Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Beberkan Penyebabnya
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Rupiah kembali tertekan di hadapan dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan pagi ini, kurs rupiah sudah menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, membeberkan penyebab pelemahan ini. Menurutnya, kekhawatiran pasar terhadap inflasi global dan risiko fiskal masih berlanjut. Kondisi itu makin diperparah dengan harga minyak yang melonjak hingga di atas US$ 108 per barel. Sementara itu, belum ada titik terang soal kesepakatan pembukaan Selat Hormuz.
Kondisi ini pada akhirnya mendorong pelaku pasar berekspektasi bahwa bank sentral AS akan semakin agresif mengetatkan kebijakan moneternya. Imbasnya, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS (UST) tenor 10 tahun kembali merangkak naik ke level 5,23%. Angka itu merupakan yang tertinggi sejak tahun 2007.
"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," ujar Erwin dalam keterangan resminya, Selasa (29 September 2026).
Meski demikian, Bank Indonesia menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara kawasan lainnya. Pelemahannya pun disebut terbatas, yakni hanya 0,67% secara kuartal berjalan atau quarter-to-date (qtd). Di sisi lain, posisi cadangan devisa tercatat menguat menjadi US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
Untuk menjaga stabilitas, BI memastikan akan tetap hadir di pasar. Langkah ini ditempuh agar mekanisme pasar bisa berjalan normal dan nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya.
Selain itu, BI juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan memperkuat strategi operasi moneter yang pro-market. Efektivitas stabilisasi nilai tukar juga diperkuat. Kecukupan likuiditas dijaga dengan memberikan insentif lebih besar untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka pendanaan luar negeri.
Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Caranya melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," pungkas Erwin.
Pelemahan rupiah kali ini menunjukkan betapa besar pengaruh faktor eksternal terhadap nilai tukar. Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS menjadi dua hal utama yang patut dicermati. Sementara itu, langkah intervensi yang dilakukan BI diharapkan bisa meredam gejolak dan menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG Dibuka Merah, Terjun ke Level 6.083
BEI Berlakukan Short Selling 5 Saham Mulai 1 Oktober
Dolar AS Tembus Rp 18.000 di Awal Perdagangan Selasa
BEI Hapus Batas Minimum Harga Saham, 26 Saham Rp 50 Kena ARB
Low Tuck Kwong Tetap Kuasai Bayan Resources
Saham Tambang Kompak Melemah Usai Aturan Baru Terbit
