Rupiah Jatuh ke Rp 18.000, Mata Uang Terlemah Asia 12 Juni
Gambar atau konten salah?
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh Rp 18.000, menandakan tekanan ekonomi yang juga dirasakan di negara Asia lainnya. Ketidakseimbangan ini dipicu oleh inflasi tinggi, ketegangan geopolitik, dan menurunnya kepercayaan investor global terhadap pasar uang domestik.
Berikut daftar mata uang terlemah di Asia per 12 Juni 2026, berdasarkan konverter mata uang Forbes yang mengutip data Open Exchange. Setiap nilai menunjukkan berapa satu dolar AS setara dengan satu unit mata uang tersebut.
- Rial Iran (IRR)
Satu rial Iran bernilai USD 0,000001. Artinya, satu dolar AS setara dengan 1.315.000 rial Iran, atau pada 11 Juni 2026 mencapai 1.376.000. Penurunan tajam ini disebabkan konflik baru-baru ini antara Iran, Israel, dan AS. - Pound Lebanon (LBP)
Satu pound Lebanon setara dengan USD 0,000011. Jadi, satu dolar AS setara dengan 89.432,68 pound Lebanon, atau pada 12 Juni 2026 menjadi 89.252. Pound Lebanon telah melemah karena ekonomi lesu, inflasi tinggi, pengangguran, krisis perbankan, dan gejolak politik. - Dong Vietnam (VND)
Satu dong Vietnam bernilai USD 0,000038. Sehingga satu dolar AS setara dengan 26.319,32 dong Vietnam, atau pada 12 Juni 2026 26.332. Nilai VND tertekan oleh pembatasan ekspor dan perlambatan ekspor, ditambah suku bunga AS yang terus naik. - Kip Laos (LAK)
Satu kip setara dengan USD 0,000046. Artinya, satu dolar AS setara dengan 21.971,71 kip, atau pada 12 Juni 2026 21.940. Mata uang Laos tertekan oleh pertumbuhan ekonomi lambat, utang luar negeri meningkat, dan inflasi tinggi. - Rupiah Indonesia (IDR)
Pada awal Juni, satu rupiah bernilai USD 0,000056, sehingga satu dolar AS setara dengan Rp 17.827,63. Nilai rupiah pernah menyentuh Rp 18.000, dan pada 12 Juni 2026 mencapai Rp 17.923. Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, mengalami penurunan mata uang karena inflasi tinggi dan kekhawatiran resesi. - Som Uzbekistan (UZS)
Satu som setara dengan USD 0,000084. Jadi, satu dolar AS setara dengan 11.917,50 som, atau pada 12 Juni 2026 menjadi 11.970. Meski Uzbekistan mengekspor kapas dan memiliki cadangan mineral, minyak, serta gas, negara ini menghadapi pertumbuhan ekonomi rendah, inflasi, pengangguran tinggi, dan korupsi.
Keputusan ini menegaskan bahwa keenam mata uang di atas merupakan yang terlemah di dunia pada 01 Juni 2026, dengan urutan yang sama seperti yang tercatat di Asia. Keterbatasan nilai tukar ini mencerminkan tantangan struktural yang dihadapi masing-masing negara, mulai dari ketegangan geopolitik hingga kebijakan moneter dan kondisi ekonomi makro yang tidak stabil.
Secara keseluruhan, data ini menyoroti betapa rentan mata uang negara berkembang ketika faktor eksternal dan internal bersatu. Ketika inflasi tinggi, kebijakan moneter ketat, dan ketidakpastian politik memengaruhi kepercayaan investor, nilai tukar dapat menurun drastis. Meskipun beberapa negara masih memiliki potensi ekonomi kuat, tekanan eksternal dan internal dapat menurunkan daya tarik mata uang mereka di pasar global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Balai Pengajian Miftahul Jannah Dibangun Ulang Bersama TNI
Bawaslu Tawarkan Beasiswa PNS Sarjana hingga Doktor 2026
Gubernur Sumut Buka Trail of the Kings UTMB 2026 di Samosir
Serangan Jantung Saat Tidur: Gejala dan Tanda Peringatan
Musang di Loteng: Cara Sederhana Mengusir Tanpa Kerusakan
Pemerintah Pertimbangkan Tutup SPPG, Biaya MBG 1 Triliun
Berita Terbaru
PT Pindad Siapkan Mobil Nasional di Subang Target 50.000
Indonesia vs Kamboja, Kejar Tempat Ketiga AFF U-19
Anker Rilis Soundcore Liberty 5 Pro: Earbuds AI Berkualitas
Bawaslu Buka Beasiswa PNS ke Universitas Indonesia 2026
Persidangan SEKBERTI 19: Fokus Operasi Pos Lintas Batas
Kunjungi Koperasi Merah Putih Sidoarjo, Tinjau Implementasi
Keju setelah dessert: Manfaat bagi pH mulut, tapi tak cukup
Colin McPhee Menemukan Musik Bali di Banjar Kutuh