Rhododendron Yombuwurii Baru di Sulawesi Tengah: Endemik

Yanto K. · 1 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Rhododendron Yombuwurii Baru di Sulawesi Tengah: Endemik

Gambar atau konten salah?

Rhododendron yombuwurii Hutabarat, Bandjolu & Zulfadli (Ericaceae) baru saja ditambahkan ke daftar flora endemik Indonesia. Peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan spesies ini di hutan Sulawesi Tengah (Sulteng).

Tanaman ini adalah semak epifit ramping yang menonjolkan bunga berbentuk corong sempit berwarna jingga cerah. Ia tumbuh secara semi‑tegak atau horizontal, sehingga menambah variasi morfologi di antara spesies Rhododendron yang sudah dikenal.

“Namun, Rhododendron yombuwurii memiliki perbedaan yang sangat nyata, di antaranya ukuran daun yang lebih kecil, susunan bunga yang semi‑tegak bukan menggantung, serta ukuran bunga yang jauh lebih kecil dan berwarna jingga cerah, berbeda dengan R. celebicum yang bunganya berukuran besar dan berwarna merah muda hingga merah,” tutur Prima.

Tim peneliti terdiri dari beberapa lembaga, antara lain Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Perkumpulan Konservasi Membumi, Lentera Matia Ndano, Universitas Lampung, dan Universitas Hasanuddin. Kerjasama lintas institusi ini memperkuat pendekatan multidisipliner dalam mengidentifikasi spesies baru.

Untuk memastikan keabsahan taksonomi, para ilmuwan memanfaatkan Focused Ion Beam Scanning Electron Microscope (FIB‑SEM) Aquilos guna memetakan struktur mikroskopis tanaman. Selain itu, analisis DNA molekuler pada wilayah Internal Transcribed Spacer (ITS) ribosomal nukleus juga dilakukan, menegaskan bahwa Rhododendron yombuwurii memang spesies baru.

Penemuan ini menambah ragam flora Indonesia dan menyoroti pentingnya konservasi spesies endemik di Sulawesi Tengah. Dengan karakteristik unik dan potensi habitatnya, Rhododendron yombuwurii menjadi contoh bagaimana penelitian lintas lembaga dapat memperkaya pengetahuan biologi Indonesia.

Rhododendron yombuwuriiendemik IndonesiaSulawesi TengahFIB‑SEM AquilosITS DNAkonservasi spesiesPusat Riset Biosistematikakolaborasi lintas lembaga

Komentar

Memuat komentar...