Robot Humanoid: Triliunan Dolar, China Pimpin Pasar

Rini S. · 3 min baca · 1 jam lalu · 24 dibaca
Bisik.id
Robot Humanoid: Triliunan Dolar, China Pimpin Pasar

Gambar atau konten salah?

Softbank CEO Masayoshi Son menegaskan bahwa AI fisik dan robotika menjadi ladang emas baru bagi perusahaan bernilai triliunan dolar di masa depan. Ia percaya bahwa robot humanoid yang dapat meniru gerakan manusia kini bukan sekadar fiksi ilmiah, melainkan tren nyata yang akan mengubah wajah dunia dalam satu dekade.

Para pengamat memperkirakan mesin canggih ini akan memicu lonjakan industri hingga 100 kali lipat. Perubahan ini diharapkan terjadi seiring kemampuan fisik AI menjadi semakin pintar.

Zornitza Todorova, Kepala Riset Tematik FICC di Barclays, menegaskan bahwa saat ini kita sedang memasuki dekade robot. Ia berkata, “Robotika humanoid benar-benar berada dalam tren menanjak. Ukuran pasar saat ini memang sangat kecil, sekitar 2 hingga 3 miliar dolar, tapi kami melihatnya akan naik menjadi USD 200 miliar pada tahun 2035,

Laporan Todorova mengungkapkan bahwa robot-robot ini hadir sebagai solusi atas krisis tenaga kerja struktural. Penuaan populasi dan perubahan preferensi pekerjaan membuat banyak posisi “kotor, membosankan, dan berbahaya” kini kosong. Di sinilah robot mengambil peran.

Ia menambahkan, “Mereka sudah melakukan tugas sederhana yang terdefinisi jelas seperti mengangkat kotak atau mengambil barang dari jalur perakitan, membantu mengisi peran di mana tidak banyak manusia bisa melakukan pekerjaan tersebut. Masih banyak yang harus dilakukan dan teknologinya berkembang sangat, sangat cepat,

Todorova melihat potensi yang jauh lebih besar dari sekadar buruh pabrik. “Saya rasa kita di ambang transformasi, kita baru menyentuh permukaan dari apa yang bisa dilakukan robot humanoid. Seiring matangnya teknologi, serta model yang lebih baik dan lebih cepat dalam bereaksi secara real time, saya pikir kita akan melihat banyak aplikasi dalam peran yang lebih berorientasi pada layanan,

Barclays membagi invasi robot ini ke dalam dua gelombang besar. Gelombang pertama, yang berlangsung hingga 2030, fokus pada sektor manufaktur, logistik, pertanian, hingga konstruksi. Gelombang kedua akan meledak setelah 2030, ketika robot humanoid mulai merambah sektor yang lebih personal seperti perawatan kesehatan, layanan lansia, pendidikan, dan industri perhotelan.

China kini memegang kendali sebagai raksasa robotika dunia. Negara Tirai Bambu ini memasang hampir 300.000 robot industri secara global, jauh melampaui Amerika Serikat yang hanya 34.000 unit. China bahkan meningkatkan kepadatan robotnya hingga 600%, atau sekitar 500 robot per 10.000 pekerja. Tidak hanya soal jumlah, China juga mendominasi produksi dengan biaya yang jauh lebih murah, yakni sekitar USD 50.000 atau setengah dari harga pesaing Barat.

Jason Pidcock, pengelola reksa dana Asian Income, meramalkan dunia akan berubah total dalam sepuluh tahun ke depan berkat revolusi ini. Ia berkata, “Dalam 10 tahun ke depan, akan ada robot humanoid di mana-mana,

Pidcock membayangkan masa di mana robot menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. “Anda mungkin akan memilikinya satu di rumah. Anda pasti akan punya teman atau anggota keluarga yang punya robot humanoid. Pabrik-pabrik akan dipenuhi oleh mereka. Angkatan bersenjata hingga departemen pemerintahan akan dipenuhi oleh mereka,” pungkasnya.

Perkembangan robot humanoid menandai pergeseran paradigma industri dan layanan. Dengan pasar yang diproyeksikan melonjak menjadi USD 200 miliar pada tahun 2035, dan dominasi China dalam produksi, teknologi ini tampak siap mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari‑harinya. Robot tidak lagi hanya alat bantu, melainkan mitra yang dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia di berbagai sektor.

AI fisikrobot humanoidindustri robotikapasar robotChinatenaga kerja strukturalrevolusi industrilayanan kesehatan

Komentar

Memuat komentar...