Puasa Asyura 2026: Bolehkah Hanya Satu Hari? Ini Hukum dan Tanggalnya

Maya K. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Puasa Asyura 2026: Bolehkah Hanya Satu Hari? Ini Hukum dan Tanggalnya

Gambar atau konten salah?

Setiap tanggal 10 Muharram, umat Islam di seluruh dunia menjalankan puasa Asyura. Ini adalah ibadah sunnah yang punya tempat istimewa dalam kalender Hijriah. Tapi, muncul pertanyaan yang cukup sering: bolehkah seseorang berpuasa hanya di hari Asyura, tanpa menyertakan puasa Tasua sehari sebelumnya?

Pertanyaan ini wajar. Tidak semua orang punya kesempatan atau kemampuan untuk berpuasa dua hari berturut-turut. Ada yang sibuk bekerja, ada yang baru bisa meluangkan waktu, atau mungkin ada kondisi lain yang membuat mereka hanya bisa berpuasa satu hari. Lalu, bagaimana hukumnya?

Para ulama ternyata tidak sepakat soal ini. Ada dua pandangan utama yang berkembang. Sebagian ulama menyebut hukumnya makruh, artinya kurang baik jika dilakukan. Sebagian lagi mengatakan tetap sunnah, atau bahkan dibolehkan saja. Tidak ada satu suara bulat.

Pandangan pertama datang dari mazhab Hanafiyah. Mengacu pada penjelasan di laman Rumaysho, ulama dari mazhab ini menegaskan bahwa puasa Asyura tanpa puasa Tasua—atau tanpa puasa di tanggal 11 Muharram—hukumnya makruh. Mereka menekankan agar umat Islam tidak menjalankan puasa Asyura sendirian. Ada semacam anjuran untuk menghindari praktik tersebut.

Di sisi lain, ulama dari mazhab Hambali dan Maliki punya pendapat berbeda. Mereka berkeyakinan bahwa puasa Asyura tanpa puasa Tasua tidak makruh. Artinya, tetap sunnah dan sah-sah saja. Tidak ada celaan atau larangan di dalamnya. Siapa yang hanya mampu berpuasa di tanggal 10 Muharram, pahalanya tetap utuh.

Buya Yahya, dalam ceramahnya di kanal YouTube, juga menegaskan hal serupa. Menurutnya, puasa Asyura adalah puasa sunnah yang paling utama di bulan Muharram. Meskipun seseorang tidak sempat berpuasa Tasua, pahala tetap mengalir. Tidak perlu ragu. Tapi, ia juga menambahkan, akan lebih sempurna jika ditambahkan puasa di tanggal 9 Muharram. Ini sebagai bentuk penyempurnaan ibadah, sekaligus untuk membedakan diri dari tradisi kaum Yahudi yang juga berpuasa di tanggal 10 Muharram.

Jadi, intinya begini: tidak ada kewajiban untuk berpuasa dua hari berturut-turut. Puasa Asyura tetap sah meski hanya sendiri. Tapi, jika ada kesempatan, menambahkan puasa Tasua adalah pilihan yang lebih baik.

Lalu, kapan sebenarnya puasa Asyura tahun 2026 ini? Tanggalnya perlu dicermati, karena ada perbedaan penetapan awal bulan Muharram antara pemerintah, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU).

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang disusun Kementerian Agama RI, puasa Asyura 10 Muharram 1448 H jatuh pada Kamis, 25 Juni 2026. Ketetapan ini juga sejalan dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang dipakai Muhammadiyah.

Tapi, NU menetapkan awal bulan Muharram sehari lebih lambat. Menurut perhitungan mereka, awal Muharram dimulai pada Rabu, 17 Juni 2026. Dengan demikian, puasa Asyura versi NU jatuh pada Jumat, 26 Juni 2026. Jadi, ada dua tanggal yang berbeda.

Agar tidak bingung, berikut jadwal lengkapnya:

  • Puasa Asyura 1448 H (Pemerintah): Kamis, 25 Juni 2026
  • Puasa Asyura 1448 H (Muhammadiyah): Kamis, 25 Juni 2026
  • Puasa Asyura 1448 H (NU): Jumat, 26 Juni 2026

Bagi yang ingin menunaikan puasa Asyura, niatnya perlu dibaca. Berikut bacaan niat yang disadur dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI):

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i sunnatil aasyuuraa lillaahi ta'aalaa.

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah SWT."

Niat ini dibaca mulai malam hari, tepatnya setelah Maghrib hingga sebelum Subuh. Ini karena pergantian hari dalam penanggalan Islam dimulai saat Maghrib. Jadi, waktu membaca niat untuk puasa versi pemerintah dan Muhammadiyah adalah pada Rabu malam, 24 Juni 2026. Sedangkan untuk versi NU, waktunya pada Kamis malam, 25 Juni 2026.

Bagaimana jika lupa membaca niat di malam hari? Tenang, ada kelonggaran. Untuk puasa sunnah, niat boleh dibaca pada pagi hingga siang hari, sebelum masuk waktu Dzuhur. Berikut bacaannya:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma haadzal yaumi 'an adaa'i sunnatil aasyuuraa lillaahi ta'aalaa.

Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Asyura hari ini karena Allah SWT."

Terakhir, soal keutamaan. Puasa Asyura punya keistimewaan yang luar biasa. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim nomor 1162, Abu Qotadah Al Anshoriy bertanya kepada Nabi SAW tentang puasa Arafah dan puasa Asyura. Nabi menjawab, puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sedangkan puasa Asyura, kata beliau, "akan menghapus dosa setahun yang lalu."

Imam Nawawi rahimahullah kemudian menjelaskan, dosa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil. Tapi, ia juga menambahkan, untuk dosa besar, amalan ini bisa meringankannya dan meninggikan derajat seseorang. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah punya pandangan yang lebih umum. Menurutnya, amalan seperti puasa Asyura bisa menjadi sebab terhapusnya setiap dosa.

Jadi, puasa Asyura tetaplah ibadah yang mulia. Tidak perlu ragu jika hanya mampu berpuasa satu hari. Tapi, jika ada kesempatan, menambahkan puasa Tasua adalah langkah yang lebih sempurna. Semua kembali pada niat dan kemampuan masing-masing.

puasa Asyurahukum puasamakruhsunnah10 Muharramkalender Hijriah

Komentar

Memuat komentar...