana Kepresidenan.
Ia melanjutkan dengan menceritakan krisis minyak pada tahun 2005, yang menyebabkan inflasi Indonesia melonjak menjadi 17%. Harga minyak mencapai 140 dolar, dan penyesuaian harga memicu inflasi naik 27 persen. Airlangga menambahkan:
“Tahun 2005 terjadi krisis minyak di mana harga minyak bisa naik 140 dolar, ada waktu itu penyesuaian harga sehingga inflasinya bisa naik 27 persen,” tambah Airlangga.
Perbandingan dengan situasi makro saat ini, Airlangga katakan bahwa nilai tukar Indonesia hanya turun sekitar 5 % sejak awal tahun, jauh lebih rendah dibandingkan krisis sebelumnya. Ia menyimpulkan:
“Jadi jauh lebih rendah kasus sebelumnya dan dari situ belajar bagaimana mengantisipasi dan bagaimana diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan,” jelas Airlangga.
Presiden meminta Airlangga dan Purbaya untuk terus memantau situasi keuangan dan memperkuat regulasi perbankan. Airlangga menegaskan:
“Bapak Presiden meminta kami beserta Menkeu memonitor bagaimana regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan menjaga prudensial dari perbankan kita,” terang Airlangga.
Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi catatan yang diberikan para mantan gubernur. Ia berjanji akan mempelajari pelajaran dari krisis 2007‑2008 dan periode sebelumnya. Purbaya berkata:
“Dia sharing pengetahuan gimana waktu mengalami ada krisis 2007-2008 dan sebelum-sebelumnya. Itu saja kita pelajari, masukan dari mereka apa. Saya sudah catat, saya diperintahkan untuk mempelajari, ya kita pelajari,” ujar Purbaya.
Perbincangan ini menegaskan bahwa Indonesia masih memerlukan pelajaran berharga dari masa lalu untuk menjaga stabilitas keuangan dan memperkuat sistem perbankan di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Distribusi BBM di Medan Mulai Pulih
Bahlil Perintah SKK Migas Libatkan Pengusaha Lokal di Proyek Masela
85 Perusahaan Asing Berebut Proyek Sampah Jadi Listrik
Prabowo: Kesejahteraan Rakyat Butuh Biaya Besar
Impor Minyak Rusia 150 Juta Barel untuk Cadangan Energi
Danantara Tunggu Arahan Soal Dana PFII
Berita Terbaru
Ledakan MAN 3 Padang: Pelaku Korban Bullying
Distribusi BBM di Medan Mulai Pulih
Bahlil Perintah SKK Migas Libatkan Pengusaha Lokal di Proyek Masela
85 Perusahaan Asing Berebut Proyek Sampah Jadi Listrik
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Luke Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2030
Gagal SNBP-SNBT? UT Buka Pendaftaran Sampai 22 Juli
Prabowo: Kesejahteraan Rakyat Butuh Biaya Besar