Radio Wijang Songko Berhenti Siaran Setelah 58 Tahun di Kediri
Gambar atau konten salah?
Radio Wijang Songko (RWS) yang pernah mengisi pagi dan malam warga Kediri kini berhenti beraksi. Siaran terakhirnya ditetapkan pada 01 April 2026, menandai akhir perjalanan panjang sejak 1968.
Awalnya bernama Radio Patimura, stasiun ini mulai menyiarkan lewat frekuensi AM. Seiring waktu, RWS beralih ke FM pada era 1990‑an, menyesuaikan diri dengan kebutuhan pendengar tanpa menghilangkan rasa dekat dengan masyarakat.
Keputusan menghentikan siaran bukanlah keputusan mendadak. Manajemen mengaku ide ini sudah muncul sejak pandemi COVID‑19. Pada awal 2026, keputusan akhir diambil karena kepemilikan tunggal dan pemimpin, Bapak Pintero Utomo, yang kini berusia 83 tahun, memilih pensiun. “Mulai 1 April kami resmi tidak mengudara. Keputusan ini terkait kepemilikan tunggal, dan pimpinan kami, Bapak Pintero Utomo yang kini berusia 83 tahun, memilih untuk pensiun,” ujar Lindawati saat ditemui pada 31 Maret 2026.
Meskipun sudah resmi berhenti, RWS masih membuka kemungkinan kembali di masa depan, meskipun belum ada kepastian lebih lanjut dari pihak manajemen.
Selama bertahun‑tahun, RWS dikenal sebagai radio hiburan dengan program interaktif dan humor khas. Beberapa acara populer termasuk Hello Dangdut, Pamor (Pesona Humor), dan Pak Piket. Program Pak Piket hadir di malam hari, menemani pekerja shift, penjaga warung, dan masyarakat yang masih aktif. Sementara siaran pagi menjadi andalan untuk membangunkan pendengar dan mengiringi aktivitas awal hari, kata Lindawati.
RWS tidak hanya menjadi sumber hiburan. Radio ini juga menjadi tempat lahirnya banyak penyiar berbakat. Nuansa kekeluargaan yang kental memberi ruang bagi para penyiar untuk berkembang, sehingga karakter mereka melekat di hati pendengar.
Nama Wijang Songko berasal dari bahasa Jawa yang berarti “putih bersih”. Filosofi ini mencerminkan komitmen RWS untuk menghadirkan siaran yang jernih, hangat, dan menghibur bagi masyarakat.
Selain siaran, RWS aktif menggelar kegiatan off‑air. Mulai dari jalan sehat yang menarik massa, menutup ruas jalan, hingga kuis interaktif yang menjangkau pendengar di Kediri, Nganjuk, Tulungagung, hingga Trenggalek.
Kepergian RWS meninggalkan kesan mendalam bagi para pendengar setianya. Bagi sebagian orang, radio ini bukan sekadar media, melainkan teman setia dalam menjalani hari. “Sedih, biasanya selalu ada dari pagi sampai sore menemani di rumah,” ujar salah satu pendengar, Tata Tomato.
Dengan berakhirnya siaran, RWS mengakhiri era yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan warga Kediri. Meskipun tidak lagi mengudara, jejaknya tetap hidup dalam kenangan dan cerita yang dibagikan oleh para pendengar setianya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
