Senegal Larang Menteri Ke Luar Negeri, Harga Minyak Naik
Gambar atau konten salah?
Senegal menghadapi tekanan ekonomi akibat kenaikan harga minyak global. Pemerintah memutuskan langkah drastis dengan melarang semua menteri melakukan perjalanan dinas ke luar negeri.
Perdana Menteri Ousmane Sonko mengungkapkan bahwa “biaya satu barel minyak saat ini mendekati dua kali lipat dari anggaran yang telah ditetapkan pemerintah.” Ia menegaskan bahwa kenaikan ini menambah beban negara yang sudah berjuang mengendalikan inflasi.
Dalam rapat umum yang diadakan pada Senin, 06 April 2026, Sonko menegaskan larangan tersebut. Ia juga menunda perjalanan pribadi ke Niger, Spanyol, dan Prancis sebagai contoh konkret kebijakan ini.
Sonko menjanjikan bahwa “Menteri Pertambangan akan mengumumkan langkah-langkah lebih lanjut untuk mengekang pengeluaran pemerintah dalam minggu mendatang.” Langkah ini diharapkan dapat menekan biaya operasional pemerintah dan mengurangi defisit fiskal.
Walaupun industri minyak dan gas di Senegal masih baru, negara ini sangat bergantung pada impor bahan bakar. Pada tahun lalu, International Monetary Fund (IMF) menilai perekonomian Senegal sebagai “kuat” dengan pertumbuhan hampir 8 % dan inflasi rendah. Namun, utang publik mencapai lebih dari 130 % dari PDB, menambah beban ketika harga minyak melonjak.
Sonko, yang dilantik dua tahun lalu, menuduh pemerintah sebelumnya menimbulkan beban utang yang kini membuat situasi sulit. Ia menekankan bahwa meski kondisi sulit, rakyat Senegal tetap tangguh.
Reaksi di benua Afrika tidak terlepas. South Africa menurunkan pajak bensin untuk mengurangi harga SPBU. Ethiopia menghadapi kekurangan bahan bakar sehingga beberapa lembaga pemerintah dipaksa memotong gaji karyawannya. Sudan Selatan mulai melakukan penjatahan listrik di ibu kotanya, Juba, sementara Zimbabwe meningkatkan kandungan etanol dalam bensinnya.
Penutupan efektif Selat Hormuz di Teluk Persia akibat konflik antara AS dan Israel juga menghambat pasokan pupuk global. Diperkirakan 30 % input pertanian penting melewati Teluk. International Rescue Committee memperingatkan pada hari Rabu bahwa ini adalah “bom waktu ketahanan pangan”, khususnya bagi Afrika Timur yang bergantung pada impor pupuk dari Timur Tengah.
Langkah-langkah ini mencerminkan upaya negara-negara Afrika untuk menanggulangi dampak harga minyak global. Senegal, dengan kebijakan larangan perjalanan dinas dan rencana penghematan, mencoba menyeimbangkan kebutuhan fiskal dan ketahanan energi di tengah ketidakpastian ekonomi internasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Promo Akhir Juli: Tiket Trans Studio Cibubur Mulai Rp398 Ribu
Piala Dunia 2026 Gagal Tarik Lonjakan Wisatawan
'Timuran di Bekasi' Hadirkan Musik Santai dan Games Seru
Nemuru Ciawi Siapkan Paket Liburan Sekolah Anak
Bandara Husein Sastranegara Resmi Jadi Bandara Internasional
13 Terluka dalam Lari Banteng San Fermin
