Tanggul Titik 71 Sidoarjo Hampir Runtuh, Warga Gelisah

Fitri A. · 2 min baca · 54 menit lalu · 4 dibaca
Bisik.id
Tanggul Titik 71 Sidoarjo Hampir Runtuh, Warga Gelisah

Gambar atau konten salah?

Di Sidoarjo, warga yang tinggal di sekitar tanggul titik 71 semakin gelisah. Mereka mendengar bahwa permukaan lumpur sudah hampir menyentuh puncak tanggul, hanya 60‑70 sentimeter lagi.

Warga ini berada di perbatasan Kelurahan Siring, Kecamatan Porong dan Kelurahan Ketapang Keres, Kecamatan Tanggulangin. Kedua kelurahan ini terletak tepat di atas tanggul, sehingga setiap perubahan kecil di permukaan lumpur langsung terasa.

Menurut data terakhir, air dan lumpur di tanggul sudah mendekati bibir. Jarak antara permukaan lumpur dan puncak tanggul diperkirakan hanya sekitar 60‑70 sentimeter. Kondisi ini membuat banyak orang khawatir tentang kemungkinan runtuhnya tanggul.

Di sisi timur Tol Porong, tanggul tersebut diduga mengalami penurunan tanah. Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) kini tengah melakukan peninggian tanggul untuk menambah ketinggian dan menstabilkan struktur.

“Kalau melihat kondisi sekarang memang mengkhawatirkan. Permukaan lumpur sudah sangat dekat dengan bibir tanggul. Ini sudah berlangsung sekitar dua hari terakhir,” kata Sastro pada Jumat (12 Juni 2026). Sastro, yang juga menjadi pemandu wisata Lumpur Lapindo, menegaskan bahwa ia sudah melihat kondisi ini sejak dua hari terakhir.

Sastro menambahkan bahwa tanggul di titik 71 memerlukan perhatian serius karena berada tidak jauh dari beberapa infrastruktur vital. “Kalau sampai terjadi sesuatu, yang terancam bukan hanya area penampungan lumpur, tetapi juga Jalur Kereta Api dan Jalan Raya Porong lama yang berada di sekitar kawasan ini,” ujarnya.

Walaupun PPLS telah mulai mengalirkan air dan lumpur ke Sungai Porong dalam beberapa hari terakhir, Sastro menilai kondisi di titik 71 justru semakin kritis. “Memang sudah mulai dialirkan ke Sungai Porong, tetapi kondisi tanggul di sini masih membuat warga khawatir karena permukaan lumpurnya tetap tinggi,” tambahnya.

Ketidakpastian ini tidak tanpa alasan. Pada masa awal bencana Lumpur Lapindo, tanggul lumpur di Desa Jatirejo, Kecamatan Porong pernah jebol. Pada akhir tahun 2006, tanggul penahan lumpur di kawasan belakang Koramil Porong mengalami kerusakan, yang berujung pada jebolnya tanggul pada 9 November 2006.

Waktu itu, lumpur panas mengalir deras ke wilayah permukiman warga dan kawasan yang berbatasan langsung dengan Jalur Kereta Api. “Kalau melihat bentuk tanggul yang sekarang ditambah seperti di titik 71 ini, saya jadi teringat kondisi tanggul di Jatirejo sebelum jebol dulu. Warga tentu khawatir kejadian serupa terulang,” jelas Sastro.

Peristiwa jebolnya tanggul di Desa Jatirejo menjadi salah satu titik krisis terberat dalam sejarah semburan Lumpur Lapindo. Rangkaian ambrol dan amblesnya tanggul menyebabkan kawasan tersebut akhirnya ditenggelamkan secara permanen.

Karena itu, warga berharap PPLS terus melakukan pemantauan dan langkah antisipasi agar kondisi tanggul di titik 71 tetap aman dan tidak menimbulkan ancaman bagi masyarakat maupun infrastruktur di sekitar kawasan Porong dan Tanggulangin.

Secara keseluruhan, situasi di tanggul titik 71 menunjukkan betapa pentingnya pengawasan berkelanjutan terhadap struktur penahan lumpur. Jika tidak diatasi, risiko runtuhnya tanggul dapat mengancam tidak hanya area penampungan lumpur, tetapi juga jalur kereta api dan jalan raya yang melintasi wilayah tersebut.

tanggul titik 71lumpurSidoarjoPPLSJalur Kereta ApiTol PorongJalan Raya Porong

Komentar

Memuat komentar...