Rupiah Melemah 7,74%, BI Siapkan Intervensi

Hendra M. · 2 min baca · 1 jam lalu · 23 dibaca
Bisik.id
Rupiah Melemah 7,74%, BI Siapkan Intervensi

Gambar atau konten salah?

Bank Indonesia melaporkan bahwa nilai tukar rupiah telah melemah 7,74 persen sejak awal tahun hingga saat ini. Pelemahan ini, menurut BI, sejalan dengan pergerakan mata uang di negara-negara tetangga.

Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar suatu negara dipengaruhi oleh faktor global dan domestik. Termasuk di dalamnya faktor sentimen dan kebutuhan. Contohnya, ketika Amerika Serikat memutuskan menaikkan suku bunga atau saat terjadi konflik di Selat Hormuz yang mengganggu pasokan energi global.

Menurut Erwin, sentimen-sentimen semacam itu membuat pelaku pasar melihat kondisi fiskal AS yang berada di ambang defisit. Akibatnya, pemerintah AS akan menerbitkan lebih banyak surat utang dengan suku bunga yang lebih tinggi. Inilah yang kemudian mendorong indeks dolar AS, atau DXY, melampaui level 101. Dan ketika DXY menguat, mata uang negara lain otomatis melemah.

"Ketika DXY, indeks dollar menguat, kira-kira mata uang lain? Melemah," kata Erwin dalam Taklimat Media di kantor Bank Indonesia, Rabu, 30 September 2026.

Sepanjang tahun 2026, rupiah terdepresiasi 7,74 persen jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu. Tapi pelemahan ini juga terjadi di negara lain. Erwin membandingkan volatilitas rupiah yang berada di kisaran 7,30 persen. Sementara Korea Selatan mencatat volatilitas 15,6 persen, Filipina 8,7 persen, dan Malaysia 8,59 persen.

"Memang kita secara year to date di posisi tanggal 29 September kita terdepresiasi 7,74% dibandingkan posisi kita akhir tahun," jelasnya.

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar. Caranya dengan menggunakan instrumen operasional seperti Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Langkah intervensi ini bertujuan menjaga pergerakan rupiah tetap sesuai dengan nilai fundamentalnya.

"Tentunya di dalam konteks mencoba balancing neraca pembayaran dengan kondisi neraca transaksi berjalan seperti itu, selain koordinasi dengan otoritas terkait, Bank Indonesia juga mencoba membalancing ini dengan mendorong aliran masuk modal asing di capital account," jelas Erwin.

Ia juga memastikan instrumen kebijakan dilakukan untuk menjaga mekanisme pasar antara suplai dan permintaan valuta asing tetap seimbang. BI mencatat bahwa secara historis, setiap kuartal-III selalu menunjukkan siklus pemenuhan kebutuhan valuta asing (valas). Lonjakan permintaan ini terutama didorong oleh aktivitas repatriasi dan pemenuhan kebutuhan impor. Dinamika pada akhir kuartal memang memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan akhir bulan biasa.

Erwin menilai bahwa hingga akhir kuartal-III merupakan titik puncak kebutuhan valas. Namun, permintaan tersebut diperkirakan akan mereda menjelang akhir tahun.

"Sehingga dengan upaya-upaya yang kita lakukan kita berharap setelah lewat kuartal II ini kita bisa better off sampai akhir tahun itu harapan kita," imbuhnya.

Pelemahan rupiah sebesar 7,74 persen sepanjang tahun ini memang terdengar besar. Namun jika dibandingkan dengan negara tetangga, depresiasi rupiah masih tergolong lebih rendah. BI sendiri telah menyiapkan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, terutama saat permintaan valas sedang tinggi di akhir kuartal ketiga.

rupiahmelemahBank Indonesianilai tukarvaluta asingdepresiasiDXY

Komentar

Memuat komentar...