Serangan Jantung Malam: Gejala, Penyebab, dan Pencegahan

Cahyo S. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Serangan Jantung Malam: Gejala, Penyebab, dan Pencegahan

Gambar atau konten salah?

Serangan jantung tidak selalu muncul ketika tubuh sedang dalam kondisi aktif atau stres. Banyak kasus terjadi saat seseorang sedang beristirahat atau bahkan tertidur. Karena gejalanya seringkali tidak jelas atau dianggap sekadar gangguan tidur, penanganan medis bisa terlambat. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda serangan jantung yang muncul di malam hari.

Berikut dua penyebab utama mengapa serangan jantung dapat terjadi saat tidur:

1. Obstructive Sleep Apnea (OSA)
OSA adalah gangguan pernapasan yang muncul saat tidur. Pengidapnya berulang kali mengalami henti napas karena saluran napas tersumbat atau menyempit. Akibatnya, pasokan oksigen ke jantung berkurang, sehingga otot jantung dapat rusak. Dian Zamroni, SpJP, konsultan perawatan intensif dan kegawatan kardiovaskular, menjelaskan: "Otot jantung itu ada dua jenis. Yang pertama sel yang bersifat listrik, dan sel yang bersifat pompa. Kalau yang rusak sel listrik, maka yang terjadi adalah listriknya konslet, dan itu meninggalnya lebih cepat."

2. Terabaikan karena Tidur Terlalu Pulas
Nyeri dada yang biasanya menandakan serangan jantung bisa terabaikan ketika tubuh sedang dalam keadaan tidur pulas. Rasa sakit yang biasanya terasa di dada, bahu, lengan, atau rahang bisa terlewat, sehingga tindakan medis tidak segera dilakukan dan risiko menjadi lebih tinggi.

Menurut Mayo Clinic, serangan jantung terjadi ketika arteri yang membawa darah dan oksigen ke jantung tersumbat. Akumulasi lemak dan kolesterol membentuk plak di dinding arteri. Ketika plak pecah, gumpalan darah terbentuk dan menyumbat arteri, sehingga aliran darah ke otot jantung terhenti. Akibatnya, jaringan otot mati.

Berikut beberapa gejala serangan jantung yang dapat muncul saat tidur, menurut Verywell Health dan Cleveland Clinic:

  • Nyeri dada: terasa seperti tekanan, terjepit, atau pegal.
  • Rasa sakit menyebar: ke bahu, lengan, punggung, leher, rahang, gigi, atau perut bagian atas.
  • Sesak napas: tidak biasa, muncul saat istirahat.
  • Gejala lain: berkeringat dan mual.

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, segera cari pertolongan medis. Karena gejalanya tidak spesifik, bisa saja tidak terkait dengan serangan jantung. Dokter biasanya akan melakukan serangkaian tes, termasuk elektrokardiogram (EKG) dan tes darah, untuk menentukan kondisi jantung. Jika hasilnya menunjukkan serangan jantung, tes lanjutan dapat dilakukan, seperti:

  • Ekokardiogram: menggunakan gelombang ultrasonik untuk memeriksa kerusakan jantung.
  • Angiogram koroner: prosedur sinar X untuk melihat di mana aliran darah terhambat.

Untuk mencegah serangan jantung, kualitas tidur memegang peranan penting. Healthline melaporkan bahwa pada studi tahun 2018, tidur miring ke kiri dapat memengaruhi pembacaan elektrokardiogram (EKG) pada orang sehat. Dalam posisi ini, jantung sedikit bergeser. Sebaliknya, tidur ke kanan hampir tidak mengubah aktivitas EKG karena jantung tertahan di tempatnya oleh jaringan tipis di antara paru-paru, disebut mediastinum. Meskipun masih ada perdebatan tentang posisi tidur terbaik, belum ada bukti bahwa tidur miring ke kanan meningkatkan risiko gagal jantung. Jika tidak menderita apnea tidur, tidur telentang juga bisa dipertimbangkan, meskipun dapat menimbulkan nyeri leher atau punggung.

Berikut beberapa tips tambahan, menurut CDC, untuk mendapatkan tidur yang berkualitas dan menyehatkan jantung:

  • Tetapkan jadwal tidur yang teratur; tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari.
  • Dapatkan cahaya matahari di pagi hari.
  • Lakukan aktivitas fisik yang cukup, namun hindari olahraga beberapa jam sebelum tidur.
  • Hindari cahaya ponsel atau komputer sebelum tidur.
  • Jangan makan dan minum beberapa jam sebelum tidur.
  • Pastikan kamar tidur tetap sejuk, gelap, dan tenang.

Berikut beberapa faktor risiko serangan jantung yang perlu diwaspadai:

  • Usia: risiko meningkat seiring bertambahnya usia, mulai sekitar 45 tahun.
  • Tekanan darah tinggi: dapat merusak arteri jantung seiring waktu.
  • Kolesterol tinggi: kadar LDL tinggi, yang dikenal sebagai kolesterol “jahat”, dapat menyempitkan arteri.

Dengan memahami penyebab, gejala, dan cara diagnosis serangan jantung saat tidur, serta menerapkan kebiasaan tidur yang sehat, seseorang dapat mengurangi risiko serangan jantung. Menjaga kualitas tidur dan memantau faktor risiko kardiovaskular menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan jantung, terutama bagi mereka yang sering mengalami gangguan tidur atau memiliki riwayat penyakit jantung keluarga.

serangan jantungtidurapnea tidurgejaladiagnosiskardiovaskular

Komentar

Memuat komentar...