BI Diprediksi Naikkan Suku Bunga 25 bps, Rupiah Terus Tertekan
Gambar atau konten salah?
Jakarta — Ekonom utama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero), yang akrab disapa SMF, Martin D. Siyaranamua, memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar pada Rabu, 23 Juli 2026.
Menurut Martin, saat ini BI tidak punya pilihan lain selain menaikkan suku bunga atau setidaknya menahannya. Opsi untuk menurunkan suku bunga nyaris tidak ada. Penyebab utamanya adalah nilai tukar rupiah yang terus melemah. Dengan kondisi seperti ini, peluang untuk menurunkan suku bunga menjadi sangat kecil.
"Alasannya sederhana, kalau rupiah masih tertekan opsi turun itu bukan opsi yang akan diambil oleh Bank Indonesia. Sekarang tebakan saya naik 25 basis poin," ujar Martin dalam konferensi pers capaian kinerja Semester I 2026 SMF di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Martin juga memproyeksikan bahwa kenaikan suku bunga acuan akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Dalam perhitungan perseroan, BI Rate diperkirakan mencapai level 6,75% pada akhir 2026. Angka ini, menurut Martin, adalah angka yang pesimistis.
"Proyeksi kami, di akhir tahun 2026 ini, itu akan mencapai posisi 6,75. Kalau Bapak-Ibu berpikir bahwa, oh gede sekali 6,75, enggak, kenapa? Tolong ingat, bulan lalu itu dua kali Bank Indonesia menaikkan BI rate-nya. Jadi jangan aneh gitu, kita masih punya 6 bulan ke depan, 5 bulan ke depan gitu loh," jelasnya.
Ia menambahkan, "Tapi angka 6,75 ini saya harus bilang itu adalah angka yang relatif pesimis. Moderatnya itu mungkin naik sekitar 2 kali, 2-3 kali lagi."
Kenaikan BI Rate ini, menurut Martin, akan berdampak langsung pada biaya dana perbankan dan bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). "Implikasinya apa? Implikasinya adalah cost of fund. Implikasinya adalah rate KPR yang masih lebih mahal. Implikasinya apa? Implikasinya permintaan akan rumah, permintaan KPR itu pasti akan tertekan," ujarnya.
Dengan proyeksi BI Rate mencapai 6,75% pada akhir tahun, Martin mengingatkan bahwa tekanan pada sektor properti akan semakin terasa. Biaya dana yang lebih tinggi membuat bank enggan menurunkan suku bunga KPR. Akibatnya, permintaan rumah baru berpotensi menurun. Ini menjadi tantangan bagi pasar properti di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
