Renungan Harian Katolik: 10 Juni 2026, Bacaan 1 Raja 18

Rizki W. · 4 min baca · 1 hari lalu · 7 dibaca
Bisik.id
Renungan Harian Katolik: 10 Juni 2026, Bacaan 1 Raja 18

Gambar atau konten salah?

Renungan Harian Katolik pada 10 Juni 2026 mengajak umat untuk mendalami iman melalui bacaan Kitab Suci.

Setiap hari, umat diberi kesempatan untuk mendengarkan dan menghayati kata-kata Tuhan. Renungan ini menuntun kita agar tidak hanya membaca, tetapi juga menerapkan pesan tersebut dalam kehidupan sehari‑hari.

Berikut bacaan liturgi hari ini: Bacaan I: 1 Raj 18:20‑39, Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1‑2a.4.5.8.11, dan Bacaan Injil: Mat 5:17‑19.

Bacaan I: 1 Raj 18:20‑39

Ahab mengirim orang ke seluruh Israel dan mengumpulkan nabi‑nabi itu ke gunung Karmel. Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia." Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun. Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: "Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi‑nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya." Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong‑mopongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Aku pun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api. Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan aku pun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!

Seluruh rakyat menyahut, katanya: "Baiklah demikian!" Kemudian Elia berkata kepada nabi‑nabi Baal itu: "Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api." Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: "Ya Baal, jawablah kami!" Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat‑jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu. Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: "Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga." Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh‑noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka. Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian.

Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: "Datanglah dekat kepadaku!" Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu. Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub. "Kepada Yakub ini telah datang firman TUHAN: 'Engkau akan bernama Israel.'" Ia mendirikan batu‑batu itu menjadi mezbah demi nama TUHAN dan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih. Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan‑potongannya di atas kayu api itu. Sesudah itu ia berkata: "Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!" Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk kedua kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya. Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya, sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itupun penuh dengan air.

Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: "TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!"

Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1‑2a.4.5.8.11

Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada‑Mu aku berlindung. Aku berkata kepada TUHAN: 'Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!' Bertambah besar kesedihan orang‑orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut‑nyebut nama mereka di bibirku. Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah‑limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Bacaan Injil: Mat 5:17‑19

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah‑perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. (Mat. 5:16)

Pengajaran Yesus menegaskan bahwa iman tidak boleh mengabaikan hukum‑hukum Tuhan. Ia menuntun kita untuk hidup kudus dan menampilkan kasih dalam tindakan nyata. Sejak baptisan, kita menerima terang Roh Kudus dan dipanggil menjadi cerminan Kristus.

Di awal tahun 2026, dunia kembali diguncang perang. Saya sempat tergoda untuk ikut berkubu, menghujat, dan berkomentar di media sosial. Namun, saya sadar, sikap itu membuat terang dalam diri saya meredup. Maka saya memilih berdoa, memohon agar Allah melembutkan hati mereka yang bertikai, serta mendoakan para pemimpin dunia agar menjalin hubungan dalam semangat kasih dan persaudaraan. Melihat peperangan yang berulang dan korban yang tak terhitung, kita tidak boleh kehilangan harapan. Marilah senantiasa memohon belas kasih Allah bagi umat manusia dan dunia saat ini. Di dalam keheningan, doa umat Allah bagi perdamaian dunia laksana terang yang bercahaya. Doa yang tulus akan menerangi kegelapan dunia dan hati manusia, sehingga melalui perbuatan baik dan doa kita, nama Allah semakin dimuliakan.

Doa Penutup

Allah Bapa Yang Maha Rahim dan berbelas kasih, bantulah kami untuk tekun menjaga terang yang ada dalam diri ini agar terus bercahaya, dengan melakukan perbuatan‑perbuatan yang baik. Semoga terang Kristus memancar kepada dunia di sekitar kami.

Bapa, Engkau memahami kami sering lalai dan lemah, maka tolong tegarkan kami untuk memilih melakukan yang kudus dan berkenan kepada-Mu. Amin.

Demikian renungan harian Katolik, Rabu, 10 Juni 2026 lengkap bacaan dan teks Mazmur Tanggapan. Semoga bermanfaat! (urw/urw)

Sumber: Buku Renungan Tiga Titik

Oleh: Florentina Sri Retno Adji

Renungan Harian KatolikBacaan Kitab SuciElia dan BaalInjil Matius 5Perdamaian duniaDoa umatKasih dan harapan

Komentar

Memuat komentar...