Renaming PCOS jadi PMOS: Fokus Lebih Metabolik di Indonesia

Rizki W. · 2 min baca · 28 hari lalu · 75 dibaca
Bisik.id
Renaming PCOS jadi PMOS: Fokus Lebih Metabolik di Indonesia

Gambar atau konten salah?

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) selama puluhan tahun membuat banyak wanita bingung ketika didiagnosis. Saat USG dilakukan, ovarium seringkali terlihat “bersih” tanpa kista besar, sehingga pasien berasumsi harus ada kista yang perlu dioperasi. Keputusan besar dunia medis mengubah nama PCOS menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) bertujuan menghapus mitos dan stigma tersebut.

Dr Alla Vash‑Margita dari Yale School of Medicine mengatakan, “Dengan menyebut kondisi ini sebagai *kista ovarium*, kita sebenarnya sedang kehilangan gambaran besarnya.”

Penampakan pada USG pada pasien PCOS seringkali hanyalah kumpulan sel telur (folikel) kecil yang gagal matang. Folikel‑folikel ini tidak memiliki cairan berlebih yang biasanya menandakan kista. Jadi, meski nama “polycystic” mengandung kata “kista”, kondisi sebenarnya bukan kista besar.

“Orang awam bilang polycystic, harusnya ada kista banyak dong? Padahal itu bukan kista. Kalau kista kan cairannya besar‑besar. Ini folikel‑folikel kecil yang tidak bisa berkembang karena masalah di hormon dan kelenjarnya,” tegas dr Fadli.

Awalnya, PCOS dianggap semata masalah reproduksi karena hormon pria meningkat dan menyebabkan haid tidak teratur. Namun, Dr Andrea Dunaif dari Mount Sinai menjelaskan bahwa sejak tahun 1980‑an, peneliti menemukan kaitan erat dengan resistensi insulin. Hal ini menambah alasan mengapa kata “metabolic” dan “polyendocrine” dimasukkan dalam nama baru.

PMOS bukan lagi gangguan ovarium semata. Ia melibatkan sistem hormon tubuh secara luas, memengaruhi metabolisme hingga kesehatan mental. Untuk menyepakati istilah PMOS, dibutuhkan kolaborasi global selama 14 tahun dari 56 organisasi pasien dan profesional di seluruh dunia.

Dr Christina Boots dari Northwestern University menegaskan, “Kesehatan wanita selama ini kurang didanai (underfunded).” Nama baru ini diharapkan menarik lebih banyak dana penelitian.

Dengan diakuinya PMOS sebagai kondisi metabolik kompleks, diharapkan akses jaminan kesehatan atau asuransi bagi pasien dapat lebih baik. Pengobatan tidak lagi hanya dilakukan oleh dokter kandungan (obgyn), melainkan melibatkan ahli endokrin, ahli gizi, dan psikolog.

Di Indonesia, dr Fadli menilai perubahan ini membantu pengobatan lebih tepat sasaran. Pasien tidak perlu lagi terobsesi menghilangkan “kista” yang sebenarnya tidak ada, melainkan fokus pada perbaikan gaya hidup. “Penyebab utamanya adalah metabolisme yang terganggu. Bisa jadi ada sakit gula atau penumpukan lemak. Jadi 1st line therapy‑nya adalah perbaikan gaya hidup. Jika metabolismenya diperbaiki, kelenjar akan mengeluarkan hormon yang seimbang, dan pasien bisa hamil di kemudian hari,” tutup dr Fadli.

Perubahan nama ini menandai pemahaman baru bahwa PCOS lebih dari sekadar masalah reproduksi. Ia mencakup gangguan hormon, metabolisme, dan kesehatan mental. Dengan terminologi yang lebih tepat, diharapkan pasien mendapatkan penanganan multidisiplin dan dukungan finansial yang lebih baik, sehingga kualitas hidup dan peluang kehamilan meningkat.

PCOSPMOSresistensi insulinmetabolismekesehatan mentalpengobatan multidisiplingaya hidup

Komentar

Memuat komentar...