Putat: Buah Lokal Sumut, Tantangan Pelestarian Rawa
Gambar atau konten salah?
Buah putat tidak sepopuler buah tropis lain di Sumatera Utara, namun tanaman ini menyimpan banyak cerita menarik, baik dari sisi botani maupun penggunaannya di masyarakat.
Dosen Biologi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Khairunnisa, menjelaskan keunikan klasifikasi putat. Ia berkata, “Secara botani putat termasuk buah karena berasal dari perkembangan bakal buah setelah adanya penyerbukan. Namun dalam pemanfaatannya pucuk daun muda, bunga dan buah muda putat sering dikonsumsi sehingga sering dianggap sebagai tanaman sayur atau lalapan,”
Secara morfologi, putat tumbuh sebagai pohon berukuran sedang dengan tinggi berkisar 5 hingga 10 meter. Batangnya berkayu, bercabang, dan berwarna cokelat. Daunnya berbentuk lonjong hingga bulat telur, sering dimanfaatkan masyarakat sebagai lalapan segar.
Bunga putat menjadi daya tarik tersendiri. Warnanya yang mencolok, mulai dari merah muda hingga merah terang, membuat tanaman ini kerap dijadikan hiasan. Sementara buahnya berbentuk bulat, berwarna hijau saat muda dan berubah kecokelatan ketika matang. Khairunnisa menambahkan, “Tanaman putat memiliki bunga yang cukup mencolok berwarna merah muda hingga merah. Buah putat berbentuk bulat berwarna hijau dan kecoklatan saat tua.”
Habitat alaminya banyak ditemukan tumbuh liar di daerah rawa, pinggir sungai, hingga kawasan mangrove. Tanaman ini juga sering dimanfaatkan sebagai peneduh, penghijauan, bahkan bagian dari konservasi di tepi sungai. Ia menegaskan, “Tanaman putat masih berkembang hingga sekarang dan dapat dijumpai tumbuh liar di daerah rawa, pinggir sungai atau daerah kawasan mangrove.”
Namun, keberadaan putat kini semakin jarang ditemui. Berkurangnya habitat rawa alami menjadi salah satu penyebab utama menyusutnya populasi tanaman ini di alam.
Putat, meski tidak terkenal, tetap menjadi contoh penting bagi pelestarian flora lokal. Keterbatasan habitat dan penggunaan yang beragam menandai perlunya perhatian lebih terhadap tanaman ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gelombang Panas Belanda Tewaskan 900 Orang, Prancis Terbakar
Kuasa Hukum Sarwendah Bantah Tuduhan Eksploitasi Anak
Pelabuhan Roro Gunungsitoli Disiapkan Jadi Pusat Logistik Nias
Kerajaan Dukung Penuh Timnas Usai Kalah di Semifinal
Gempa M3,4 Guncang Pidie Jaya, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Sergai Bangun Mal Pelayanan Publik Rp6,2 Miliar Tahun Ini
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
