reNIKOLA Teken Kontrak Gas Limbah Sawit 15 Tahun

Nurul H. · 3 min baca · 1 jam lalu · 28 dibaca
Bisik.id
reNIKOLA Teken Kontrak Gas Limbah Sawit 15 Tahun

Gambar atau konten salah?

Sebuah langkah baru di sektor energi terbarukan Indonesia baru saja diresmikan. reNIKOLA Holdings Sdn Bhd, melalui anak usahanya PT reNIKOLA Primer Satu, meneken perjanjian jual beli gas biometana terkompresi (Compressed Biomethane Gas/CBG) dengan PT Gagas Energi Indonesia, yang dikenal sebagai PGN Gagas. Kontrak ini berdurasi 15 tahun.

Gas yang diperjualbelikan ini berasal dari proyek yang dibangun di lokasi pabrik kelapa sawit milik PT Karya Pratama Niagajaya (KPNJ). KPNJ sendiri merupakan anak perusahaan PT Mahkota Group Tbk. Pabrik tersebut berada di Sumatera Utara. Proyek ini dikerjakan dengan skema Build-Own-Operate-Transfer (BOOT) bersama KPNJ. Nilai investasi yang ditanamkan mencapai lebih dari US$ 5 juta.

Isi perjanjian ini memberikan jaminan bahwa CBG yang dihasilkan akan terserap dalam jangka panjang. Bahan baku gas ini berasal dari pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit, atau yang biasa disebut Palm Oil Mill Effluent (POME). Dengan kata lain, limbah dari industri perkebunan diubah menjadi sumber energi yang bersih dan terbarukan.

Karena proyek ini dibangun dari awal (greenfield), reNIKOLA akan membangun fasilitas pengolahan anaerobik. Fasilitas ini berfungsi untuk menghasilkan biogas dari POME. Selain itu, mereka juga akan membangun pabrik pemurnian biometana. Target operasi komersial proyek ini adalah pada kuartal II tahun 2028. Kapasitas produksi CBG diperkirakan mencapai lebih dari 102.000 MMBtu per tahun. Biogas yang dihasilkan akan dimurnikan terlebih dahulu menjadi CBG sebelum akhirnya dipasok ke PGN Gagas sesuai kesepakatan.

Salah satu dampak lingkungan yang diharapkan dari proyek ini adalah pengurangan emisi gas rumah kaca. Dengan menangkap gas metana yang sebelumnya bisa terlepas ke atmosfer, proyek ini diperkirakan mampu menghindari emisi sekitar 28.000 ton setara karbon dioksida (tCO2e) setiap tahunnya.

Amran Yusof, Chief Executive Officer/Director of PT RPS, menyampaikan pernyataan pada Sabtu, 17 Oktober 2026. "Kami berada di jalur yang tepat untuk mengembangkan 40 fasilitas produksi biometana di seluruh Indonesia dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Target ini realistis, didukung oleh proyek-proyek yang telah memiliki perjanjian kerja sama yang ditandatangani serta portofolio proyek potensial yang kuat," ujarnya.

Proyek ini merupakan proyek CBG ke-10 yang dikembangkan reNIKOLA di Indonesia. Dalam proyek kali ini, mereka berkolaborasi dengan PGN Gagas dan Mahkota Group. Tujuannya adalah mendukung pertumbuhan sektor energi terbarukan di Indonesia. Amran Yusof menambahkan, "Kami akan terus bekerja sama secara erat dengan Pertamina beserta anak-anak perusahaannya untuk meningkatkan pengembangan biometana dan berkontribusi terhadap target NDC Indonesia."

Proyek ini tidak hanya mendukung agenda dekarbonisasi nasional. Ia juga berkontribusi pada pengurangan emisi metana dari limbah cair pabrik kelapa sawit. Lebih dari itu, proyek ini menciptakan nilai ekonomi dari limbah yang dihasilkan. Indonesia, sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, memiliki potensi besar untuk mengembangkan produksi gas terbarukan. Potensi ini bisa direalisasikan melalui pemanfaatan dan pengolahan biogas dari industri kelapa sawit.

Melalui proyek ini, reNIKOLA terus memperkuat pengembangan CBG sebagai sumber energi terbarukan di Indonesia. Mereka menghadirkan model bisnis terintegrasi yang menggabungkan pengelolaan limbah, pengurangan emisi metana, dan kepastian penyerapan gas secara komersial dalam jangka panjang. Model pengembangan ini juga berpotensi untuk diterapkan di berbagai pabrik kelapa sawit lainnya, baik di Indonesia maupun di kawasan regional.

Proyek ini menjadi salah satu contoh bagaimana limbah industri perkebunan, yang selama ini menjadi masalah lingkungan, dapat diubah menjadi sumber energi yang bernilai. Dengan potensi besar yang dimiliki Indonesia sebagai produsen kelapa sawit, pengembangan biogas dari POME bisa menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan energi terbarukan sekaligus mengatasi masalah emisi gas rumah kaca. Kerja sama antara reNIKOLA, PGN Gagas, dan Mahkota Group menunjukkan bahwa sektor swasta mulai serius menggarap potensi ini.

energi terbarukanbiometanaCBGlimbah sawitPOMEdekarbonisasiinvestasi

Komentar

Memuat komentar...