Batu Lingga Mataram Pindah ke Museum Klaten untuk Publik
Gambar atau konten salah?
Batu lingga prasasti yang ditemukan di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten telah dipindahkan ke dalam Museum Klaten. Batu ini berukuran 82 cm tinggi, 35 cm lebar, dan terbuat dari batu andesit. Bentuknya atas silinder, bawah persegi, dan menampilkan tulisan Palyangan yang berasal dari era Mataram kuno abad 9‑10 Masehi.
“Sampai kantor tadi langsung kita bersihkan, termasuk sisa semen yang menempel. Kita letakkan di ruang dalam, ruang koleksi,” jelas pamong budaya ahli pertama Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung, Selasa, 17 Juni 2026.
Relokasi dilakukan secara manual. Wiyan Ari menjelaskan, “Tidak dengan crane seperti pada Yoni. Kita cukup menggunakan troli dibawa dengan mobil dinas biasa.”
Setelah dibawa ke museum, batu ini lebih aman. Wiyan Ari menambahkan, “Warga bisa melihat ke museum. Harapannya dengan dibawa ke museum bisa menjadi edukasi sejarah masyarakat lebih luas.”
Sesepuh warga, Sarjono (78), mengatakan tidak masalah lingga itu dibawa ke Pemkab. Ia mengingat asalnya: “Dulunya awal itu di dekat sumur masjid, terus dipindah ke sana (gang utara masjid). Darimana asalnya juga tidak tahu.”
Pada Sabtu, 13 Juni 2026, Wiyan Ari dan timnya menemukan batu lingga di gang rumah warga. Wiyan Ari bersuara, “Kita bersama teman-teman pegiat sejarah blusukan ke sini karena kemarin ada informasi di dekat masjid Al Muttaqien ada lingga. Setelah ada laporan hari ini kita tindak lanjuti.”
Setelah diangkat dan dibersihkan, aksara terlihat. Wiyan Ari berkata, “Setelah kita bersihkan ternyata ada aksaranya. Tahap awal kita dokumentasikan, kita ukur dimensi dan kita akan minta bantuan epigraf untuk membaca.”
Batu memiliki bagian atas silinder dan bagian bawah persegi, dengan diameter 34 cm dan alas 32 × 32 cm. Wiyan Ari menjelaskan, “Bagian atas berbentuk silinder dan di bawah berbentuk persegi, berbahan batu andesit. Di tepi jalan depan masjid ada yang diduga Yoni posisi terpendam.”
Harun Al Rasyid, pamong budaya ahli pertama BPK Jateng, menambahkan: “Tinggi huruf 3,5 centimeter dengan panjang tulisan 34 centimeter. Dari ejaan tulisan sama dengan yang lain yaitu Palyangan, hurufnya era Mataram kuno abad 9‑10 Masehi atau akhir‑akhir.”
Dengan ditempatkan di ruang koleksi museum, batu lingga ini kini dapat dilihat publik. Pindahannya bertujuan melindungi artefak dan memperluas edukasi sejarah bagi masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Perahu Darurat Menyeberangi Sungai Serayu, Warga Bergantung
Rifki Romadhon Lulus IPK 4,00, Raih Penghargaan Internasional
Banjir di Jakarta Menggenang, Penyelamatan Rumah Berlangsung
Buku 800 Halaman Rismon Verifikasi Ijazah Jokowi via ML
PSI Raih Ribuan Anggota Berkat Dukungan Jokowi di Banjarsari
Kusriyati Parkir Brebes Cegah Pencurian Uang Rp 3,6 Miliar
Berita Terbaru
Kepala Desa Jombang Terpesona IKN, Mengunjungi Kota Masa Depan
Messi Raih Rekor Gol Piala Dunia, Bersama Klose pada 2026
Reformasi Koperasi: LPS, Digitalisasi, dan Penegakan Hukum
Anjangsana Polda Babel 80 Hari Bhayangkara di Pangkalpinang
Dua Perempuan Tersesat di Gunung Sipiso‑piso, Ditemukan
Jawa Barat Hitung Anggaran Bantu Murid 78 Ribu di SMA Negeri
Rumor Wanita Jaga Pos Ronda di Watuagung Dibatalkan
BXSea Buka Eksibisi Kuda Laut Perut Besar, Kerja Sama Jepang