Renungan Katolik: Memberi dengan Hati Tulus
Gambar atau konten salah?
Renungan harian Katolik untuk Kamis, 9 Juli 2026, mengangkat tema tentang memberi dengan hati yang tulus. Bukan sekadar berbagi, melainkan memberi tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Ini adalah panggilan untuk meneladani kasih Allah yang melimpah tanpa syarat.
Setiap orang diajak untuk melihat ke dalam diri sendiri. Apa motivasi di balik setiap kebaikan yang dilakukan? Ketika seseorang rela meluangkan waktu, memberikan perhatian, mengeluarkan tenaga, atau membagi rezeki tanpa pamrih, di situlah kasih Kristus menjadi nyata.
Sebelum merenungkan lebih dalam, ada baiknya menyimak sabda Tuhan melalui bacaan liturgi hari ini.
Bacaan I: Hos 11:1b.3-4.8c-9
Ketika Israel masih muda, Aku mengasihinya, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu. Padahal Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka di tangan-Ku, tetapi mereka tidak mau insaf, bahwa Aku menyembuhkan mereka. Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan. Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.
Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2ac.3b.15-16
Di depan Efraim dan Benyamin dan Manasye! Bangkitkanlah keperkasaan-Mu dan datanglah untuk menyelamatkan kami. Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat. Batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu! Mereka telah membakarnya dengan api dan menebangnya; biarlah mereka hilang lenyap oleh hardik wajah-Mu!
Bacaan Injil: Mat 10:7-15
Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.
Inti pesan Yesus dalam Injil hari ini sangat jelas. "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, berikanlah pula dengan cuma-cuma." (Mat. 10:8).
Tuhan Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan mengutus mereka. Sebelum berangkat, Ia memberi mereka bekal. Bukan bekal berupa uang atau pakaian, melainkan kuasa untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan penyakit. Bekal ini adalah jaminan bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
Mereka diutus kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Umat yang tersesat karena kelalaian para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka yang seharusnya menggembalakan justru gagal. Maka Tuhan Yesus sendiri turun tangan dengan mengutus murid-murid-Nya.
Tugas mereka sederhana: memberitakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Allah menghendaki semua orang selamat melalui pengorbanan Yesus di kayu salib.
Perutusan ini menuntut sikap tanpa pamrih. Mereka sudah menerima anugerah terlebih dahulu. Maka mereka harus memberi dengan cara yang sama.
Ada sebuah kisah tentang panggilan seorang pastur. Dalam persiapan buku 25 tahun imamatnya, ia diwawancarai. Ia mengatakan bahwa panggilan yang paling ia rasakan adalah melayani umat yang berduka. Memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit, Misa Requiem, atau Ibadat Pemakaman.
Saat pandemi Covid melanda, banyak orang enggan melayani karena takut tertular. Pastur ini tetap hadir. Bahkan pernah melayani hingga pukul 02.00 dini hari.
Anehnya, ia senantiasa dilindungi Tuhan. Meski sering mendampingi umat yang sakit atau meninggal karena Covid, ia tidak pernah tertular. Pelayanan itu ia lakukan tanpa pamrih, dan Tuhan memeliharanya.
Kisah ini menjadi cermin. Maukah kita melaksanakan panggilan baptisan untuk mencari dan membawa kembali mereka yang hilang dengan ikhlas? Dalam keluarga, komunitas, maupun Gereja, kita diajak memberi dengan cuma-cuma. Tanpa pamrih. Sebab kita pun telah menerima kasih Allah secara cuma-cuma.
Dengan demikian, kita sungguh menjadi murid Kristus. Hadir membawa terang bagi dunia. Membawa harapan baru bagi mereka yang tersesat atau terluka.
Doa Penutup
Ya Tuhan, kami semua telah Kau panggil dalam perutusan setelah kami dibaptis. Biarlah kami mau melakukannya dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Melayani tanpa maksud terselubung. Melayani dengan ikhlas untuk kemuliaan-Mu. Amin.
Renungan ini mengingatkan bahwa memberi tanpa pamrih bukanlah hal yang mudah. Namun, itulah inti dari menjadi murid Kristus. Kasih yang diterima secara cuma-cuma harus dibagikan dengan cara yang sama. Bukan karena kewajiban, melainkan karena kasih itu sendiri yang menggerakkan hati.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
McLaren Andra ST Hancur Tabrak Tiang Listrik
Petani Tuban Viral Terbang Pakai Drone
Boneka Mbappe Dibakar di Festival Paraguay
Usulan Said Iqbal: Pajak JHT Dihapus
MU Sepakat Beli Andrey Santos 50 Juta Pounds
Marquez Satu Kemenangan Lagi Samai Rekor Agostini
Google Undang Media ke Acara Pixel 11, 12 Agustus 2026