Rismon Serahkan Buku Forensik Digital Ijazah Jokowi

Ayu W. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Rismon Serahkan Buku Forensik Digital Ijazah Jokowi

Gambar atau konten salah?

Rismon Hasiholan Sianipar, seorang peneliti yang dikenal lewat karya-karyanya di bidang forensik digital, baru saja menulis sebuah buku berjudul Otentikasi Ijazah Joko Widodo: Sebuah Kajian Forensik Digital. Buku ini ia serahkan kepada Presiden Joko Widodo di kediaman Sumber, Solo, pada 17 Juni 2026. Menurut Rismon, buku tersebut merupakan ungkapan rasa terima kasihnya atas kebesaran hati Jokowi.

“Sebagai rasa berterima kasih saya pada kebesaran hati Pak Jokowi, ya kan, bahwa saya selama ini big mistake dan saya memperbaikinya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. Saya hanya tunduk pada kaidah-kaidah ilmiah, bukan tunduk pada afiliasi politik, kebencian, ketidaksukaan, kesukaan, dan segala macam,” ujar Rismon di kediaman Jokowi.

Ia menegaskan bahwa buku itu sudah ditandatangani langsung oleh Presiden. “Tadi kami sedikit menjelaskan isi bukunya. Ini ditandatangani oleh Pak Jokowi ya, 17 Juni 2026. Saya sampaikan, 'Pak, ini tanpa afiliasi politik, bahwa setiap peneliti bisa mengukur tulisannya',” tambahnya.

Rismon menekankan bahwa buku tersebut tidak memiliki afiliasi politik. “Jadi Pak Jokowi semringah, karena apa, ya ini mengembalikan apa namanya, penelitian itu ke domain ke kampus lagi. Kan enggak mungkin ke SMA, karena ini kan objek kajian tingkat kuliah ya kan, S1 ke atas gitu,” ia katakan.

Ia juga menolak tuduhan bahwa buku itu semata-mata merupakan pesanan. “Aduh, penafian lagi ya, selalu digoreng di sana bahwa ini pesanan, lah. Itu permulaan saya dari awal, kewajiban moral, kewajiban moral. Untuk membuktikan bahwa saya salah, ya tulis buku dong begini biar kita bermoral, biar ada literasi ilmiah,” jelas Rismon.

Rismon mengungkapkan bahwa Jokowi mendukung penempatan buku ini di dunia akademik. “Bagus, cuma disupport ya kan bahwa ini harus ditempatkan ke dunia akademik. Diteliti, diiris, dikuliti di dunia akademik. Jadi nggak ada kaitannya dengan 'oh saya nggak suka tokoh politik ini, ayo kita buat supaya begini kesimpulannya', nggak begitu ya kan. Kalau kita tempatkan ini di seluruh universitas di Indonesia maka ini akan menjadi objek kajian yang netral, yang tidak subjektif, yang objektif gitu lho,” ia katakan.

Buku ini memiliki 800 halaman dan terbagi menjadi 10 bab yang masing-masing membahas teknik forensik digital. Berikut daftar babnya:

  • Bab 1 Uji Emboss dan Watermark
  • Bab 2 Uji Ela (Error Level Analysis)
  • Bab 3 Analisa Lapisan Visual
  • Bab 4 Uji Overlay
  • Bab 5 Analisa Glyph
  • Bab 6 Analisa Pola Derau (Noise Pattern Analysis)
  • Bab 7 Uji Proportional Spacing dan Kerning
  • Bab 8 Overlapping Detection
  • Bab 9 Uji Lintasan Stempel
  • Bab 10 Pencocokan Citra Wajah

Di Bab 10, Rismon membahas teknik pencocokan wajah atau face matching menggunakan perangkat lunak. “Di bab 10 sudah ada pencocokan citra wajah, bagaimana analisa saya foto Pak Jokowi muda pada saat di ijazah tersebut dengan Pak Jokowi setelah jadi Presiden, 30 atau 40 tahun ke depan, pencocokannya bagaimana pakai apa namanya Acface. Jadi kita sudahi penilaian subjektif seperti berkacamata atau belah tengah, itu nggak ilmiah,” ia jelaskan.

Ia juga membandingkan foto masa muda dan masa tua sejumlah tokoh lain untuk mendapatkan standar kemiripan yang realistis. “Saya bandingkan juga foto Pak Prabowo waktu muda dengan ketika jadi Presiden 40 tahun kemudian. Saya uji coba juga untuk foto tokoh seperti Pak SBY, Pak Luhut Binsar, Pak Anies Baswedan, hingga Bu Megawati,” ujar Rismon.

Hasil ujiannya menunjukkan bahwa angka kecocokan wajah setelah puluhan tahun berada di kisaran 35-60 persen. “Angka inilah yang ia jadikan rujukan untuk mengesahkan bahwa foto pada ijazah Jokowi adalah asli, meski terdapat perubahan fisik akibat usia,” tambahnya. Ia menolak klaim kemiripan 92 persen yang pernah dilontarkan pihak lain. “Apa yang dikatakan Bu Tifa, Bayesian itu tidak cocok. 92 persen itu menyesatkan publik,” tegas Rismon.

Melalui buku 800 halamannya, Rismon ingin meluruskan bahwa perubahan wajah dari muda ke tua tidak bisa diukur secara sembarangan. Ia menekankan bahwa bukunya hadir sebagai pertanggungjawaban ilmiah agar hiruk-pikuk di media sosial berakhir dan berganti menjadi kajian akademik di perpustakaan universitas. “Artinya orang bisa memilih tidak lagi berkacamata, orang juga bisa memilih tidak lagi berkumis. Tetapi itu bukan poin, itu subjektif. Yang objektif adalah pencocokan citra digital berbasis neural networks atau yang lebih mudah lagi berbasis machine learning,” pungkasnya.

Dengan menempatkan buku ini di lingkungan akademik, Rismon berharap penelitian tentang otentikasi ijazah Jokowi dapat menjadi bahan diskusi yang netral dan terukur. Hal ini diharapkan dapat mengurangi spekulasi publik dan menumbuhkan literasi ilmiah di kalangan mahasiswa dan peneliti. Otentikasi Ijazah Joko Widodo: Sebuah Kajian Forensik Digital menjadi contoh bagaimana keilmuan dapat dijadikan alat untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan memperkuat kredibilitas data publik.

Rismon Hasiholan SianiparOtentikasi Ijazah JokowiForensik DigitalPencocokan Citra WajahNeural NetworksLiterasi IlmiahUniversitas Indonesia

Komentar

Memuat komentar...