IHSG Anjlok 11,57%, MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Modal RI
Gambar atau konten salah?
Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles tajam pada perdagangan hari ini. Indeks ditutup di level 5.185, turun 678,77 poin atau 11,57 persen. Penurunan ini terjadi setelah lembaga pemeringkat internasional Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan potensi penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Ekonom senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, mengatakan ada masalah mendasar. Menurutnya, terjadi kesenjangan antara aturan formal dan perilaku di lapangan. Investor institusional global sudah lama khawatir soal kelayakan investasi dan tata kelola ekuitas di Indonesia.
"Keadaan ini menyebabkan kepercayaan terhadap sistem jatuh. Ini terjadi di sistem pasar modal dimana saham-saham anjlok berat sampai lebih 8% menurun ke level 5.393 dan bahkan lebih rendah lagi," kata Didik dalam keterangannya pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Didik menduga para investor mencium adanya kecurangan. Bentuknya berupa perdagangan terkoordinasi yang menyebabkan distorsi harga. Akibatnya, pasar tidak berfungsi dengan baik. Namun, otoritas Indonesia dinilai tidak peka terhadap kekhawatiran itu. Ketika lembaga global mulai menyoroti masalah ini, aliran modal langsung kabur. Investor menghindari pasar yang dianggap tidak bisa dipercaya dan tidak jujur.
Kebijakan yang sudah diambil otoritas, seperti aturan free float dan kewajiban pengungkapan bagi pemegang saham satu persen, dinilai belum cukup. Didik mengatakan aturan-aturan itu belum memberikan bukti konkret. Dampak positifnya terhadap fungsi pasar sehari-hari juga belum terasa.
"Namun faktanya di lapangan masih dianggap belum ada bukti konkritnya. Aturan-aturan tersebut dinilai belum memberikan dampak positif yang berkelanjutan terhadap fungsi pasar sehari-hari," tambahnya.
Didik membandingkan pasar modal dengan kerang laut. Kerang laut bisa mendeteksi kerusakan lingkungan lebih awal lewat polutan yang diserapnya. Begitu pula pasar modal. Penurunan tajam ini adalah peringatan dini — early warning system — terhadap kesehatan ekonomi politik Indonesia secara keseluruhan.
Jika masalah integritas, transparansi kepemilikan, dan pengawasan tidak segera dibenahi, konsekuensinya akan serius. "Ini menandakan alarm bahaya terhadap ekonomi politik Indonesia secara lebih luas. Karena itu, kejadian ini tidak bisa dianggap enteng sehingga harus ditanggapi secara serius dengan kebijakan dan aksi," jelas Didik.
Inti persoalannya, menurut Didik, adalah kepercayaan. Pelaku pasar tidak percaya pada pembentukan harga yang terjadi. Transparansi kepemilikan dianggap bermasalah. Tata kelola pasar modal juga dipertanyakan. Ada dugaan pengawasan dicampuri kepentingan politik.
"Jika persoalan ini tidak diselesaikan, konsekuensinya biaya modal perusahaan dapat meningkat dan investor institusional dapat mengurangi eksposurnya. Akibatnya pasar modal menjadi lembaga ekonomi yang kurang bermanfaat dimana kemampuannya membiayai kegiatan ekonomi dan industri nasional anjlok dan melemah," paparnya.
Menghadapi situasi ini, otoritas keuangan dan pasar modal didesak segera melakukan pembenahan dari dalam. Pemerintah dan lembaga terkait — termasuk OJK, BEI, dan KSEI — harus mengambil langkah konkret. Pertama, melakukan audit dan transparansi menyeluruh terhadap kelembagaan pengawas. Kedua, menyatukan data kepemilikan dan mengidentifikasi konsentrasi ekstrem. Ketiga, menelaah indikasi transaksi terkoordinasi serta menetapkan standar pengungkapan yang bisa diuji.
"Dengan demikian, pasar bisa dikoreksi dengan bukti kepatuhan dan tindakan pengawasan yang terukur, disertai perlindungan hak investor dan prosedur hukum yang adil," kata Didik.
Kejatuhan IHSG kali ini bukan sekadar fluktuasi biasa. Ini adalah sinyal bahwa kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia sedang diuji. Jika tidak ada perbaikan nyata, dampaknya bisa meluas ke seluruh perekonomian nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Antrean BBM di Bali Mulai Landai
reNIKOLA Teken Kontrak Gas Limbah Sawit 15 Tahun
Pasokan Pertalite Sulut Naik 30%, Antrean SPBU Mulai Terurai
Danantara Tetapkan 34 Lembaga untuk Biayai Proyek Sampah Jadi Listrik
Kilang Plaju Produksi 295.263 Barel Avtur
IHSG Anjlok 11,57%, MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Modal RI
OJK Denda BREN, CUAN, dan DSSA Triliunan Rupiah
