RI-China Sepakat Bisnis Rp35,87 Triliun

Dani L. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
RI-China Sepakat Bisnis Rp35,87 Triliun

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Indonesia berhasil mengamankan sejumlah perjanjian bisnis dengan perusahaan-perusahaan China. Nilai total kesepakatan yang diraih mencapai US$ 2 miliar. Jika dikonversi dengan kurs Rp 17.936 per dolar AS, angka itu setara dengan sekitar Rp 35,87 triliun. Kesepakatan ini diumumkan dalam forum bisnis yang digelar di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Kamis, 23 Juli 2026.

Duta Besar Republik Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, menjelaskan bahwa dalam forum tersebut, pihaknya membawa sekitar 30 perusahaan dari China. Perusahaan-perusahaan itu bergerak di beberapa sektor. Mulai dari teknologi masa depan, inovasi teknologi, energi terbarukan, hingga kesehatan. "Saya hadir dengan kurang lebih 30 perusahaan dari Tiongkok bergerak di bidang teknologi masa depan, innovation teknologi dan yang kedua di bidang renewable energy. Jadi transformasi energi dan ada beberapa juga di bidang kesehatan," kata Djauhari dalam konferensi pers di lokasi yang sama.

Forum bisnis ini menjadi ajang bagi para pelaku usaha dari kedua negara untuk bertemu langsung. Pertemuan itu menghasilkan beberapa kerja sama baru. Djauhari menyebut nilai total kesepakatan yang berhasil diamankan mencapai sekitar US$ 2 miliar. "Itu yang telah kami kerjasamakan saat ini dan mereka telah hadir, dan tadi kami juga telah melaksanakan forum bisnis di mana telah menghasilkan beberapa kerja sama dan kesepakatan kurang lebih nilainya sekitar US$ 2 miliar," terangnya.

Selain membahas kesepakatan baru, Djauhari juga memaparkan kinerja perdagangan bilateral. Hubungan dagang antara Indonesia dan China terus menunjukkan tren positif. Sepanjang tahun lalu, nilai perdagangan kedua negara mencapai sekitar US$ 168 miliar. Memasuki tahun ini, hingga bulan Juni 2026, angkanya sudah mencapai US$ 101 miliar. Data ini, menurut Djauhari, berasal dari catatan kepabeanan China. Yang menarik, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$ 5,6 miliar dalam periode yang sama.

Bukan hanya di sektor perdagangan. Realisasi investasi dari China ke Indonesia juga menunjukkan angka yang signifikan. Hingga bulan Juni 2026, nilai investasi yang sudah masuk mendekati US$ 10 miliar. "Nilai investasi dari Tiongkok ke Indonesia sekarang sudah mendekati US$ 10 miliar sampai dengan bulan Juni dan mudah-mudahan ini positif terus sampai dengan akhir tahun," ujar Djauhari.

Kerja sama kedua negara tidak berhenti di investasi dan perdagangan barang. Djauhari menyebut ada perkembangan di sistem pembayaran. Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral, yakni rupiah dan yuan, meningkat drastis. Lonjakannya mencapai lebih dari 200 persen pada periode Januari hingga Juni 2026. Data ini, menurut Djauhari, berasal dari Bank Indonesia. "Kita berlakukan kegiatan bisnis kita melakukan rupiah dan Yuan peningkatan periode sampai data dari Bank Indonesia kalau tidak salah periode Januari sampai Juni itu diatas 200%," jelasnya.

Kemudahan lain juga hadir bagi warga yang bepergian ke China. Sejak bulan Mei 2026, sistem pembayaran QRIS sudah bisa digunakan di seluruh daratan China. Artinya, wisatawan atau pelaku bisnis asal Indonesia tidak perlu lagi membawa uang tunai saat berkunjung ke sana. "Jadi kalau ke sana nggak usah bawa cash lagi, pakai QRIS bisa," tambah Djauhari.

Dari sisi pengusaha, respons positif datang dari Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani. Ia menyatakan bahwa pihaknya selalu terbuka terhadap peluang kerja sama dengan mitra asing, termasuk China. "Kami dari pelaku usaha Indonesia siap untuk mau bekerja sama dengan menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan dari China. China adalah mitra dagang dan investasi yang besar buat Indonesia," ujar Shinta.

Shinta menilai potensi kerja sama antara kedua negara masih sangat besar. Kesepakatan yang berhasil diraih dalam forum bisnis di kantor Kemenko Perekonomian menjadi salah satu buktinya. Ia juga menekankan pentingnya pendampingan bagi perusahaan China yang sudah menanamkan modal di Indonesia. "Tadi juga banyak yang sudah menanamkan modalnya di Indonesia dan mereka juga perlu kita kawal untuk bersama-sama dengan pelaku usaha Indonesia juga bersama-sama mengidentifikasi juga tantangan dan peluang yang perlu kita terus kawal," terang Shinta.

Forum bisnis ini menjadi salah satu langkah konkret dalam memperkuat hubungan ekonomi Indonesia-China. Kedua negara sama-sama mencari celah untuk meningkatkan kerja sama di berbagai sektor strategis. Mulai dari energi terbarukan yang menjadi perhatian global, hingga teknologi masa depan yang terus berkembang. Sektor kesehatan juga tidak ketinggalan, mengingat pentingnya kemandirian di bidang ini pasca-pandemi.

Nilai investasi yang mendekati US$ 10 miliar dalam setengah tahun menunjukkan kepercayaan investor China terhadap iklim usaha di Indonesia. Ditambah dengan surplus perdagangan yang diraih Indonesia, posisi tawar Indonesia di mata mitra dagang utamanya ini terbilang kuat. Namun, tantangan tetap ada. Koordinasi antara pemerintah dan pelaku usaha lokal menjadi kunci agar kerja sama ini memberikan manfaat yang maksimal bagi kedua belah pihak.

kesepakatan bisnisperjanjian Chinainvestasi Chinanilai US$ 2 miliarforum bisnisenergi terbarukanteknologi masa depan

Komentar

Memuat komentar...